Ilustrasi Cerbung Aki dan Ambu

Aki dan Ambu – Bagian 11 (Mencari Solusi)

Aki dan Ambu – Bagian 11 (Mencari Solusi)

Sore itu Mang Kardin bertandang ke rumah Aki. Kedatangannya bukan semata untuk mengobrol bersama Aki sambil menikmati suasana sore itu. Mang Kardin sengaja menemui Aki karena ada yang ingin dia sampaikan.

“Lama kita tidak mengobrol seperti ini ya, Mang,” Aki membuka obrolan.

“Iya, Ki. Sekarang sudah musim tanam lagi. Setiap hari Mamang pergi ke sawah.” Mang Kardin memberi penjelasan. “Makanya tidak sempat bertandang ke sini,” lanjutnya.

“Oh begitu ya, Mang? Pantesan rumah Mamang juga selalu terlihat sepi,” kata Aki lagi.

Obrolan terpotong oleh kemunculan Ambu. Dia membawa dua gelas kopi jahe dan pisang  goreng.

“Kopi jahenya, Ki,” Ambu meletakkan gelas di depan Aki. “Kopi jahenya, Mang. Dicicipi juga pisang gorengnya! Mumpung masih hangat,” lanjutnya menawari Mang Kardin.

“Wah, jadi merepotkan. Terima kasih, Ambu,” Mang Kardin mengambil gelasnya. “Ditampi Ambu,”  lanjutnya sambil menyeruput sedikit kopi jahenya.

“Iya, Mang. Mangga,” jawab Ambu.

Ambu kembali masuk ke dalam rumah. Sementara Aki dan Mang Kardin, menikmati suguhan Ambu.

“Oh ya,Ki. Sebetulnya ada yang ingin Mamang sampaikan pada Aki,” kata Mang Kardin setelah meletakkan gelas kopi jahenya ke tempat semula.

“Wah, tumben! Sepertinya ada yang penting, Mang?” Aki terlihat penasaran. Setelah sekali lagi menyeruput kopi jahenya, Aki meletakkan gelasnya di atas meja. “Mangga, Mang. Jika ada yang mau Mamang sampaikan, silakan! Tidak usah ragu-ragu,” lanjutnya mempersilakan Mang Kardin untuk menyampaikan maksudnya.

“Sebelumnya, Mamang mohon maaf  jika mengganggu waktu istirahat Aki!” Mang Kardin menyelang menghela nafas. Aki memberi isyarat bahwa dia tidak merasa terganggu. “Begini, Ki, Anak Mamang yang sulung tadi malam ke rumah. Dia mengeluhkan kondisi rumah tangganya yang kini sedang bermasalah,” Mang Kardin mulai menyampaikan masalahnya.

Rusdi, anak Mang Kardin yang sulung memang telah cukup lama berumah tangga dengan Arni. Dia memiliki dua orang anak. Sebelumnya, rumah tangganya terlihat damai. Akan tetapi, akhir-akhir ini, Mang Kardin merasa bahwa rumah tangga anaknya sedang diterpa ujan. Suatu saat, saat berkunjung ke rumah anaknya, Mang Kardin pernah memergoki anak dan menantunya sedang bertengkar. Pemicu pertengkaran ialah perbedaan paham mengenai sekolah anaknya yang sulung. Si sulung tahun itu mau masuk Sekolah Dasar. Arni menghendaki anaknya disekolahkan di sekolah swasta pavorit seperti anak tetangganya. Sementara Rusdi merasa tidak akan sanggup membayar biayanya. Di sekolah itu, biaya yang harus ditanggung orang tua siswa jauh lebih besar jika dibandingkan sekolah negeri yang ada di dekat tempat tinggal mereka. Rusdi menghendaki anaknya bersekolah di SD Negeri karena tidak perlu membayar iuran bulanan.  Ketika anaknya diberi tahu tentang keinginan ibunya itu, si anak menangis meraung-raung. Si anak bersikeras ingin bersekolah di SD Negeri karena teman-teman dekatnya bersekolah di situ juga. Akhirnya, ibunya mengalah. Masalah sekolah untuk anaknya pun dapat terselesaikan.

Kini, muncul lagi pertengkaran di antara Rusdi dan istrinya. Arni selalu menuntut agar Rusdi mencari kerja lain yang akan mendatangkan penghasilan lebih besar. Uang yang diberikan Rusdi dianggapnya tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Istrinya itu selalu saja membanding-bandingkannya dengan suami tetangga maupun suami teman-temannya yang dianggap sanggup memenuhi semua kebutuhan istri-istrinya.  Sementara itu, meskipun telah berusaha, Rusdi tidak juga menemukan peluang untuk pekerjaan seperti yang dikehendaki istrinya. Akhirnya Arni mengancam akan minta cerai jika bulan depan Rusdi belum bis memberinya nafkah lebih besar.

“Begitu, Ki. Itu yang ingin Mamang sampaikan. Mamang bingung harus bagaimana membantu Rusdi. Barangkali Aki dapat membantu mencarikan jalan keluarnya,” Mang Kardin menutup ceritanya.

Aki mengernyitkan dahinya tanda sedang berpikir keras. “Adakah orang yang masih didengar omongannya oleh mantu Mamang?” tanyanya kemudian.

“Siapa ya?” Mang Kardin bergumam seperti bertanya pada dirinya sendiri. Dia memutar otak mencari siapa kira-kira orang yang masih didengar omongannya oleh Arni. “Sepertinya tidak ada, Ki. Orang tuanya sendiri terbiasa mengalah pada Arni,” jawabnya kemudian.

“Suka ikut pengajian tidak tuh mantu Mamang?” Tanya Aki lagi.

“Sepertinya tidak, Ki,” jawab Mang Kardin lagi.

“Emmmm … bisa tidak jika mantu Mamang dipertemukan dengan Ambu?” Tanya Aki tiba-tiba.

“Maksudnya bagaimana, Ki?” Tanya Mang Kardin. Dia tampak terkejut mendengar pertanyaan Aki.

“Barangkali saja si Ambu bisa mengajaknya bicara dari hati ke hati. Gitu-gitu juga, waktu di Jakarta, si Ambu jadi tempat curhat ibu-ibu,” papar Aki.

“Oh, begitu Ki. Tapi, bagamana membujuk Arni agar mau bertemu Ambu?  Dia sedang dipenuhi amarah,” Mang Kardin terlihat bingung.

“Kita pikirkan bersama bagaimana caranya ya, Mang. Mudah-mudahan, besok sudah kita temukan caranya,” usul Aki.

“Baik, Ki. Kalau begitu, besok Mamang ke sini lagi.” Mang Kardin menyetujui usul Aki.

Karena sebentar lagi maghrib, Mang Kardin pamit pulang.***

#WCR_tetap_cerbungsinur

rumahmediagrup/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.