PERJUANGAN GURU, MULIA KARENA KARYA

            Berkarya memang tak melulu dalam hal mengikuti kompetisi. Berkarya juga melalui peningkatan kualitas kompetensi GTK yang ditunjukkan melalui 4 kompetensi yaitu 1. kompetensi pedagogic, 2. Kompetensi professional, 3. Kompetensi kepribadian, 4. Kompetensi social.

            Salah satu indikator kualitas guru yang banyak diperbincangkan adalah kompetensi guru dari sudut pandang penilaian ujian kompetensi guru (UKG). Rata-rata UKG secara nasional Tahun 2015 adalah 53,02, sedangkan pemerintah menargetkan rata-rata nilai di angka 55. Selain itu, rata-rata nilai untuk kompetensi profesional adalah 54,77, sedangkan nilai rata-rata untuk kompetensi pendagogik hanya 48,94. (okezone.com, 2015). Rendahnya hasil UKG guru sedikit banyak telah memberikan gambaran kualitas guru di Indonesia saat ini. Apalagi dengan mencermati hasil ujian kompetensi guru, fenomena gunung es yang selama ini eksis dalam dunia pendidikan Indonesia semakin terkuak. Walaupun penilaian kualitas guru ataupun pemetaan guru tidak dapat disandarkan hanya pada nilai UKG semata, namun data dan informasi ini perlu mendapat perhatian yang serius.

            Diantara berbagai permasalahan tentang GTK Indonesia, ada satu tantangan bagi pendidikan kita yaitu menghadapi era MEA.  MEA merupakan kesepakatan kerjasama antara Negara di Asia Tenggara yang meliputi kerjasama berbagai bidang seperti ekonomi, politik, sosial dan budaya. Bukan hanya untuk perdagangan barang namun juga pasar tenaga kerja.

Tenaga kerja akan semakin punya peluang untuk bisa saling mengisi antar negara-negara ASEAN. Peluang kerja akan semakin luas namun juga kompetisi akan semakin ketat. Pergerakan tenaga kerja akan terjadi pada banyak bidang termasuk pendidikan. Jadi, GTK di Indonesia dapat mengajar tidak hanya di Indonesia tetapi juga di berbagai negara yang tergabung dalam kerjasama ASEAN. Begitupun GTK dari berbagai negara ASEAN bisa datang ke Indonesia dan merebut pasar tenaga kerja yang ada. Ini artinya akan ada peluang sekaligus juga tantangan.

Bagaimana menjawab tantangan ini ? sebenarnya hal ini sudah diantisipasi oleh pemerintah kita melalui Undang-undang No. 14 tahun 2005 menyatakan bahwa guru profesional harus memiliki kualifikasi akademik minimal S1 atau D-IV dan memiliki  empat  standar  kompetensi  yakni kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian dan kompetensi social (pasal 10). Keempat kompetensi tersebut kemudian dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan sebagaimana yang tertuang dalam pasal 28 dan penjelasannya  sebagai  berikut: 

kompetensi pedagogik  adalah  kemampuan  mengelola pembelajaran  peserta  didik  yang  meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanakan pembelajaran, evaluasi hasil belajar dan  pengembangan  peserta  didik  untuk mengaktualisasikan  berbagai  potensi  yang dimilikinya.

 Kompetensi  kepribadian  adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia.

Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan guru untuk membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Pendidikan Nasional. Sedangkan kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik sebagai  bagian  dari  masyarakat  untuk berkomunikasi, bergaul dan berinteraksi secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar.

 GTK Indonesia selain harus makin unggul dalam meningkatkan 4 kompetisi diatas, GTK juga harus mampu menjadi guru bercitarasa ASEAN, artinya guru profesional Indonesia yang mampu bersaing dengan guru-guru Negara ASEAN lainnya, baik di Indonesia maupun di negara-negara ASEAN lainnya. Walaupun sampai saat ini belum ada sertifikasi guru profesional untuk ASEAN namun sudah ada usaha-usaha mengantisipasi arus tenaga kerja guru profesional di seluruh kawasan ASEAN. Sebagaimana amanat dalam ASEAN Economic Community Blueprint (2008) tentang adanya standarisasi dan sertifikasi terhadap tenaga-tenaga profesional dalam rangka menciptakan mobilisasi arus tenaga kerja terlatih di kawasan ASEAN maka para Menteri Pendidikan yang tergabung dalam Organisasi Menteri Pendidikan ASEAN (SEAMEO) telah mencoba mengidentifikasi standar kompetensi pengajaran di negara-negara Asia Tenggara melalui suatu audit terhadap sebelas negara. Dari survai terhadap beberapa negara tersebut diketahui bahwa setidak-tidaknya ada empat keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru profesional di kawasan  ASEAN  yakni:  1)  Keterampilan-keterampilan  pedagogis,  2)  keterampilan-keterampilan asesmen siswa, 3) keterampilan-keterampilan pengelolaan kelas, dan 4) keterampilan pengembangan profesional             Dalam proses menuju GTK bercitarasa ASEAN ini, wajib ada upaya pembenahan kualitas GTK minimal harus lebih memahami 4 kompetensi guru tersebut. Namun, setidaknya ada sebuah harapan besar dengan diusungnya tema HGN 2016 : GTK MULIA KARENA KARYA, minimal adalah GTK Indonesia bisa menjadi GTK professional yang diharapkan bercitarasa ASEAN sehingga mampu bersaing dan tidak menjadi kuli atau tamu di negaranya sendiri. Hidup GTK Indonesia !

rumahmedia/nurfitriagustin

sumber gambar pexels

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.