Asyik di Rumah Saja

Kalau libur hari Ahad, pagi-pagi itu pasti nginem istilah bersih-bersih dan beres-beres rumah. Semua dicuci, hingga numpuk dalam mesin. Saking banyaknya, pernah beberapa kali putaran mesin saat mencuci pakaian. Bisa dibayangkan sehari akan numpuk pakaian kotor di rumah ada 3 orang dewasa dan 2 anak kecil. 

Apalagi Ummi, cepat gerah bawaannya. Saat mau sholat, selalu mandi terlebih dulu, lalu salin pakaian. Katanya masih gatal kalau abis mandi tak salin baju yang bersih. “Sama saja bohong mandi juga”, ucapnya.

Nah, pagi nan cerah Ahad ini ada hal lucu yang kami alami. Selama di rumah ini, kami mencuci pakaian siapa saja yang merasa kosong. Kadang suami, kadang aku, kadang Ummi. Malahan pernah pakaian itu dipegang semua sewaktu dicuci.

Pertama yang mencuci suami, lalu aku dapat giliran proses pengeringan. Eh di saat mau dijemur, Ummi pasti ikutan juga menjemur. Akhirnya pekerjaan berat pun terasa ringan jika dikerjakan bersama-sama. Bila bisa berkata, sang Baju pasti mengatakan. “Duhai, aku dipegang semua orang. Semua sayang padaku.” ha-ha-ha.

Tidak ada paksaan siapa saja yang mencuci. Jika merasa kosong dan mau mencuci tidak masalah, toh yang bergerak adalah mesin. Namun biasanya suami sih yang mencuci, tak ada salahnya kan seorang suami membantu istrinya?

Kembali lagi, kalau hari Ahad pekan lalu ada kejadian yang lucu, bagiku dan keluarga. Entah bagi kamu dan kalian, entah lucu atau tidak, tak apa.

Hari ini pun sama, kembali lagi dengan perihal mencuci. Hehehe … Kayak enggak ada pembahasan saja. Mencuci terus yang dibahas. Kerjaan biasa itu mah. Memang kami membiasakan mencuci tiap hari.

Saat proses pencucian dimulai. Sudah biasa suami yang mencuci. Eh tiba-tiba proses mencuci disambi dengan mengerjakan hal yang lain. Tumben iseng-iseng ia mengebor besi flat, enggak tahu mau membuat apa.

Proses mencuci pun berlangsung tanpa ditunggu. Aku memasak, persiapan untuk sarapan. Aku tak perhatikan mencuci pakaian sudah tahap apa. Ah biarkan saja ada suami pikirku. Aku tak berani mengotak atik pekerjaan suami. Kecuali sudah diinformasikan sampai tahap apa.

Biasanya, kalau sudah tahap pengeringan nanti juga bilang. Pikirku begitu. Tiba-tiba Ummi masuk kamar mandi, tanpa diperiksa mesin cuci itu, diputarlah arah pembuangan air. Oh ini mesin sudah berhenti, berarti saatnya dibuang deh airnya. Pikir Ummi lalu pergi ke kamarnya.

Aku tak memerhatikan apa yang dilakukan Ummi. Aku asyik saja dengan persiapan sarapan. Tak lama kemudian suami yang merasa sudah selesai dengan pekerjaannya. Lalu ditengok mesin cuci itu. Loh, kok airnya kosong? Padahal tadi sudah penuh, mau dibilas, sudah dikasih pewangi juga. Tidak berpikir panjang suami langsung menyalakan ulang keran untuk mengisi air  kembali sambil diisi pewangi.

Enggak basa-basi apa-apa, suami pergi lagi keluar kamar mandi langsung ke garasi melanjutkan pekerjaannya. Eh Ummi tanpa tanya masuk kamar mandi. “Lah ini air enggak habis-habis ya, dari tadi dibuang. Penuh lagi, penuh lagi” ucap Ummi sendiri dalam kamar Mandi.

Lalu Ummi kembali membuka pembuangan mesin cuci, dibuang lagi air itu dan berlalu. Aku masih sibuk dengan pekerjaan masak memasak di dapur. Biarlah nanti juga beres cucian sama suami, gumamku.

“Loh Bun, ini air kok kosong lagi?” Tanya suami heran. “Enggak paham Mas, mungkin rusak kali mesinnya, jadi ngocor terus airnya.” Jawabku tak begitu peduli.

“Memang kenapa?” Teriak Ummi dari kamarnya sambil mendekat. “Ini air Kok keluar terus ya?” Tandas suami. “Aih, memangnya kenapa? Bukannya sudah selesai mencuci tinggal dimasukkan pewangi? Tadi Ummi lihat mesin cuci sudah berhenti, jadi Ummi keluarkan air sabun.” Cerita Ummi menjelaskan.

“Ya ampun Ummi, proses mencuci sudah. Tinggal dibilas pakai pewangi, pantas aja airnya kosong terus. Berarti air dan pewangi itu dibuang ya? bukan karena bocor?” Tanya ulang suami.

“Enggak bocor, memang sengaja dibuang. Ummi kira belum diberi pewangi, Ummi kira masih mencuci, terus mesin juga berhenti ya. Ummi kira belum dibilas.” Ummi menjelaskan dengan wajah datar dilanjut dengan senyum terbuka. Terlihat gigi putih tersusun rapi dan masih lengkap.

“Aduh, Ummi. Itu air bilasan pewangi. Bukan air sabun. Ya sudah enggak apa-apa. Lain kali tak perlu dikerjakan ya. Biarkan kami yang mengerjakan.” Jelasku.

Kini giliranku untuk mengeringkan, sudahlah tak perlu diberi pewangi lagi. Ini juga sudah wangi. Lirihku.

Ketidaktahuan sebuah proses bisa mengakibatkan hal lucu terjadi. Bisa jadi hal berbahaya pun bisa terjadi. Untuk itu perlunya komunikasi. Hal baik, tanpa dikomunikasikan juga akan menjadi hal tidak baik. Namun masih tetap asyik. Asyiknya di rumah saja.

Itulah bukti kepedulian orang tua terhadap anaknya. Tahu saat kondisi anak-anak repot seorang Ibu membantu tanpa pandang bulu, seorang ibu tak pernah memperlihatkan jasanya.

Marilah teman kita ambil ibroh atau pelajaran dari kisah ini. Semoga bermanfaat, setidaknya jadikan cerita sebelum tidur.

Wallahu A’lam Bishowab

Gambar diambil dari galeri Rumedia. Biar enggak cepat penuh.

rumahmediagrup/suratmisupriyadi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.