Cinta di Hati Rima – Bagian 9

Oleh Irma Syarief

Seperti perkiraanku, Mama dan Papa ikut bersedih dengan apa yang terjadi. Kuceritakan semua pembicaraan dengan Bang Drey di telepon. Ada kesedihan di mata mereka.

Tidak! Aku tidak boleh menyalahkan mereka atas masalah ini. Memang sudah jalannya harus dilalui dengan kelapangan hati. Cara Allah menguji hamba-Nya, apakah bisa melalui dengan sabar atau sebaliknya.

Tiba-tiba Papa berdiri dan mengambil ponselnya. Dicarinya sebuah nomor kontak diantara nomor-nomor yang tersimpan. Papa mencoba menghubungi seseorang.

“Assalamualaikum, Pak Arifin! Ada waktu sebentar?”

Papa menghubungi Pak Arifin rupanya. Setelah terdengar jawaban dari seberang, Papa beranjak keluar menuju gazebo samping rumah. Entah apa yang mereka bicarakan. Sepertinya Papa berbicara mengenai aku dan Bang Drey.

Mama mengusap punggungku dengan lembut. Aku tahu, Mama sedang menenangkan hatiku walaupun hatinya sedih juga. Aku menunggu kabar dari Bang Drey. Pastinya dia bingung juga. Satu sisi kami sudah tahu isi hati masing-masing tapi satu sisi dia tidak ingin menyakiti hati Uminya.

Segera aku masuk ke kamar. Pintu dikunci. Segera badan letih ini kurebahkan sambil menerawang memandang langit-langit kamar. Kenangan yang pernah kulalui masih tergambar jelas. Ada yang sakit di dada ini.

Lantunan Alquran dari gawaiku terdengar syahdu dan menusuk kalbu. Sengaja kuputar agar bisa menenangkan jiwaku yang lemah. Tak akan kubiarkan bisikan setan mengusikku dan menguasai pikiran.

Allah, bantu aku! Aku butuh pertolongan-Mu! …

====

“Teh, ada tamu tuh nyariin Teh Rima! Gilang suruh duduk di ruang tamu ya,” tiba-tiba Gilang mengagetkanku yang sedang memasak.

“Mama mana, Aa? Teteh tanggung nih lagi masak,” kataku tanpa menoleh.

Sepi … tak ada jawaban dari Gilang. Mungkin dia langsung naik ke kamarnya atau keluar lagi lewat pintu samping dapur.

Terlanjur!

Aku lebih memilih menyelesaikan masakanku sebelum menemui tamu di depan sana. Toh dia udah ada di ruang tamu. Barangkali Mama sudah menemuinya.

“Eh, kata Gilang tamunya nungguin aku? Siapa ya? Rasanya hari ini aku tidak ada janji dengan siapapun,” pikirku. Aku memutar otak. Menerka.

Segera kuselesaikan memasak makanan untuk sore nanti. Jadi ketika Papa pulang dari Bandung kami bisa makan bersama. Malam nanti waktunya mengerjakan laporan keuangan kantor yang belum sempat diedit Sabtu kemarin.

Selesai sudah!

Peda tumis pete pedas, perkedel jagung dan sayur lodeh sudah selesai dimasak. Begitu juga sambal dan lalaban tinggal dicuci sebentar.

Beres, tinggal dipindahkan ke dalam piring khusus. Aku lebih suka menatanya dengan piring keramik yang lonjong dan sedikit cekung dibanding yang bulat. Terlihat cantik jika disajikan di atas meja makan.

Ketika mencari piring-piring di lemari kaca yang terletak di sudut dapur, ekor mataku menangkap bayangan seseorang di depan pintu dapur tengah menatapku. Diam dan memantung. Sosok itu sekilas tampak asing. Bukan Mama, Papa apalagi adik-adikku.

Aku tidak berani menatapnya penuh. Ada rasa takut yang mulai menjalar. Cemas juga khawatir. Kulapalkan doa dan juga surat-surat pendek. Perlahan, tanganku mulai mencari benda atau apa pun yang bisa kupakai untuk memukul jika tiba-tiba sesosok itu menyerangku. Sedikit paranoid juga, mengingat ada berita di kampung sebelah ada pencurian sekaligus pemukulan terhadap si pemilik rumah.

Satu lagi, kuraba kepalaku. Alhamdulillah, jilbab masih bertengger cantik di sana. Tadi memang belum kulepas sepulang dari warung di depan jalan sana. Lalu kuraba juga kancing tunik. Jangan sampai ada yang terbuka dan mengundang kesempatan jahat dari orang yang tengah menatapku.

Aku diam didepan kompor. Tidak ada keinginan membalikan badan. Bimbang.

“Mama, Gilang, Ammar! Kalian dimana? Duh, begini rasanya kalau di rumah sendiri tidak ada orang lain. Kalian tega ya! Kalau ada apa-apa sama Teteh, kalian pasti nyesel,” gerutuku dalam hati.

Bismillah … aku tidak ingin terjebak dengan keadaan yang tak pasti. Sambil memejamkan mata, kuberanikan berbalik. Biar jelas apa yang terlihat, namun tetap waspada. Ulekan batu sudah kupegang dan disembunyikan di belakang punggung.

Satu, dua, tiga …
Netraku terbuka.

Di sana ….
Seraut wajah tengah menatapku dan tersenyum. Aku lemas tak bertenaga.

🍁🍁

Tak perlu berjanji
untuk sehidup dan semati

Tetapi berjanjilah

Untuk tetap bertahan
sesulit apapun nanti
Untuk selalu ada di sisiku
dalam suka dan duka
Untuk menjadi tempatku mengadu
di kala lelah dan sepi

🍁🍁

-Bersambung-

rumahmediagrup/irmasyarief

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.