Bangkitlah, Jangan Sampai Anakmu Kelaparan!

Oleh Irma Syarief



Gundukan tanah merah itu masih basah. Baru saja sekumpulan warga dan pemuka kampung menguburkan jenazah salah satu penduduk. Seorang suami sekaligus ayah. Hari ini dia meninggalkan status baru untuk keluarga yang ditinggalkannya. Janda dan anak yatim.

Satu persatu orang-orang yang berkumpul itu pergi. Tinggallah istri dan kelima anak-anaknya yang masih kecil. Anak sulungnya berusia sebelas tahun dan masih duduk di kelas 5 SD. Anak itu sepertinya mengerti apa yang sedang terjadi. Dia mulai mengerti arti kematian dan kehilangan. Ada rasa duka menyelimuti parasnya. Berbeda dengan keempat adik-adiknya yang masih kecil. Wajah mereka terlihat biasa. Mungkin belum sepenuhnya menyadari jika ayahnya sudah tiada.

“Mas, bagaimana dengan kehidupan kami selanjutnya? Anak-anak masih kecil. Apakah mampu menghidupi mereka? Aku tidak bisa apa-apa.” Perempuan itu menangis perlahan. Air matanya mengalir deras.

Sulungnya segera menggenggam tangan ibunya. Sang Ibu menoleh dan memeluk anak-anaknya.

“Bu, jangan sedih. Ada aku. Kelak aku yang akan menjadi pengganti Bapak.” Ajaib. Anak sekecil itu mengutarakan tekadnya. Padahal dia tidak tahu akan seperti apa ke depannya. Sang Ibu menggangguk dan mengusap pucuk kepala anak laki-lakinya.

Kemudian mereka pulang. Sebelumnya berpamitan pada kuburan itu. Seolah-olah mereka berpamitan sebentar kepada sang Ayah dan berjanji akan datang lagi suatu saat kelak.

*****

Lima belas tahun berlalu. Kini perempuan itu sudah menua dan kelima anaknya telah berangkat dewasa. Anak sulungnya sudah berusia 26 tahun dan kini menjadi salah satu prajurit kebanggaan ibunya. Sedangkan anak yang paling kecil sewaktu ditinggalkan ayahnya dulu sekarang sudah berusia 17 tahun. Kakak-kakak si bungsu berusia 20 tahun, 22 tahun, dan 24 tahun.

Anak-anak perempuan itu sudah mengecap pendidikan yang tinggi. Ada yang kuliah dan sekolah SMA. Sesuai dengan keinginan ayah mereka.

Bahkan, perempuan itu kini mempunyai sebuah toko kue dan roti yang cukup besar miliknya sendiri. Ada sepuluh karyawan yang dipekerjakan di tempat itu. Banyak perusahaan, toko dan pedagang kue lain yang mengambil kue-kue itu dalam partai besar. Untuk acara-acara penting seperti pernikahan, ulang tahun, pertunangan, perjamuan dan lain-lain, kuenya selalu ada dalam urutan nomor satu di list orderan.

Dia sekarang tidak terlalu lelah dan sibuk, tugasnya hanya mengontrol produksi dan membuat resep baru. Selebihnya diurusi oleh anak gadisnya dan dibantu para karyawan.

Apa yang membuatnya berhasil menjadi seorang pebisnis?

Bangkit! Itulah kunci suksesnya. Bangkit dari keterpurukan karena ditinggal sang suami dan juga bangkit dari kemiskinan yang membelenggunya sekian tahun. Segala ada hikmahnya.

Tangisan dan rasa takut yang dia rasakan dulu ternyata bisa dilewati walaupun terseok-seok. Banyaknya rintangan dan batu terjal harus dihadapi dengan hati yang kuat. Perempuan itu bekerja sepenuh hati. Apa pun dikerjakannya asal halal agar mendapatkan rupiah untuk mengisi perut anak-anaknya.

Dia kemudian menyadari memiliki keahlian memasak dari ibunya sejak gadis. Dengan sedikit tabungan yang masih ada, dia memakainya untuk modal usaha. Perempuan itu memutuskan untuk menjual kue-kue kecil dan masakan rumahan.

Ternyata pilihannya tidak salah. Hari demi hari, makanan hasil olahan tangan dinginnya banyak yang suka. Pelanggannya pun meningkat. Tentu saja menambah pendapatan dan tabungan untuk masa depan anak-anaknya.

Namun di lain waktu, uangnya nyaris menghilang ketika ada seorang penjahat hendak merampok rumahnya. Untunglah para peronda kampung berhasil memergoki perbuatan orang tersebut.


Ikhtiar dengan sepenuh hati. Kemudian berdoa meminta petunjuk dari Allah Sang Pemilik Hidup. Berserah diri dengan menguntaikan doa-doa panjang di setiap sujudnya. Setelah semua sudah dilakukan barulah bertawakal menyerahkan keputusan kepada Sang Maha Penentu. Allah tahu mana yang perempuan dan anak-anaknya butuhkan bukan apa yang mereka mau.

Perempuan itu merenung. Hidup mengajarkannya melatih kesabaran. Tangisan kelaparan anak-anaknya membuat dia lupa akan kesedihan. Tak ada ruang dan waktu untuk meratapi kematian suaminya. Dia harus berjuang dan kembali menegakkan kepala agar anak-anaknya bisa hidup lama.

Beruntung, semasa suaminya masih ada, anak-anaknya sudah mendapatkan ilmu agama dengan baik. Bahkan si sulung sudah hapal juz 30. Setelah suaminya tidak ada, tongkat estapet pendidikan agama diambil alih olehnya. Maka tidak heran jika anak-anak tumbuh dengan baik, santun, dan selalu ada dalam jalan yang Allah ridai. Kini dia tinggal memetik hasil yang ditanamnya sejak dulu.

Jakarta, 19 Juni 2020

Gambar dari pinterest

rumahmediagrup/irmasyarief

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.