Ibu Mertua (4)

Ibu Mertua (4)

“Dek, ada apa ini?”

Samar terdengar sebuah suara di belakangku. Aku sudah tak lagi memiliki upaya untuk bangkit. Bahkan untuk sekadar mendengar pun sudah tak jelas di telinga.

Sebuah lengan menyentuh pundakku dengan lembut. Mencoba membangunkanku, tapi percuma. Aku seolah tak mempunyai kekuatan lagi saat ini. Tiba-tiba rasa lemas menyergap seluruh persendianku.

“Dek, apa yang terjadi?”

Aku menoleh dengan ekor mataku. Tampak wajah yang sudah tak asing lagi tengah menatapku cemas. Air mata yang sejak tadi tak juga berhenti mengalir, semakin deras saat kulihat lelaki yang sejak pertama kali melihatnya telah membuatku jatuh cinta.

Ia menatapku dalam, seolah ingin meresapi arti dari setiap tetesan air yang keluar dari kedua netraku. Ia lalu merengkuhku ke dalam pelukannya. Mengusap punggungku dengan lembut seolah ingin menenangkanku.

Melihatku dalam keadaan tak berdaya seperti ini pasti sangat membuatnya cemas. Beberapa saat lamanya ia memelukku dalam. Aku merasa ada kehangatan menjalar mengaliri tubuhku.

Debar yang sejak tadi terasa berlompatan di dada, perlahan mulai teratur seiring hangatnya perlakuan suamiku. Ia pasti bingung dengan apa yang terjadi padaku.

Selama hidup berumah tangga delapan tahun, aku jarang sekali mengeluh tentang hal apa pun, bahkan mengenai sakit sekali pun. Tak pernah kumanjakan sakit yang sesekali menyerangku. Cukup obat warung untuk mengobatinya.

Bahkan saat kelahiran kedua anakku pun, hanya dalam hitungan jam saja aku terbaring di atas tempat tidur. Selanjutnya, aku melakukan rutinitas yang biasa aku lakukan.

Bila tak merasakan sakit, apa yang harus kukeluhkan? Aku lebih senang menggerakkan badan, lebih sehat dan segar. Ketimbang harus terbaring di atas ranjang, memanjakan penyakit yang semakin betah bersarang di tubuh.

Aku lebih menyukai kebiasaanku, mengurus rumah yang tak pernah ada habisnya. Apalagi sejak kedua anakku lahir dan semakin tumbuh besar, tak pernah aku bisa duduk dengan tenang.

Selalu saja ada hal-hal yang membuatku harus membersihkan atau membereskan ini dan itu. Namun aku senang melakukannya. Melihat kedua anakku, rasa lelahku seakan sirna. Berganti senyum bahagia yang tak bisa terganti dengan apa pun juga.

Aku selalu menerima apa yang diberikan Mas Dimas. Mensyukuri setiap nikmat yang disuguhkannya untukku dan anak-anak. Bagiku sudah lebih dari cukup penghasilan yang didapat Mas Dimas untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Sampai masa di saat ibu mertuaku datang. Gambaran rumah tangga sederhana yang bahagia, terusik dengan kehadirannya. Rasa damai terganti dengan ketakutan dan kekhawatiran akan setiap tindakan, yang jelas-jelas tak menerimaku sebagai menantu.

Bukan aku keberatan dengan keberadaan ibu di rumah, tapi dengan semua sikap dan perlakuannya, seolah ia ingin selalu membuatku merasa terluka. Entah apa yang ada dalam hati ibu mertuaku, sampai tega berbuat sesuka hati demi menyakitiku.

Aku masih bergeming dalam pelukan Mas Dimas. Menangis dengan tatapan kosong. Rasa di dalam hatiku seakan hilang perlahan, buyar bersama luka yang tak lagi kurasakan. Entah kemana perginya semua rasa itu. Hanya derai air mata yang masih mengalir, membasahi pakaian dinas suamiku.

“Bu, apa yang sebenarnya terjadi?”

Pertanyaan itu meluncur dari mulut Mas Dimas, sesaat setelah ia melepaskan pelukannya dari tubuhku. Ada getar dalam suara itu.

Terlihat ibu mertuaku hanya menatap ke luar jendela, tak menjawab Mas Dimas. Beberapa kali pertanyaan itu diulang, ibu masih bergeming, tak bersuara. Dingin sikapnya menahan ego yang selama ini ia jaga. Entah apa yang ada dalam pikiran ibu saat ini.

Mas Dimas terlihat kesal. Ia mengembuskan napas kasar, menyugar rambutnya, menahan rasa yang berkecamuk dalam hati. Ia terlihat kebingungan.

Tanpa bertanya lagi, Mas Dimas segera menggendongku menuju kamar. Dibaringkannya tubuhku di atas ranjang. Rasa kantukku mulai menyergap, dan aku terlelap dalam tidur dengan genggaman tangan yang masih terasa.

**

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.