Pemandu Wisata Takut Kerbau

Pemandu Wisata Takut Kerbau

Pada akhir minggu, aku selalu sempatkan untuk eksplorasi spot wisata. Biasanya bersama keluarga atau berdua isteri. Kali ini, aku bersama teman kerja. Kebetulan kami langsung berangkat dari tempat kerja. Kami akan mengunjungi curug atau air terjun yang lokasinya sekitar setengah jam perjalanan berkendaraan.

“Hallo, Bapak dan Ibu, siapa saja yang akan ikut ke curug?” tanyaku untuk memastikan jumlah orang yang akan ikut.

“Kami ikut, Pak Alex,” jawab mereka serempak sambil mengangkat tangannya.

Kuhitung ada lima orang yang bersedia ikut. “Baiklah, kita naik sepeda motor saja karena jalan menuju lokasi hanya bisa dilalui roda dua,” kataku menjelaskan, “Sebenarnya bisa pakai mobil namun parkirnya lumayan jauh,” lanjutku.

Berangkatlah kami mengendarai sepeda motor. Paling tidak ada tiga sepeda motor. Dua orang dari kami membonceng. Aku menjadi pemandu jalan menuju lokasi.

Sekitar setengah jam, kami sampai di tempat tujuan. Kami memarkir kendaraan di tempat yang disediakan. “Alhamdulillah kita sudah sampai,” syukurku, sambil menyemangati yang lainnya.

“Wah, udaranya sejuk,” kata bu Rini, salah seorang teman.

“Pemandangannya indah luar biasa,” kata pak Eko, suami bu Rini.

“Apakah kita lanjut jalan kaki sekarang?” tanya mas Iman, temanku yang masih bujangan.

“Sebentar, ya. Saya mau telepon dulu, pemandu yang akan menemani kita,” jawabku.

“Oh, kita perlu pemandu juga?” tanya kang Dadang.

“Iya, Kang Dadang. Medannya membelah hutan dan agak jauh dari sini. Saya khawatir kita tersesat,” jawabku, menjelaskan.

Tidak lama kemudian, datanglah pemandu jalan. Namanya Didan. Ia seorang anak muda yang bersedia membantu. Ia salah satu anggota karangtaruna di desa ini yang mendapat tugas memandu.

Setelah kang Didan memperkenalkan diri, kami memulai perjalanan. Jalan menanjak menjadi awal petualangan. Sampailah kami di atas bukit pinus yang indah. Kami melakukan swafoto. “Wah, indah sekali. Ayo kita foto selfie dulu,” ajakku.

Kami lanjutkan perjalanan menuruni bukit. Kemudian membelah hutan. Di ujung hutan, ternyata terdapat ladang yang digunakan untuk mengembala kerbau. “Nah, setelah ladang itu, kita akan menyusuri sungai hingga ke curug,” kata kang Didan, “Kita membelah hutan agar lebih dekat,” lanjutnya.

Tiba-tiba kang Didan berada di belakang kami. Dia sepertinya menghindar dari sesuatu. “Kang, kita lewat mana ini?” tanyaku.

“Terus ke situ, Pak, yang ada kerbau,” ucapnya, sambil bersembunyi di belakang barisan. Kami berjalan berbaris karena jalannya hanya setapak. Aku menjadi paling depan dan kang Didan paling belakang.

“Kang Didan, tolong di depan lagi agar kami ikuti,” pintaku.

“Iya, Pak,” jawab kang Didan, sambil membuka kausnya.

“Kenapa buka kaus? Kan curugnya belum terlihat,” kataku, kukira ia mau mandi di curug.

“Saya pakai kaos merah, khawatir diterjang para kerbau itu,” jawabnya, masih dalam posisi ketakutan.

Rumahmediagrup/saifulamri

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.