Kasih Ibu

Setiap hari Jum’at pagi, saya selalu menyempatkan diri untuk berziarah dan membersihkan makam Ibu dan adik. Lokasinya memang dekat rumah saya.  Dari atas pemakaman, sejenak kupandangi keindahan pemandangan sekeliling. Dari sini ke sebelah selatan akan tampak pagar rumah saya dan pemandangan kota Tasik yang jauh. Semuanya nampak mengecil karena letak pemakaman di dataran tinggi.

Ingatanku melayang pada beberapa tahun lalu. Dulu ibu marah sekali ketika saya pindah rumah. Rumah baru ini adalah hasil keringat kami berdua bersama suami. Sedikit pun tak ada bantuan dari orang lain. Baik dari orang tua saya apalagi dari orang tua suami. Waktu itu saya benar-benar mengalami dilema. Satu sisi saya harus taat pada suami untuk mengikutinya. Satu sisi saya harus meninggalkan ibu tinggal sendiri.  Meskipun waktu itu kami tidak murni satu rumah dengan ibu. Hanya satu dapur saja. Sungguh berat ujian ini bagi saya. Kemarahan ibu tak kuhiraukan. Sudah lama saya memikirkan hal ini. Bagaimana pun perempuan yang sudah menikah harus ikut suaminya asal jangan di jalan yang salah. Banyak yang mendukung keputusan saya.

Setelah beberapa tahun berjalan. Meski saya sudah pindah rumah, sekali-kali saya suka nengokin ibu. Jarak rumah saya dan ibu hanya beberapa ratus meter saja. Saya juga suka menasehati suami supaya jangan menjauhi ibu atau mertuanya itu. Saya tahu sifat ibu. Bagaimana pun keras hatinya nanti juga luluh. Memang kadang-kadang kalau saya ke rumahnya, ibu suka mencari jalan pembicaraan yang membuat saya emosi. Kalau sudah begitu, buru-buru saya pulang takut saya tak bisa menahan emosi hingga akhirnya saya dan ibu akan beradu mulut. 

Sekali pun ibu tak pernah menginjakkan kaki di rumah saya. Meskipun banyak orang memuji-muji bahwa saya bikin rumah tanpa menyusahkan orang tua.  Bahkan saya juga heran dan iri,  kalau rumah adikku yang bungsu yang berada di luar kota sering dia kunjungi. Sedangkan rumah saya yang dekat cuma dilewat saja. Jangankan untuk menginap untuk singgah saja beliau tak pernah. Saya tetap sabar menunggu hatinya luluh. Pernah beliau berkata “Kamu jangan sakit hati,  kalau aku ga pernah menginjakkan kaki di rumahmu. Itu karena aku tak setuju kamu bikin rumah di sana”. Itulah kalimat yang pernah beliau ucapkan.

Seiring berjalannya waktu, kesabaranku ada balasannya. Sedikit-sedikit ia suka datang ke rumah saya meski hanya sampai teras rumah dan tak berani masuk. Mungkin juga dia merasa penasaran dengan isi rumah saya. Tapi masih ada gengsi di hatinya. Dia sering ke rumah saya dan curhat tentang perilaku tetangganya. Dan lama- lama dia mau juga masuk ke dalam rumah walau hanya sekedar numpang sholat atau duduk-duduk di dapur, saya sudah bersyukur alhamdulillah. Apalagi ketika adik laki-lakiku sudah tak ada, karena meninggal mendadak, dia lebih sering berkunjung. Tak ada lagi anaknya yang bisa dijadikan tempat mengadu selain saya, anak perempuan satu satunya. Saya bersyukur kepada Alloh meskipun beliau belum pernah menginap di rumah saya. Tapi dari awal saya yakin bahwa bagaimana pun marahnya dia kepada saya itu sebagai bukti kasih sayangnya kepada anaknya. Dia punya cara lain untuk menyayangi saya. Sebenarnya dia tidak benci sama saya  hanya dia merasa bahwa saya sebagai anak perempuan satu satunya yang sudah cape-cape dipelihara sejak kecil tiba-tiba harus memilih suami. Dan dia takut kalau saya tak dibahagiakan oleh suami.

Di akhir hayatnya ada sedikit kebahagiaan saya. Saat beliau sakit dia mau saya ajak untuk tinggal  di rumah saya. Dengan alasan, saya ribet kalau harus bolak balik nengokin dan merawatnya sedangkan saya juga punya pekerjaan. Satu minggu beliau di rumah saya tapi dengan kesedihan yang mendalam. Selama itu dia tak bisa tidur sekejap pun kalau malam. Ternyata itu adalah ciri ciri kematiannya sudah dekat. Andaikan saja saya tahu…. Maafkan saya Ibu.

Tapi saya bahagia sempat merawatnya. Dan kini rumah terakhirnya yang mendekati rumah saya. Dia bisa melihat saya setiap saat. Begitu pun saya bisa berkunjung kapanpun saya mau. Bahkan dari rumah saya ini saya bisa melihat nisannya. Allohummagfirlaha warhamha wa’afihi wa’fu anha. Tak terasa sudah setahun beliau meninggalkan kami,  menyusul ayah dan adik yang telah berpulang lebih dulu. Semoga husnul khotimah untuk semua yang sudah menghadapNya. Setiap orang punya cara yang berbeda dalam menunjukkan kasih sayangnya.

Foto:koleksi pribadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.