Bangkitlah, Kita Pulang!

Bangkitlah, Kita Pulang!

Aku memandang ke luar kaca jendela yang sedikit buram. Hujan baru saja berhenti. Hamparan sawah hijau yang terlewati tak mampu menyegarkan mata sembabku. Pikiranku mengembara. Sungguh, meskipun pernah membayangkan hal seperti ini akan terjadi, namun tetap saja aku tak mampu menahan rasa sedihku.

“Waktu kematian pukul 15.40 WIB!” teriak seorang lelaki berjas putih.

Di belakangnya aku terpaku, berharap salah mendengar. Beberapa meter di depanku beberapa petugas medis tengah melepas selang-selang yang terpasang pada tubuh seseorang. Pelan aku mendekat, memastikan tubuh itu bukan orang yang kusayang. Tapi tidak, wajah itu … aku mengenalinya meski sedikit pucat.

“’Hah, serius mau naik Gunung Agung?” tanyaku. Di depanku wanita beranak dua itu tesenyum.

‘’Iya, dong, sudah sampai Bali masa nggak ke Gunung Agung?”

Dan akhirnya, kami pun mendaki Gunung Agung malamnya.

Kenangan pendakian berapa tahun lalu itu berkelebatan dalam benakku, tentang seorang wanita pemberani, tegar, dan ceria. Wanita itu kakakku.

Tapi kini, tubuh itu terbujur kaku di depanku. Sembilan bulan ia terbaring tak berdaya. Keceriaan telah hilang dari wajahnya.

Aku tercekat tak mampu berkata. Tubuhku bergetar. Wajah itu menyiratkan rasa sakit yang teramat sangat. Malaikat Maut baru saja menjemputnya. Aku hanya mampu menatapnya. Aku telat. Akhirnya, perjuangan kakakku telah mencapai puncaknya.

***

“Nggak usah pikirkan anak-anakmu, mereka baik-baik saja, yang penting kamu semangat untuk sembuh,” hiburku  saat aku mengunjunginya di ruangan HCU pada suatu waktu saat mendapat izin tertanggung dari kantorku.

Apalagi yang bisa kukatakan?

Kata dokter kakakku menunggu hari baik untuk ‘pulang’. Selang-selang dan obat-obatan yang dimasukkan ke dalam tubuh kakakku hanya untuk memperpanjang usianya. Semua kami usahakan untuk kesembuhannya. Keajaiban dari-Nya pun kami harapkan.

Menurut seorang kawan yang merupakan petugas media, akan ada keajaiban pada seseorang yang sedang koma. Pada titik tertentu dia akan sadar. Dan, kakakku tersadar di depanku sesaat setelah koma selama 2 bulan. Tak ada suara yang bisa kudengar darinya. Mulutnya pelan bergerak untuk mengucapkan sepatah dua patah kata, namun tak ada suara yang bisa keluar. Satu per satu tubuhnya unfall. Momen emas itu hanya berlangsung sekejap, kemudian kakakku tertidur panjang hingga tak bangkit lagi.

“Aku pengen pulang ….’’ Sebuah keinginan terucap dua bulan sebelum kakakku koma setelah sebuah kecelakaan tragis mengambil kebahagiaan kami semua.

“Iya, keluar dari sini kita pulang ke rumah kecil kita. Di sana banyak yang akan merawat dan menjagamu, Kak.”

Dan, aku tak pernah menduganya kalau kedatanganku ke kotanya adalah untuk menjemputnya pulang, bukan pulang ke rumah ibu, tapi pulang ke rumah keabadian. Ya, kakakku tak akan pernah bangkit lagi. Allah lebih sayang padanya. Kami ikhlas, yang terjadi adalah yang terbaik baginya.

Dan, di dalam mobil pengantar jenazah, air mataku menganak sungai.

November 2014

Allahumaghfir lahaa warhamhaa wa’aafihaa wa’fu anhaa.

#Dari seorang adik yang merindui satu-satunya kakak perempuan yang dia punya.

***

rumahmediagrup//windadamayantirengganis

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.