Bangkit dari Kenangan Tentangnya

Bangkit dari Kenangan Tentangnya

Dia, yang namanya takkan pernah bisa terhapus dari hidupku. Karenanya aku ada, karenanya pula aku tak pernah bisa merasakan kasih sayang dari sosok seorang lelaki, yang seharusnya menjadi cinta pertama dalam hidup anak perempuannya.

Dia, tak pernah hadir selama hidupku. Tak pernah menjadi sosok sebenar-benarnya seorang ayah. Dia masih ada, tapi tak nampak. Dia jauh, tak terjangkau. Dia pergi, tak mungkin kembali.

Aku terkadang merindukannya. Merindukan kasih sayangnya. Merindukan perhatiannya, meski kini usiaku sudah tak muda lagi. Namun sebagai seorang anak, sosok orang tua tetaplah menjadi pelabuhan terakhir saat ingin bersandar dari segala kepenatan hidup.

Tentu saja, itu tak berlaku bagiku. Sosok lelaki yang selama ini hanya menjadi bayang-bayang dalam setiap anganku, tak pernah hadir mengisi kekosongan jiwa yang sejak dulu kuinginkan segenap rasanya.

Semua itu hanya ilusi yang tak pernah bisa terwujud nyata. Impian yang mengabur bersama harapan yang kian sirna. Aku hanya bisa tergugu, tak tahu lagi apa yang harus kulakukan.

Tentangnya adalah sebuah mimpi terbesarku dulu, sejak aku bisa mengenal dunia, melihat bagaimana anak-anak lain memiliki ayah yang selalu menggendong, memeluk, memberikan segenap cinta dan perhatian untuk putrinya. Aku cemburu.

Duniaku terasa kelam saat kusadari, ia tak pernah datang, ia tak pernah hadir untuk memberikan tanggung jawabnya. Ia seakan lupa kalau aku ada. Aku marah.

Hidupku seakan sebuah kapal tanpa nahkoda, terseok-seok tak tentu arah dan tujuan. Beruntungnya selalu ada mama yang siap siaga memegang kendali agar kapal itu tak menabrak karang dan tenggelam.

Mama mengambil alih semua tanggung jawab untuk menghidupi sekaligus mendidik anaknya. Berat terasa beban yang aku dan mama tanggung selama ini. Hidup tanpa sosok lelaki yang seharusnya menjadi tumpuan segala harap dan cita.

Masa itu, masa di mana aku mau tidak mau harus siap menanggung hidup tanpa adanya ayah. Menjalani hari demi hari hanya dengan mama yang tangguh. Memaksa ingatanku untuk sedikit demi sedikit melupakan, jika lelaki bernama ayah itu tak pernah ada dalam hidupku.

Terasa kejam memang, tapi ia yang memaksaku seperti ini. Tak pernah ada usaha untuk bisa datang, meski hanya sekadar untuk menemuiku, mengatakan jika ia adalah ayahku. Aku terluka.

Sebegitu tak berartinyakah aku dalam hidupnya? Hingga ia begitu saja melupakanku? Mengasingkan diriku dalam kesehariannya? Tak pernahkah terlintas dalam benaknya jika aku merindukannya? Ataukah ia memang benar-benar tak peduli?

Selama bertahun-tahun rasa itu terus bergejolak dalam dadaku. Bercampur menjadi satu. Antara ingin melupakan, sedih, sakit, berharap, dan rindu berbaur berkecamuk tak menentu. Aku masih mengingatnya.

Setelah sekian purnama terlewati, pertemuan singkat itu terjadi. Aku sempat merasakan sosoknya hadir dalam hidupku. Meski tak bisa seutuhnya aku merasakan segenap kasih sayang dan perhatiannya, tapi setidaknya, ia pernah mengisi kenangan dalam memoriku.

Semua itu tak berlangsung lama. Ia kembali pergi, semakin jauh dari jangkauanku. Seakan tak terjamah, tak tergapai. Ia lebih memilih kehidupannya kini bersama pilihan hatinya. Aku harus merelakan.

Aku tak boleh lagi menyimpan rasa benci untuknya yang selama ini tertanam sekaligus dengan rasa rindu dalam hati. Aku harus bisa merelakan pilihan hidupnya. Toh kini aku sudah punya suami dan anak-anak yang luar biasa.

Allah itu Maha Adil. Meski aku tak pernah memiliki sebenar-benarnya seorang ayah, tapi Allah berikan aku sosok lelaki yang istimewa menjadi pendamping hidupku.

Aku harus bisa bangkit dari kenangan tentangnya. Walaupun tak banyak yang bisa kuingat mengenai dirinya, tapi ia pernah mengisi hatiku, dulu. Kini, harus kurelakan kenyataan, ia telah bersama pilihan hidupnya. Aku harus menghargai itu.

Aku harus bangkit dari kenangan-kenangan tentangnya yang menyakitkan. Aku harus ikhlas melepaskan kenangan itu, agar hidupku lebih tenang.

Hanya doa yang senantiasa kupanjatkan untuk kebahagiaannya. Hanya doa yang bisa kulangitkan agar aku bisa selalu ikhlas menerima takdir yang telah ditentukan Allah.

rumahmediagrup/bungamonintja

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.