Bangkit Menata Hari Esok

Bangkit Menata Hari Esok

Malam kian larut. Tapi mata Atikah tak juga mau terpejam. Akhirnya dia keluar dari kamar tidurnya. Dia ambil remot TV. Dinyalakannya televisi lalu merebahkan tubuhnya di sofa menghadap televisi. Dia berharap, dengan begitu rasa kantuk akan segera datang.

Kejadian tadi sore begitu membekas di pikirannya. Amarah yang selama ini dipendamnya nyaris meledak. Untung masih tersisa, meskipun tinggal sedikit lagi, rasa hormat dalam hatinya. Jika mengikuti nafsunya, ingin sekali rasanya dia langsung melabrak  orang yang telah membuat dadanya sekian lama terasa begitu sesak itu. Ingin rasanya dia menunjuk muka orang itu sambil mencak-mencak dan mengumbar sumpah serapah. Tapi, rasa hormat yang tersisa karena orang yang ingin dilabraknya itu adalah adik ibunya, membuatnya memilih untuk tetap menahan diri.

“Cukup! Ini terakhir kali aku menghubunginya melalui telepon,” gumamnya.

Dua tahun dia rasa cukup untuk bersabar. Tapi, kali ini dia harus mengambil sikap. Dia semakin paham bahwa bibinya itu tidak memiliki itikad baik untuk bisa segera menyelesaikan masalah mereka.

“Apa sulitnya sih bertemu, lalu duduk bersama untuk menyelesaikan masalah itu? Setiap kali diajak bertemu, selalu saja berkelit. Alasan sibuk lah, alasan inilah… itulah. Apa sih sebetulnya yang ia mau?” gerutunya.

“Belum tidur, Mah?” Tanya suaminya yang berdiri di ambang pintu kamar.

Atikah menjawab dengan anggukan kepala.

“Sudah lewat tengah malam lho, Mah. Tidurlah!” suruh suaminya.

“Mamah tidak bisa tidur, Pah,” sahutnya.

“Kenapa? Masih mikiri soal batas tanah itu?” Suaminya menduga-duga. Lagi-lagi dijawab dengan anggukan kepala. “Sudahlah Mah, lupakan saja! Dipikiri juga tidak akan berubah tuh jawaban bibimu,” lanjut suaminya.

“Iya, Pah. Mamah tak habis pikir saja, apa sih yang dikehendakinya? Diajak bertemu tidak mau. Didatangi ke rumahnya, selalu saja menghindar. Kayaknya tuh, jika melihat Mamah datang, langsung dia pergi melalui jalan lain. Beberapa kali ditelepon tidak diangkat-angkat. Dikirimi pesan, cuma dibaca doang. Terpaksa deh, Mamah minta bantuan Uwa untuk bicara dengannya. Eh, malah ngomong ke Uwa kayak gitu. “Sudah lebih dari sepuluh kali ke kantor BPN,” begitu katanya pada Uwa. Ngapain juga coba bolak-balik ke kantor BPN. Kurang kerjaan banget tuh orang. Pandai benar tuh dia memutar balikkan fakta, mengarang cerita. Dasar tak tahu balas budi! Dia benar-benar melupakan betapa dulu almarhuah Ibu banyak sekali membantu dia. Tanah itu juga kan Ibu yang membelikan untuk dia. Meskipun akhirnya dia dan suaminya mengganti dengan cara menyicil, tapi harusnya dia sadar betapa dia telah dibantu. Ini sih boror-boro. Lagi pula, mamah kan tidak minta tanahnya. Mamah cuma minta kejelasan mengenai batas tanah kita dengan tanahnya. Itu saja!”  seperti air yang menemui salurannya, unek-unek Atikah akhirnya dia luapkan pada suaminya yang masih berdiri di pintu kamar.

Amir, suaminya, hanya bisa geleng-geleng kepala dan menarik nafas. Dia tidak berani menyela istrinya yang sedang kesal itu. Sebetulnya, dia  juga merasakan kekesalan yang sama terhadap bibi istrinya itu. Sebagai bibi, harusnya dia membantu meringankan beban ponakannya yang sedang benar-benar terpuruk. Tapi, bibi istrinya itu malah terkesan ingin mempersulit urusan yang sebetulnya begitu mudah untuk diselesaikan.

Tiga tahun lalu, Atikah tertimpa musibah. Dia tergiur oleh Sari, teman barunya, yang mengajak berbisnis bersama. “Semacam investasi lah, tanam modal,” kata Sari saat itu. Janji-janji tentang  besarnya keuntungan yang akan diberikan kepada penanam modal, membuat Atikah hilang kewaspadaan. Atikah pun diminta merekrut teman-temannya untuk ikut menanam modal dengan diiming-imingi keuntungan yang menggiurkan. Akirnya, tanpa berpikir panjang, Atikah pun bergerak. Dia merekrut teman-temannya yang berminat berinvestasi. Lumayan banyak temannya yang bergabung. Jika dikalkulasi, hampir satu milyar uang temannya terkumpul. Tanpa menaruh curiga, dia setorkan uang itu pada Sari.

Sebulan, dua bulan kemudian, komunikasi Atikah dengan Sari masih berjalan lancar. Saat ditanya tentang keuntungan yang dijanjikan, Sari selalu menjawab. “Tenang, bulan ketiga keuntungan akan dibagikan berikut modalnya,” Tetapi, saat menginjak bulan ketiga, Sari mulai sulit dihubungi. Saat didatangi ke rumahnya. Ternyata Sari sudah pergi. Tetangganya tidak ada yang mengetahui, ke mana perginya Sari. Dari tetangganya, Atikah tahu bahwa Sari adalah orang baru di situ. Sari baru beberapa bulan mengontrak di tempatnya itu. Atikah mulai ketar-ketir. Segera ia mencari di mana keberadaan Sari. Dia mulai bertanya-tanya pada teman-teman barunya yang dia kenal melalui Sari. Dari teman-teman barunya itu, Atikah mendapat kabar yang membuatnya semakin kalang-kabut. Ternyata, teman-temannya juga mengalami nasib yang sama dengannya, tertipu.

Sari seolah ditelan bumi. Tidak ada titik terang di mana dia kini berada. Atikah merasa benar-benar shok saat menyadari bahwa dia telah tertipu. Apalagi saat teman-temannya yang ikut menanam modal menemuinya untuk menagih janji tentang keuntungan dan modal mereka. Meski telah dijelaskan bahwa mereka semua tertipu oleh Sari, para penanam modal itu tidak  mau tahu. Mereka tetap menuntut uangna kembali. Bahkan ada pula yang sampai mengancam mau melaporkan Atikah pada pihak yang berwajib karena dianggap teleh mmelakukan penipuan.

Atikah merasakan dunia seolah runtuh menimpanya. Akhirnya, dia menjual aset-aset yang dia miliki. Akan tetapi, uang hasil penjualan itu tidak mencukupi. Dia mulai meminjam ke sana sini untuk mengganti uang para penanam modal. Dia benar-benar terpuruk. Suaminya tidak bisa banyak membantu. Tidak banyak uang yang ia miliki untuk membantu Atikah. Mungkin itulah  dari fase tersulit dalam hidup Atikah dan keluarganya. Untuk makan sehari-hari saja, dia mengandalkan bantuan dari kakaknya.

Tinggal satu aset yang dia miliki, yaitu rumah warisan orang tuanya yang kini dia dan keluarganya tempati. Dia berniat menjualnya.  Tanahnya itu berbatasan dengan tanah yang dibeli bibinya. Karena itulah maka dia meminta bibinya itu agar ikut hadir unuk menentukan batas saat pengukuran tanah dengan pembelinya. Akan tetapi, bibinya tidak datang. Hal itu menyebabkan batalnya pembelian tanah itu. Hal semacam itu bukan sekali saja terjadi. Setiap akan ada yang membeli tanahnya itu, Atikah selalu meminta bibinya untuk hadir dalam penentuan batas. Lagi-lagi, dengan alasan yang tidak masuk akal, bibinya mangkir. Belakangan, sang bibi malah melibatkan suaminya dalm urusan itu. Keterlibatan suami bibinya itu bukannya menjadi jalan keluar dari permasalahan mereka. Akan tetapi, justru masalahnya semakin rumit. Terlalu banyak alasan yang diajukan sang paman sehingga terkesan ingin menggagalkan penjualan tanah itu.

Atikah masih berusaha untuk bersabar. Dia masih mengingat bahwa bibinya itu adalah orang yang harus dia hormati sebagai pengganti ibunya yang telah tiada. Akan tetapi, Atikah seperti bertepuk sebelah tangan, bibinya malah seperti sengaja mempersulitnya. Atikah tidak habis pikir dengan sikap bibi dan pamannya itu. Orang yang seharusnya paling peduli dengan penderitaannya, justru kini yang paling membuatnya menderita. Sikap mereka yang bersikukuh tidak juga mau menunjukkan batas tanah, membuat Atikah beberapa kali gagal menjual tanahnya. Padahal, dari penjualan tanah itulah satu-satunya harapan Atikah untuk bisa kembali bangkit dari keterpurukan. Jika tanah itu terjual, setidaknya, dia punya modal untuk memulai usaha baru.

“Gara-gara bibi dan suaminya, anak kita yang sulung tidak bisa membayar uang kuliahnya. Adiknya juga tidak diperbolehkan mengikuti Ulangan Akhir semester karena belum lunas iuran bulanannya. Karena itu, Mamah akan mengambil sikap, Pah,” Atikah mengutarakan keinginannya.

“Mengambil sikap bagaimana, Mah?” Suaminya terlihat penasaran. Selama ini, dia tidak banyak bicara. Yang mereka hadapi adalah adik ibu mertuanya. Karena itu, dia mempercayakan pada istrinya untuk menyelesaikan masalah itu. Jika menurutkan emosinya, dia sangat ingin melabrak paman dan bibi istrinya yang sama sekali tidak berperasaan itu.

“Selama ini, Mamah telah berusaha untuk menjaga hati agar tetap menaruh hormat pada mereka. Tapi, kali ini, tidak lagi! Dua tahun emosi kita dipermainkan mereka. Mereka yang menabuh genderang perang dengan arogansi yang mereka tunjukkan. Semakin kita meminta, semakin mereka mempermainkan kita. Mereka telah berlaku zolim pada kita, pada anak-anak kita juga. Karena itu, mamah tidak akan lagi meminta mereka hadir saat ada yang membeli tanah kita. Kita akan ukur tanah kita sesuai batas yang tertera dalam serifikat. Tadinya, Mamah beritikad baik. Karena tanah kita berbatasan dengan tanah mereka, agar tidak ada masalah di kemudian hari, Mamah meminta mereka hadir saat pengukuran tanah kita. Tapi, karena mereka seperi itu, apa boleh buat, Mamah akan mengambil sikap. Kita tidak bisa terus begini. Kita harus segera bangkit, Pah. Kita harus menata hari esok kita demi kedua buah hati kita,” papar Atikah.

“Jika itu keputusan Mamah, papah sih setuju saja. Sebetulnya, sedari lama papah ingin melakukan itu,” kata suaminya memberikan penguatan.

“Iya, Pah. Besok, Mamah akan minta pembeli tanah itu datang. Kita hadirkan juga pihak desa untuk membantu administrasinya,”

“Papah sih setuju saja, Mah. Sekarang, tidur dulu gih! Tubuh kita perlu diistirahatkan juga, loh Mah. Biar besok bisa bangun dengan lebih bugar,” suruh suaminya.

“Iya, Pah. Mamah coba. Semoga mata ini bisa terpejam,” Atikah melangkah menuju tempat tidur. Lalu membaringkan tubuhnya. Harapannya untuk bisa segera bangkit dari keterpurukan, membuatnya bisa segera terlelap.***

#WCR_ditentukan_bangkit_cerpensinur

rumahmediagrup/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.