Dasar Aku yang Cengeng

“Kok jadi sedih banget ya?” Ucap salah satu rekanku
“Iya saya jadi sedih juga. Ealah belum HAFLAH sudah mewek.” Lanjut teman yang lain. Ada rasa sedih menyelimuti jiwa dan rasa, entah sesungguhnya apa yang aku rasakan membaca tulisan di atas.

Sungguh aku memang cengeng, apapun yang kudengar dan kulihat saat orang lain bersedih. Aku langsung terbawa suasana dan emosi. Sedih dan menangis yang mereka tampakkan menjadi virus bagiku. Pasti akan segera menular kepadaku saat melihatnya.

Cengeng ya? Iya, aku memang cengeng. Belum juga perpisahan sudah ada drama pakai menangis segala. Itu tidak sengaja, apalagi dipaksakan, tiba-tiba kesedihan itu menyelimutiku. Memang aku pemain sinetron? yang pandai memainkan peran? Pada dasarnya memang terharu.

Aku terbawa suasana ketika salah seorang wali murid telah menyampaikan sepatah dua patah kata, hingga ia pun meneteskan air matanya. Bagaimana aku tak meneteskan air mata juga? itu yang kulihat dan kurasakan.

Saat mendengar lantunan ayat Alquran, aku pasti menangis, iya aku memang cengeng. Terus aku harus bagaimana?
Saat mendengar orang lain bercerita kesedihan, aku terbawa emosi. Aku pun merasakan apa yang ia rasakan, tak terasa sudut netraku menggenang.

Aku pernah melihat seorang tukang jual gorengan, jajanan ringan di pinggir jalan, saat itu aku dalam bus. Tiba-tiba aku merasakan sedih yang amat dalam melihatnya. Tak terasa pula air mengalir dari sudut netraku. Iya aku memang cengeng.

Mungkin orang lain beranggapan ini terlalu lebay, berlebihan. Ah begitu saja menangis. Belum juga apa-apa sudah menangis. Ya, mungkin bagi orang lain melihat apa yang aku lihat dan rasakan jelas berbeda. Setiap pandangan orang berbeda.

Tak luput dari semua itu, mencicipi makanan saja jelas lidah orang akan berbeda. Ada yang merasakan terlalu manis, asam, pahit. Mungkin menurut orang lain biasa saja, enak rasanya. Entah bagi orang lain. Jelas berbeda. Cukuplah kita melihat saja, tak perlu kita berkomentar yang membuat hati orang terluka.

Tidak semua orang sama, apa yang terjadi padaku jua, tak mesti aku mau. Belum tentu juga aku merasakan nyaman dengan kondisiku. Pernah aku berusaha untuk lepas dari rasa ini. Lepas dari rasa, sedikit-sedikit sedih, sebentar-sebentar menangis atau mewek.

Bagaimana caranya menghilangkan rasa itu? Cobalah bantu. Sempat teman ingin membantu kondisiku seperti ini. Aku pernah diruqyah, kabarnya ada jin yang merasuki badanku. Aku turuti anjuran teman. Saat dibacakan lantunan ayat-ayat Alquran, aku menangis semakin jadi. Iya aku cengeng. Dasar aku terlalu cengeng.

Lantas, salahkah jika aku seperti ini?
Apa yang mesti kulakukan biar aku tak mudah menangis. Aku juga ingin seperti kamu, kamu, dan kamu. Iya, kamu yang tak mudah menangis. Iya, kamu yang tegar.

Tak seperti aku, yang cengeng. Semoga aku mampu menjadikan pengalaman ini menjadi bagian dari introspeksi diri. Mungkin sudah terlalu banyak salah dan dosa kulakukan. Sehingga aku seperti ini.

Maafkan aku, jika ini membuat kalian merasa tak nyaman dengan kecengengnanku. Maafkan, maafkan.
Mungkin besok, lusa atau kapan saja, dan di mana pun aku berada saat mau menangis, harus memakai helm kali ya. Biar enggak ada yang lihat, apalagi kamu.

Wanasari, 20 Juni 2020

Selepas pertemuan dalam virtual

Sumber foto: Gambar diambil dari pustaka media, galeri rumedia.

Maafkan aku yang selalu pinjam foto
rumahmediagrup/suratmisupriyadi

5 comments

  1. Saya pun sering merasakan sedih, dan malahhh seseorang itu bilang bahwa saya ini cengeng…

    Tapi this is me, saya tak peduli mereka mengatakan saya cengeng, liat ini dikit mewek, dengar ini dikit mewek, heyyy kauuu itu tandanya aku memiliki rasa yang peka, dan juga memiliki cinta.

    Eiyhhh sudahlah, sampai saat ini saya selalu menjadi diri saya sendiri, tak peduli ucapan orang tentang saya, toh saya yang bersedih maupun menangis tak akan merugikan dirinya bukan?

    SEMANGAT IBU KU🌈🌤️🌷🤗😘

    Disukai oleh 1 orang

  2. Aku baca yang kedua kali. penasaran mba.hehe. sepertinya ini berkaitan dengan inner child (jiwa masa kecil) yang pernah sangat sedih, saat ini terpicu kejadian dimasa sekarang. Sebaiknya diasuh supaya bisa jadi jiwa dewasa yang tegar. Peluk semangat mbakku🤗

    Disukai oleh 1 orang

  3. MasyaAllah, iya kah mbak? Inner child? sepertinya iya dan baca komentar mbak saja, saya harus mengedipkan mata beberapa kali.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.