Ibu Mertua (3)

Ibu Mertua (3)

Praaaaaaang…..

Pecahan piring berserakan di lantai. Aku terkejut hebat dengan perlakuan ibu mertuaku.

Susah payah kubuatkan pepes ikan mas keinginannya, tak jua mengena di hatinya. Hanya karena kurang rasa asin, emosi ibu meledak dengan pelampiasan piring berisi nasi dan sepotong pepes ikan mas, terlempar dengan kasar.

Mataku mulai basah. Kekesalan yang selama ini menggunung di hatiku, menyeruak, memaksa untuk berontak keluar. Kutahan kuat-kuat sambil meremas dada.

‘Astagfirullah…. Astagfirullah,’ gumamku tak bersuara.

“Kau sengaja memberiku pepes ikan mas itu tanpa rasa, agar aku tak memakannya ‘kan?” tuding ibu kembali menyakitiku.

Aku masih tak menjawab. Kupunguti satu per satu pecahan piring yang berserakan, sambil menahan genangan yang hendak tertumpah dari kedua netraku.

“Kau sudah tak peduli lagi padaku, Ranti?” dengusnya seraya memalingkan wajah.

“Memang benar dugaanku, Dimas sudah salah memilih istri sepertimu. Istri yang tak berguna sebagai menantu. Hanya menyusahkan suami, tak bisa membahagiakan mertuanya,” lanjut ibu semakin mengiris hatiku.

Aku berdiri menatap ibu mertuaku. Sesaat kupandangi wajahnya dari samping yang sudah terlihat keriput. Meski gurat kekesalan terpatri di sana, tapi hatiku luluh melihat wajah tuanya.

Ia sudah seperti ibuku yang kini telah tiada. Bagiku, ibu mertua adalah satu-satunya ibuku saat ini. Baktiku sebagai seorang anak hanya kepadanya, orang tua yang masih kupunya.

Namun entah mengapa, ibu mertua selalu menilaiku salah dalam hal apa pun. Rona kebencian selalu terpancar dari sorot matanya ketika menatapku. Aku merasakan ketidaksukaannya padaku.

“Bu, aku lelah,” kataku pelan.

Perlahan genangan dari kedua netraku sudah mengalir, semakin deras tak tertahankan lagi. Aku sudah berada di titik kepasrahan dengan segenap perlakuan ibu mertua padaku.

Aku lemah, kalah. Menyelusup rasa lelah yang sudah mencapai puncak. Tak berdaya lagi menerima perlakuan lainnya dari ibu mertuaku. Mungkin aku sudah gila atau lari sejauh mungkin, jika sekali lagi ibu memperlakukanku seperti ini.

Aku hanya manusia biasa yang memiliki batas kemampuan untuk menahan sabar dan ikhlas. Aku ingin marah, berontak, tapi tak mungkin kulakukan pada ibu mertua atau suamiku, apalagi pada anak-anak.

Aku takut. Takut kewarasanku ada batasnya. Takut bila nanti aku bisa melakukan sesuatu di luar kendaliku. Takut aku tak terima kenyataan dan pergi meninggalkan yang seharusnya menjadi kebahagiaanku. Aku takut itu semua terjadi.

Kunyatakan saja kalah dan menyerah. Aku sudah lelah menghadapi setiap makian ibu mertuaku, aku sudah jemu dengan semua perlakuannya selama ini. Sebagai menantu yang tak dianggap, meski berusaha sekuat mungkin untuk terlihat baik, tapi tetap saja tak pernah dinilai baik.

Lalu apa lagi yang harus kuperjuangan untuk menjadi menantu yang baik bagi ibu mertuaku? Selama ini aku sudah berusaha semampu yang aku bisa. Melayani dan mengabulkan setiap keinginannya. Menempatkan semua yang dimau di atas kepentingan suami dan anak-anak.

Masihkah aku harus melakukan itu semua, sementara ia tak pernah sedikit pun menghargai pengorbananku?

Aku berbalik hendak meninggalkan kamarnya, ketika suara lantang itu menghentikan langkahku.

“Apa katamu tadi?”

Teriakan ibu mertuaku sesaat membekukan seluruh tubuh. Rasanya aku tak kuasa menopang kedua kaki yang sudah lemah. Tapi kucoba menahan untuk bisa berbalik menatap wajah tuanya.

Kembali kupandangi wajah keriput itu. Ibu memandangku sudah tak sedingin tadi. Ribuan tanya seperti menyembul di kepala yang sudah ditumbuhi rambut putih, melihat sikapku. Terlihat jelas dalam sorot matanya.

“Selama ini, aku sudah berusaha menjadi menantu yang baik untuk Ibu. Bahkan mengutamakan kepentingan Ibu di atas kepentingan suami dan anak-anakku. Agar aku bisa terlihat baik di mata Ibu. Namun rasanya semua itu sia-sia, Ibu seakan tak pernah mau menerimaku sebagai menantu. Semua yang kulakukan selalu salah di mata Ibu. Maafkan aku, tak bisa menjadi menantu yang Ibu harapkan.”

Aku bersimpuh tak kuat lagi menahan kedua kaki yang sudah gemetar. Menahan kuat-kuat telapak tangan yang tak terasa telah menyentuh serpihan piring yang masih berserakan. Darah segar mengalir dari luka yang tersayat. Terasa perihnya hingga membuatku meringis. Tapi tak seperih hati yang kini sudah terluka dalam.

Wajah yang bersimbah air mata, kubiarkan basah tak karuan. Rasanya sudah tak tahu lagi apa yang harus kulakukan saat ini. Mungkinkah kewarasanku mulai hilang? Ataukah justru kepasrahananku telah membawa ke titik terendah, dari sebuah rasa lelah yang mendalam? Lalu, jika sudah begini, pada siapa aku meminta pertolongan?

“Rabbisy rohli shodri. Wa yassirli amri. Wahlul uqdatan min lisaani. Yafqohu qouli.”

rumahmediagrup/bungamonintja

2 comments

    1. Sepertinya ada aja, Bunda. Melihat realita tak sedikit mertua perempuan yang berselisih paham dengan menantuku perempuannya. Apalagi dilatar belakangi dengan perbedaan ekonomi.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.