REDUPNYA CAHAYA OLEH CINTA SANG RAJA

Gubahan Hikayat Melayu, ditulis melalui pandangan orang pertama.

“Salam sejahtera, Duli Tuanku Baginda Putri. Maafkan hamba bila bertanya dalam waktu nan tiada bertepatan dengan keinginan Baginda,” tutur Rahimah—dayang kesayanganku—membuka percakapan, kala kami sedang berjalan mengelilingi taman istana.

“Ya Rahimah, bertanyalah. Aku mendengarmu,” jawabku pelan tanpa menoleh padanya, tanpa berhenti berjalan. Rahimah berada di sisi kanan agak ke belakang.

“Hamba melihat, beberapa hari ini betapa redup cahaya wajah Baginda Putri Hijau. Serinya bagai tertutup beratnya mendung. Hamba mohon maaf, mungkin hamba melakukan suatu hal yang kurang berkenan atas titah Baginda.”

Dari nada suaranya, sepertinya Rahimah berbicara sambil menunduk dalam-dalam.

Aku berhenti. Serentak semua langkah di belakangku juga berhenti. Hening. Hanya gesekan dedaunan yang tetap bersuara terkena sentuhan angin lalu.

Kutarik napas panjang. Udara kuembuskan kembali dengan perlahan. Degup jantungku mulai meningkat.

“Rahimah,” kataku sembari memutar badan menghadapnya, “seorang Raja Aceh mengirimkan utusan untuk meminangku. Segala emas, intan permata, perhiasan, perkakas, benda-benda langka, semua dihantarnya demi membuatku terpikat. Namun aku tiada berkehendak. Aku belum berminat sama sekali untuk memiliki junjungan.”

Jeda sejenak. Pandanganku kemudian menyapu taman, dan berhenti di kolam yang dipenuhi teratai.

“Kalian lihat, di sini aku tak kurang suatu apa. Saudara mara lemah lembut penuh tenggang rasa, kasih sayang melimpah ruah memenuhi jiwa. Harta benda bukanlah penentu kebahagiaan, Rahimah. Aku belumlah mampu berpisah dengan Kakanda Baginda Raja Mambang Jazid pengganti Ayahanda,” terangku atas gundah pertanyaannya.

Rahimah dan dayang-dayang lainnya terdiam. Aku paham, bagi mereka, harta yang dibawa para utusan sangat menggiurkan. Sungguh tak mungkin seorang raja mengirimkan hadiah semacam itu tanpa maksud mendapatkan imbalan lebih besar. Tersirat jelas hasrat Paduka Raja Aceh pada diriku.

Ada keheningan yang cukup lama setelah ucapan terakhirku. Delapan orang dayang terlihat menunduk, tak ada yang mengangkat wajahnya.

Ah, suasana jadi kurang nyaman rasanya. Kuperintahkan para dayang kembali ke istana. Mulanya mereka ketakutan. Mereka mengira aku tersinggung. Tentu saja tidak, aku hanya sedang ingin sendiri. Meski terlihat sendiri, di sekelilingku pasti ada perwira yang mengawasi.

Pagi tadi, aku mendapat kabar dari Kakanda Baginda Raja, betapa masamnya wajah para utusan ketika Kakanda menyampaikan pada mereka dengan sangat berat hati, perihal penolakanku atas pinangan Raja Aceh. Kakanda benar-benar persis seperti mendiang Ayahanda Baginda Raja, selalu berusaha memahami dan tak pernah memaksakan kehendak.

Sebenarnya, benarkah langkah yang kuambil? Bagaimana kalau Paduka Raja Aceh tersinggung lalu mengirimkan bala tentara ke kerajaan Aru nan damai aman sentausa ini? Aku bimbang. Sungguh. Namun hatiku memang tidaklah berkenan padanya.

Sang Maha Menjaga telah mencurahkan banyak kebaikan untukku, tapi aku belum paham apa manfaat kecantikan yang dielu-elukan ini. Aku hanya menerima, kemudian menjaga amanah Sang Maha Kaya, aku tak hendak akhirnya jadi sumber derita rakyat dan istana.

Hanya dalam hitungan sepekan lebih sedikit, aku mendengar utusan Aceh kembali datang membawa laskar. Firasatku benar, Paduka Raja Aceh tersulut amarahnya. Rahimah bahkan mengatakan, utusan itu jelas-jelas akan mengambilku dengan kekerasan.

Aku menangis sejadi-jadinya. Bantal pun tak lagi kering, harum, menyenangkan. Ia telah remuk, basah, penuh air mata. Mengapa Paduka Raja memaksa cinta? Bukankah ia bisa mencari di lain negeri? Aku makin tak suka dipaksa begini.

Apa daya, kembali aku mendapat kabar dari para dayang, strategi laskar Aceh menaburkan emas ternyata melemahkan semangat prajurit kerajaan Aru. Mereka masuk tanpa halangan berarti.

Aku takut. Sebentar lagi pasti Paduka Raja akan menghampiri. Apakah yang akan terjadi pada kami saudara sekandung?

Dalam kekalutan, Kakanda Baginda Raja lalu berpesan padaku, “Putri Hijau buah hati ayah dan bunda, kesayangan kami semua, mintalah keranda kaca sebagai tempat dudukmu saat berlayar ke negeri Aceh. Mintalah rakyat mereka memberikan persembahan sebutir telur dan bertih yang dilempar ke laut. Jangan turun dari kapal hingga semua orang telah berada di peraduan.”

Aku mengangguk tanda paham akan pesannya. Kemudian Kakanda Baginda Raja Mambang Jazid menghilang. Aku tak tahu ke mana perginya. Adinda Mambang Khayali pun tiba-tiba lenyap. Aku hanya menemui sebuah meriam yang terus-menerus melontarkan isinya, menyasar laskar Aceh.

Kakanda benar, Paduka Raja Aceh terlihat jemawa dan mata penuh binar saat menemuiku. Matanya bersinar penuh cinta dan harapan. Sayangnya, aku justru makin membencinya. Namun, kututupi rasa benci dengan rangkaian kata tunduk tapi berbalut pesan Kakanda. Paduka Raja menurut dan bersuka cita. Mungkin dikiranya aku telah takluk padanya.

Demikianlah akhirnya kami tiba di Aceh. Aku tak keluar dari keranda kaca hingga selesai seluruh rakyat melemparkan telur dan bertih ke laut. Saat malam, kuangkat tangan berdoa pada Sang Maha Kuasa, seraya menyebut jua nama Kakanda Mambang Jazid.

Tiba-tiba kapalku berputar dengan kekuatan dahsyat. Aku pasrah. Lalu terdengar derak kayu patah di segala penjuru. Kapalku pecah. Aku sungguh ketakutan dalam keranda. Kututup mata mencoba redam gelisah.

Sungguh ajaib. Aku yakin berkat bantuan Sang Maha Pelindung kerandaku tak pecah, hanya terlontar dan terombang-ambing di permukaan laut. Ketika kubuka mata, di hadapanku tegak seekor naga besar luar biasa.

Aku tak sempat bersuara.


Sumber: https://visitlangkat.wordpress.com/tag/legenda-melayu-deli/

Gambar: Morning Brew/Unsplash

rumahmediagrup/fifialfida

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.