Semoga Kau Mampu Bangkit

Semoga Kau Mampu Bangkit

Tulisan ini adalah kisah nyata dengan modifikasi setting dan tokoh. Bukan bermaksud mengumbar aib karena hanya inti cerita yang diungkapkan. Semoga memberikan manfaat bagi pembaca setia Rumah Media.

Aku adalah seorang guru sekolah dasar. Saat itu mengajar kelas satu. Posisiku sangat dekat dengan para siswa begitu pula orang tua dan wali murid.

Hari itu, aku baru selesai mengajar. Waktu menunjukkan pukul 11. Ini sekolah negeri di mana anak-anak kelas bawah sudah diperbolehkan pulang namun gurunya harus sesuai jam kerja. Mereka tinggal tidak jauh dari sekolah. Lokasi sekolah berada di tengah perumahan KPR, sebut saja Perumahan Pondok Bahagia.

“Assalamualaikum, Bu?” salam pak Udin kepadaku.

“Waalaikumsalam, Pak. Silakan masuk,” sapaku, “Kalau enggak salah, Bapak orangtuanya Siti, ya?” tanyaku.

“Betul, Bu Ina. Maaf mengganggu,” lanjutnya.

“Tidak, Pak. Kebetulan anak-anak sudah pulang. Siti sudah sampai rumah, Pak?” tanyaku.

“Alhamdulillah sudah, Bu,” jawabnya.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanyaku lagi.

“Saya mau memindahkan Siti ke Karawang, Bu,” ungkapnya, “Kebetulan ini minggu terakhir sekolah, ya. Siti naik kelas kan, Bu?” tanyanya.

“Alhamdulillah Siti naik kelas, ” jawabku, “Mengapa pindah, Pak?” tanyaku kaget.

“Ceritanya panjang, Bu.” Ia memulai ceritanya. Aku bersedia mendengarkan dengan seksama. Sungguh berat beban kejiwaan yang ditanggungnya terutama demi anaknya, Siti. Kulihat matanya mulai basah. Aku pun tak terasa menetes air mata. Kuberikan tisu yang kebetulan ada di atas mejaku.

Aku segera membantu segala keperluan untuk mutasi anaknya, Siti. Bersyukur saat itu semuanya beres dikerjakan. Hari itu pak Udin cuti kerja untuk menyempatkan dirinya mengurus mutasi anaknya.

Aku termenung mengenang saat pertama bertemu kedua orang tua Siti. Saat itu mereka mengantarkan Siti di hari pertama masuk sekolah. Mereka juga baru datang dari daerah Boyolali, kampung halaman ibunya Siti. Pak Udin diterima kerja di perusahaan terkenal di Jakarta sehingga mereka pindah ke pinggiran ibu kota.

Aku masih ingat saat-saat ibunya Siti yang selalu datang ke sekolah berpakaian gamis dengan jilbab lebar. Menurutku, mereka keluarga kecil yang bahagia dengan satu anak. Secara materi terlihat cukup mewah, mereka memiliki rumah, mobil, penghasilan dari perusahaan bagus.

Sebuah kejadian mengejutkan saat ibunya Siti datang ke sekolah dengan berpakain sangat ketat luar biasa, tampak jelas sekali lekuk tubuhnya. Dandanannya pun tak kalah mengagetkanku, dengan make up tebal. Lebih mengagetkanku, gaya bicaranya seperti tidak biasanya, bahkan ia sangat berani menyentuh seorang guru pria, pak Emon dengan perilaku manja.

Ternyata hari ini adalah klimaks dari semuanya. Sudah seminggu, ia meninggalkan rumah. Ia pergi bersama teman dunia mayanya ke Daerah Bogor. Dengan terus terang kepada suaminya bahwa ia meminta cerai melalui rekaman video.

Apa yang terjadi pada keluarga pak Udin adalah urusan mereka. Aku tidak bisa menyalahkan pak Udin maupun isterinya. Segala kejadian ada latar belakangnya. Hal terpenting yang menjadi perhatian adalah anaknya, yaitu Siti. Ia akan tinggal bersama neneknya di Karawang, semoga menjadi solusi terbaik baginya. Semoga kau mampu bangkit dari peristiwa ini.

Ini pelajaran hidup bagiku. Bahwa dunia ini berputar. Kita harus istikamah kepada tujuan hidup. Allah Swt dan teladan Nabi Muhammad Saw menjadi pedoman hidup. Kita juga harus percaya pada takdir dari Allah Swt bahwa apa yang kita terima adalah dari apa yang telah kita perbuat. Semoga kau mampu bangkit.

“Kamu benar-benar akan diuji pada hartamu dan dirimu.” (Ali ‘Imran: 186).

Sumber gambar: http://www.google.com

Rumahmediagrup/saifulamri

One comment

  1. Sungguh kisah ini dapat menjadi kacabenggala bagi orang yang mau berfikir dan menjadi contoh bagi orang yang berakal, bekali hidup dengan bermodalkan iman dan kelola modal kita dengan amal sholih, niscaya kita akan mendapat keuntungan hidup yang barokah

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.