Ibu Mertua (2)

Ibu Mertua (2)

Semua itu berawal dari pernikahan kami yang tak direstui. Aku yang berasal dari keluarga sederhana, ayahku seorang petani dan ibuku penjahit biasa, dianggapnya tak sederajat dengan Mas Dimas yang berasal dari keluarga berpendidikan.

Ayah Mas Dimas seorang kepala sekolah di sekolah negeri di kota tempat asalnya. Sementara ibu mertuaku, membuka usaha catering yang cukup terkenal. Kehidupan mereka cukup mapan kala itu, hingga bisa menguliahkan ketiga anaknya.

Itulah mengapa ibu menentang pernikahanku dan Mas Dimas pada awalnya. Bahkan sampai detik ini pun, aku merasa ibu belum bisa menerimaku sebagai menantunya. Tapi entah kenapa, ibu lebih memilih tinggal bersama kami dibanding dengan dua anaknya yang lain.

Aku senang ibu mertuaku bisa tinggal bersama kami. Karena itu akan menjadi jalan bagiku lebih dekat dengannya dan mengabdikan diri sebagai menantu yang baik. Namun sepertinya, ibu tak pernah bisa menghargaiku. Aku tak ada bedanya seperti pelayan yang harus siap sedia melayani segala keperluannya.

Terkadang aku merasa lelah harus menghadapi ibu mertua. Aku hanya manusia biasa yang memiliki batas kesabaran. Aku tak bisa selamanya diam dan menerima perlakuan tak mengenakan dari ibu mertuaku.

Permintaan Mas Dimas yang selalu menyuruhku untuk tetap bersabar menghadapi ibu, membuatku surut saat sesekali aku ingin melawannya. Salahkah aku bila ingin mengemukakan pendapatku kala ibu seperti biasa menuding dengan kata-katanya yang menyakitkan?

Aku tak pernah bermaksud untuk menentangnya. Aku hanya ingin ibu memahami jika apa yang selalu dituduhkannya padaku itu adalah salah. Tapi, lagi-lagi aku hanya bisa diam seribu bahasa, menangis dalam derai air mata tanpa suara. Berbalik menuju kamar dan menangis di bawah bantal.

Rasanya aku sudah tak tahan lagi dengan sikap dan perlakuan ibu mertua terhadapku. Ia semakin semena-mena memperlakukanku. Padahal selama ini aku sudah mengabdikan diri untuk melayani semua kebutuhannya.

Memprioritaskan kepentingannya di atas kepentingan suami dan anak-anakku. Tapi tetap saja, aku selalu tak pernah dianggap baik olehnya. Aku lelah, ingin menyerah. Tapi entah apa yang harus kulakukan.

Setiap mengadu pada Mas Dimas, ia hanya bisa mengeluarkan napas berat. Seperti sebuah beban yang tak tahu apa solusinya. Aku mengerti perasaannya. Harus berdiri diantar istri dan ibunya adalah pilihan sulit.

Mas Dimas termasuk anak yang berbakti, dan ia memahami jika seorang ibu adalah tanggung jawab anak lelakinya. Jika sudah begitu, diam merupakan jawabannya, dan aku hanya terkulai lemas menahan nyeri di dada.

Aku hanya bisa berdoa meminta kesabaran dan kekuatan yang lebih untuk menghadapi ibu mertuaku. Karena bagaimana pun, melawan atau pun menentang perkataan orang tua adalah dosa. Aku hanya mencoba untuk menutup telinga mendengar semua perkataan sinisnya.

Pagi itu, seperti biasa kami melakukan sarapan bersama. Ibu mertuaku tak ada di kursinya. Aku mencoba melihat ke kamarnya, dan tampak ia tengah terbaring di atas ranjang. Aku menghampirinya perlahan.

“Bu, ayo kita sarapan bersama,” kataku dengan lembut.

Tak ada jawaban. Ibu dengan posisi membelakangiku masih bergeming. Aku selangkah mendekatinya.

“Apa mau aku bawakan sarapannya ke kamar, Bu?” tanyaku lagi masih dengan nada yang sama.

“Ya, bawakan saja sarapannya kemari.”

Aku menghela napas, berbalik untuk kembali membawakan sarapan ibu.

Saat kembali ke kamar, ibu sudah terduduk di atas tempat tidurnya. Aku segera meletakkan nampan berisi sarapan ibu di atas nakas.

Aku menyerahkan sepiring lontong sayur kesukaan ibu. Ia mengambil piring itu dengan kasar.

“Apa ini? Kau memberikan makan ini untukku?” tanya ibu heran.

Aku lebih heran lagi, bukankah setiap pagi ibu selalu ingin dibuatkan lontong sayur? Bahkan jika aku membuatkan bubur atau nasi kuning, ia tak pernah mau makan. Tapi kenapa sekarang ibu merasa keberatan aku memberikan sarapannya lontong sayur?

“Bukankah Ibu selalu menginginkan sarapan dengan lontong sayur?”

Mata ibu tampak terbelalak. Terlihat kemarahan terpancar di kedua netra itu.

“Aku tak mau sarapan dengan lontong sayur. Ganti menunya dengan pepes ikan mas,” katanya tanpa beban.

“Kalau Ibu ingin sarapan dengan pepes ikan mas, aku harus membeli dulu ikannya ke pasar, belum nanti dimasak terlebih dulu. Akan memakan waktu lama, Bu. Sementara Ibu sarapan dulu dengan lontong sayur ya, agar Ibu bisa segera minum obat,” kataku mencoba bersabar.

“Kau mengaturku?”

“Bukan begitu, Bu. Aku akan membuatkan Ibu pepes ikan mas, tapi sebelum itu dimasak, lebih baik Ibu sarapan dulu dengan lontong sayur supaya Ibu bisa minum obatnya.”

“Aku tidak mau. Jangan mengaturku. Aku tak akan minum obat sebelum sarapan dengan pepes ikan mas.”

Aku kembali menghela napas berat. Sungguh kesabaran lebih harus kumiliki untuk menghadapi ibu mertuaku.

“Baiklah, aku akan membuatkan Ibu pepes ikan mas sekarang.”

Aku melengos pergi meninggalkan ibu.

Padahal aku belum selesai menemani Mas Dimas dan anak-anak sarapan. Dengan tergesa segera kusuapi sisa lontong sayur yang ada di mangkuk anak-anak.

“Kenapa tergesa-gesa begitu menyuapi anak-anak, Dek?” tanya Mas Dimas dengan tatapan heran.

“Ibu ingin dibuatkan sarapan pepes ikan mas,” jawabku singkat.

“Ibu tidak mau memakan lontong sayur?”

“Tidak.”

“Kan Ibu harus minum obat, kalau telat nanti sakit lagi.”

“Ibu tidak akan minum obat bila tidak sarapan dengan pepes ikan mas.”

“Kau mau ke pasar?”

“Aku coba dulu di warungnya Mba Marni, siapa tahu masih ada ikan mas di sana.”

“Sabar ya, Dek.”

Hanya kata itu yang meluncur dari mulut suamiku. Aku hanya mengembuskan napas kasar.

Setelah Mas Dimas pamit berangkat ke sekolah, aku pun menyusul untuk pergi ke warung Mba Marni dengan si kecil dalam gendongan dan kakaknya mengekor dari belakang.

**

Bersambung…

rumahmediagrup/bungamonintja

4 comments

    1. Ini bukan kisah tentang saya, ini hanya fiksi. Alhamdulillah, ibu mertua saya luar biasa baik, pengertian dan sangat menyayangi satu2nya menantu perempuannya.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.