Bangkitlah, Rey!

Bangkitlah, Rey!

Kutatap tajam sosok yang duduk tertunduk di hadapanku. Hening. Hanya tik-tak jam dinding yang terdengar di sela keheningan. Sengaja aku panggil dia saat mau mengurus persyaratan melanjutkan ke SLTA. Semalam aku mendapat informasi dari temannya mengenai kelakuan Reyna belakangan ini.

Saat kutanyakan tentang kebenaran kabar itu, Reyna terlihat salah tingkah.

“Bicaralah, Rey! Jujurlah pada ibu,” kurendahkan suaraku. Kuraih tangannya. Dingin dan gemetar. “Ibu tahu, kamu bukanlah anak seperti itu, Rey. Kalaupun benar kamu melakukan itu, ibu yakin ada yang mendorongmu melakukannya.” Kurasakan tanggannya makin gemetar. Anak itu mulai terisak.

Hening kembali. Isak Reyna sesekali terdengar ditimpali tik-tak jam dinding. Aku berpikir keras mencari kata-kata untuk bisa membuat anak muridku itu bicara.

“Rey, selama ibu menjadi wali kelasmu, baru kali ini ibu menerima kabar tidak baik tentangmu.” Meskipun kamu telah lulus,  ibu merasa masih berkewajiban membantu menyelesaikan masalahmu.” Kuhela napas yang tiba-tiba terasa berat. “Makanya, coba beri tahu ibu apa yang sebenarnya terjadi! Apa pula yang mendorongmu melakukan perbuatan tidak terpuji itu?”

 Isaknya makin kencang. Aku biarkan anak itu menangis sepuasnya. Mungkin setelah itu,  ia akan buka suara.

 “Ayolah Rey … ! Bagaimana ibu bisa tahu apa masalahmu jika kamu tidak berterus terang.” Aku nyaris putus asa untuk bisa membuatnya bicara. Dia masih saja bungkam. Senyap sekejap. “Baiklah Rey, jika kamu terus bungkam. ibu akan telepon orang tuamu. Barangkali saja orang tuamu bisa memberi tahu ibu,” lanjutku setengah mengancam.

“Ja … jangan, Bu!” Tergagap Reyna melarangku. Wajahnya tengadah. Dengan matanya yang sembab dia menatapku penuh harap.

“Mengapa Rey? Kamu takut jika orang tuamu tahu kelakuanmu itu?” Aku menatap tajam wajahnya yang masih tengadah.

Ia mengangguk pelan. Lalu menunduk.

“Baiklah, kalau begitu, jujurlah pada ibu!  Apa yang membuatmu melakukan itu, Rey?” tanyaku pelan.

“Reyna bingung, Bu.” Reyna menatapku. Aku merespon dengan isyarat mata agar ia melanjutkan bicara. “Akhir-akhir ini, Rey merasa sangat gelisah.” Menghela napas, berat. “Kadang hati Rey dipenuhi kemarahan. Rasanya ingin kumaki semua orang. Ingin kubanting semua barang.”

Hening.

“Lanjutkan Rey! Ibu siap mendengarkanmu,” bujukku.

“Ada kalanya pula Rey merasakan hati Rey teramat pedih. Sakit sekali, Bu. Rasanya, Rey ingin menangis sejadi-jadinya. Ingin rasanya menjerit sekuat-kuatnya, tapi Rey tak bisa. Nyesek Bu. Dada Rey seperti mau meledak,” keluhnya.

Hening lagi.

“Apa penyebabnya, Rey?”

“Entahlah, Bu. Rey juga tidak paham apa penyebabnya.” Menunduk. “Rey lelah, Bu,” keluhnya kemudian.

“Yang membuatmu lelah?” Tanyaku lagi.

Wajah Reyna kembali redup. Dia makin menunduk, menyembunyikan wajahnya. Menyembunyikan bulir-bulir bening yang memaksa keluar dari sudut-sudut matanya. Lalu jatuh menitik di punggung tangan yang ia tumpangkan di atas paha.

“Baiklah Rey, kamu mau bebanmu jadi ringan, kan?” Kuraih lagi tangannya. Ia mengangguk. “Kalau begitu, bicaralah! Ibu akan mendengarkanmu.”

Untuk kesekian kalinya Reyna terlihat menarik napas panjang. Dihembuskannya perlahan seolah ingin mengeluarkan semua beban yang menghimpit dadanya.

“Apa yang kamu kerjakan di rumah selain belajar daring, Rey?” Kuajukan pertanyaan pancingan. Kuharap Reyna mau bercerita banyak tentang kehidupannya.

“Pagi-pagi, Rey membantu ibu menyiapkan sarapan dan membersihkan rumah,” jawabnya pelan. “Selain itu, Rey juga bantu ibu mengurus adik,  mencuci, menyetrika, atau mengantarkan baju yang sudah diseterika ke pemiliknya,” lanjutnya.

“Ibumu kerja sebagai … ,” tak kulanjutkan pertanyaanku. Ada rasa khawatir jika Reyna merasa malu atau tersinggung.

“Iya, Bu. Ibu Reyna kerja sebagai buruh cuci. Kadang jika ada tetangga yang meminta bantuan ibu untuk mengerjakan ini itu, ibu kerjakan juga.”  Suaranya terdengar parau.

“Ceritakan tentang adikmu, Rey!” Pintaku. Kulihat sekilas wajah Reyna kembali redup.

“Usianya sepuluh tahun, Bu. Dia anak yang manis. Aku sangat menyayanginya. Sayangnya, hampir tiga bulan ini dia terbaring di tempat tidur. Dia sakit, Buuu,” pecahlah tangisnya. Pilu hatiku menyaksikan itu. Tangis Reyna begitu menyayat hatiku.

“Ibu turut prihatin Rey.” Ada rasa perih yang menjalar dari dadaku lalu naik melalui kerongkongan menuju mata. Ada yang hangat terasa di mataku. Segera kuseka agar tidak terlihat Reyna.

“Semua itukah yang membuatmu lelah, Rey,”

“Entahlah Bu. Reyna berusaha ikhlas menjalani semua itu. Reyna juga berusaha untuk tegar. Tapi … “ ia seka air mata yang kembali membasahi pipinya. Sambil terisak ia lanjutkan kalimatnya. “Kemarin Reyna betul-bentul khilaf Bu. Reyna ingin lari dari semua itu. Reyna mohon maaf, Bu!” Ia tangkupkan kedua telapak tangannya. Ia menatapku dengan matanya yang basah.

“Lalu kamu gabung dengan mereka?” Reyna mengangguk. “Sekarang ibu paham Rey. Mengapa kamu melakukan hal itu. Ibu janji. Ibu tidak akan memberi tahu ibumu. Tapi, kamu juga harus janji pada ibu,” kutatap wajah sendu di hadapanku. “Kamu harus janji tidak akan mengulangi hal buruk itu lagi. Dan … tidak lagi menjalin hubungan dengan anak-anak itu,” kutatap matanya yang sembab. Ingin tahu bagaimana reaksinya setelah mendengar itu.

“Baiklah Bu. Reyna janji,” jawabnya sambil menunduk.

“Janjinya sambil tatap mata ibu, Rey!” pintaku”

“Baiklah, Bu. Reyna janji  tidak akan mengulangi itu lagi. Reyna janji akan menjadi anak yang baik,” katanya sambil menatapku.

Aku melihat kesungguhan dari matanya.

“Tapi Ibu janji tidak akan memberi tahu ibu Reyna kan? Kasihan ibu. Pasti akan sedih jika tahu Reyna melakukan itu,” pintanya. Aku menjawab dengan mengangguk dan isyarat mata agar ia tidak perlu khawatir.

Aku merasa berdosa pada Reyna. Aku tahu Reyna yatim sejak kelas enam. Sekarang dia baru saja lulus SMP. Selama kurang lebih tiga tahun itu, adakah yang memperhatikan kehidupannya? Adakah yang peduli dengan masalahnya? Selama ini, aku menganggap Reyna baik-baik saja.

Reyna yang sekuat tenaga berjuang agar tetap tegar dan ikhlas menghadapi hidup dan memendam sendiri dukanya, akhirnya putus asa. Apalagi sejak  merebaknya kasus corona dan siswa belajar dari rumah. Kami hanya berkomunikasi melalui WhatsApp grup kelas.  Saat itu, siapa yang tahu jika ia perlu tangan untuk berpegangan? Siapa pula yang peduli dan mengajaknya bicara sekadar untuk menguatkan? Ibunya? Beban hidupnya begitu berat. Seorang janda dengan kerja serabutan, harus menghidupi kedua anak perempuannya. Satu di antaranya sakit dan terpaksa harus terus terbaring di atas tempat tidur karena tidak mampu berobat.

Di tengah keputusasaannya, Reyna bertemu dengan anak-anak brandalan itu. Dari mereka, Reyna mendapatkan janji kebebasan dan hidup tanpa beban. Reyna mengikuti mereka, tiap sore, mereka ngompreng menuju pusat kota lalu mengamen di lampu merah. Mereka sama sekali tidak terpengaruh oleh gencarnya program pemerintah untuk memutus rantai penyebaran covid-19.

Cerita Reyna membuatku miris. Uang yang mereka dapatkan dari mengamen, mereka belikan obat-obatan. Meskipun tidak termasuk obat-obatan terlarang, tapi mereka mengonsumsi obat-obatan yang dijual bebas di warung itu dengan dosis  jauh melampaui yang semestinya. Selain itu, hal yang membuatku ketar-ketir ialah mengenai bebasnya pergaulan di antara mereka. Untunglah Reyna selamat. Kehormatannya masih terjaga.

 “Setelah ini kamu mau ke mana, Rey?” tanyaku kemudian.

“Setelah selesai mengurus persyaratan untuk melanjutkan, Rey mau langsung pulang, Bu,” jawabnya.

“Baiklah, kalau begitu. Ibu kira pembicaraan kita kali ini sudah cukup, Ray. Silakan selesaikan urusanmu!” Aku menutup obrolan lalu mempersilakan Reyna untuk melanjutkan urusannya.

Reyna segera bangkit. Setelah menyalamiku, dia bernjak menuju pintu.

“Oh ya, Rey!” aku memanggilnya. Reyna yang berada di ambang pintu menghentikan langkahnya, menoleh ke arahku. “Sekarang kamu tidak sendirian. Ibu siap membantumu semampu ibu. Bangkitlah, Rey! Songsong masa depanmu dengan penuh semangat!” Aku menyemangatinya.

“Terima kasih, Bu,” katanya pelan, nyaris tak terdengar. Dia menangkupkan kedua tangan di depan dadanya dengan sedikit membungkuk seperti memberi hormat. Sekilas dia menatapku. Membalas senyumku. Sejurus kemudian dia  membalikkan badannya, meninggalkanku yang terpaku menatap punggungnya hingga menghilang di balik pintu. ***

#WCR_ditentukan_cerpensinur

rumahmediagrup/sinur

2 comments

    1. Terima kasih banyak telah berkenan singgah mengapresiasi.
      Saya masih belajar nulis. Mohon masukannya, ya!
      🙏🙏🙏

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.