Cinta di Hati Rima – Bagian 10

Cinta di Hati Rima – Bagian 10

Oleh Irma Syarief

Si Mata Elang! Bang Drey!

Netraku berembun. Sepertinya air mata akan segera tumpah. Sebulan tanpa kabar berita dan kutahu dia sedang tidak baik-baik saja. Rasa sedih mulai merambat di hati. Entah berita apa yang akan dibawanya. Yang jelas, kami sedang merasakan ketidakjelasan hubungan ini.

Kulihat tubuh tegap itu sedikit kurus. Cambangnya dibiarkan tumbuh sedikit lebat namun masih tetap gagah dan tampan.

“Dek, maaf Abang mengejutkanmu. Sengaja! Tadi awalnya mau nunggu aja di depan. Hhmm … iseng aja pengen lihat yang lagi masak,” kata Bang Drey memecahkan kesunyian.
“Disuruh Gilang masuk ke sini,” bisiknya lagi sambil mendekat.

Kikuk namun terasa melankolis.

Netraku tidak bisa diajak kompromi. Satu persatu bulir air mata berjatuhan. Aku terisak tanpa bisa berkata-kata. Diam membisu.

Akhirnya …

“Kok engga ngabarin, sih?”

“Maaf, Abang sedang mencoba membujuk Umi dan juga keluarga. Senang bisa melihat kamu lagi. Kamu makin cantik!”

“Dih, gombal! Orang nangis dibilang cantik. Engga lihat nih mata bengkak.”

“Jangan manyun, dong! Biar bengkak juga tahu aja ada yang ganteng datang. Itu buktinya, langsung nangis. Eh, jangan lupa. Ulekan disimpan lagi! Untung engga kena getok. Benjol deh!” godanya.

Aku tertawa walaupun air mata masih berlinang. Kuusap perlahan. Ada rasa hangat menjalar. Dia rupanya tahu apa yang aku sembunyikan di belakang punggung.

Aku mengajaknya duduk kembali ke ruang tamu. Tidak enak jika di dapur hanya ada kami berdua. Kuusap peluh yang tiba-tiba menetes di keningku.

“Udah makan, Bang? Kalau belum nanti kita bareng aja ya di rumah. Bentar lagi Ashar. Papa masih di jalan kayaknya. Mama tadi bilang mau ke rumah Teh Tuti ambil pakaian yang udah selesai dijahit.”

“Makan tadi aja sebelum jalan ke sini. Kayaknya masakan kamu enak, Dek! Tadi Abang intip. Harum juga menggoda selera. Andai suatu saat kamu selalu masakin Abang seperti itu,” katanya sambil memandangku.

Aku menghela nafas.

Di depan pintu pagar kulihat Mama datang. Tak lama kendaraan Papa terdengar. Rupanya mereka datang hampir bersamaan. Segera kusambut mereka.

“Bang Drey datang, Ma!” bisikku kepada Mama.

Mama memandang Papa. Papa mengangguk. Lalu mereka masuk ke dalam. Bang Drey segera memeluk Papa. Kulihat netra mereka berdua berkaca-kaca.

Adzan Ashar berkumandang.

Papa mengajak Bang Drey berjamaah di masjid. Aku dan Mama juga bersiap salat di rumah. Waktunya aku mengadu kepada-Nya atas pertemuan ini. Entahlah … Kedepannya aku tidak tahu.

*****

“Gimana Bang, masakan Rima? Suka?” tanya Mama ketika kami berempat ada di meja makan.

Aku melirik diam-diam. Bang Drey tidak langsung menjawab. Mulut si Mata Elang penuh dengan makanan. Aku tertawa kecil melihatnya. Papa juga. Entah karena lapar baru makan lagi atau memang masakanku terasa enak.

“Minum dulu, entar keselek! Tenang, Bang! Masih banyak tuh lauknya. Bisa nambah lagi,” kataku menggoda.

Bang Drey tersipu. Diambilnya gelas yang tadi sudah kutuangkan air minum. Diam-diam kuperhatikan, dia ternyata bukan orang yang gede gengsi atau selalu menjaga citranya. Bang Drey yang aku kenal adalah orang yang apa adanya, sabar, lembut dan … cengeng. Dia tidak malu mengakui kesalahannya dan siap untuk meminta maaf.

“Enak, enak sekali! Saya suka makan apa saja. Makanan Sunda juga doyan. Ternyata, masakan Dek Rima enak banget. Maulah saya kalo dimasakin tiap hari,” seloroh Bang Drey.

Aku tersipu. Mama dan Papa tertawa. Begitu pula Bang Drey. Saat itu kami tidak menyinggung masalah yang sedang dihadapi. Tempat makan bukanlah tempat yang tepat saat ini untuk membicarakan hal yang akan mengganggu kenikmatan.
.
Selesai makan, Papa mengajak Bang Drey ke ruang tamu lagi. Aku membantu Mama merapikan bekas makan. Selesai mencuci piring aku ikut bergabung dengan mereka.

“Pak, andai saya tetap menikahi Dek Rima sementara Umi tidak memberi izin bagaimana? Bapak pasti tau masalah kami ‘kan?” tiba-tiba Bang Drey membuka suara.

Papa berdehem lantas mengangguk.
Bang Drey kemudian menceritakan semuanya seperti apa yang telah kudengar sebelumnya. Termasuk kemarahan Umi dan keluarga besarnya.

Papa diam. Ada penyesalan dalam raut wajahnya.

“Saya yang salah. Seharusnya kalian bahagia. Kemarin Papa banyak diskusi dengan Pak Arifin juga. Maafkan Papa, Nak Drey! Dan untuk pertanyaan tadi, saya sangat keberatan sekali. Saya tidak ingin menyimpan kalian dalam suatu masalah besar. Nak, rumah tangga itu harus ada doa dan restu dari orang tua. Apalagi Nak Drey hanya memiliki satu lagi jimat kehidupan. Dengarkan dan turuti kemauannya. Jangan buat Umi semakin marah dan restunya menghalangi jalan kalian,” kata Papa pelan.

“Jika kalian berjodoh suatu saat kalian akan bersatu walaupun jalannya berliku. Jika tidak, terimalah ini sebagai satu ujian untuk kesabaran. Allah akan memberikan yang terbaik untuk kalian. Ikhlaskan!”

Aku menangis. Kembali hatiku terusik dan pedih. Papa tidak mendukung keinginan Bang Drey. Dilema pastinya.

Ah, kadang aku benci dengan diamku. Bolehkah sesekali aku memberontak?

Si Mata Elang memandangku. Netranya menyiratkan permintaan dukungan. Aku tertunduk. Sakit.

“Pulanglah, Nak! Jangan biarkan nafsu mengalahkan. Rima baik-baik saja. Saya yakin itu. Ikutilah kata Umi!”

Papa, kenapa jadi begini?

Papa tidak mendukung dan mengabaikanku. Umi juga tidak merestui Bang Drey.

🍁🍁

Takdir telah menyapa
Guratan nasib telah tertulis
Hatiku sudah kadung sakit

Rasanya …
Seperti luka yang teriris pisau tajam
kemudian diberi garam serta tetesan air jeruk nipis
Begitu menyakitkan dan pilu

🍁🍁

-Bersambung-

rumahmediagrup/irmasyarief

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.