Ibu Mertua (5)

Ibu Mertua (5)

Aku membuka mata perlahan. Terasa sakit di kepala seperti tertindih beban berat. Penglihatanku mengabur, hanya pendar cahaya begitu menyilaukan mata.

Kurasakan nyeri di pergelangan tangan kiri. Mencoba untuk digerakkan pun, rasanya begitu lemah. Terlihat selang infus yang terhubung mengaliri tanganku.

Tubuhku pun serasa sulit untuk digerakkan. Hingga untuk mengeluarkan suara pun seperti ada yang mengganjal di tenggorokan. Separah inikah keadaanku?

Kupaksakan melihat sekeliling. Kosong. Ruangan bercat putih itu terasa begitu asing. Samar terdengar bisik-bisik dari balik tirai putih di sampingku. Kucoba menguping apa yang tengah dibicarakan.

“Jadi istri saya harus dirawat di sini, Dok?”

Terdengar seorang lelaki bertanya. Walaupun tak nampak sosoknya, tapi kuhapal betul siapa lelaki itu. Mas Dimas.

“Terpaksa harus dirawat, Pak. Gangguan Konversi bisa berakibat fatal jika kita biarkan begitu saja. Perlu ada penanganan khusus untuk bisa memulihkan kondisi jiwanya, karena itu akan berdampak pada kesehatan fisik pasien.”

“Saya masih belum memahami apa yang terjadi pada istri saya, Dok. Bisa tolong jelaskan secara umumnya saja?”

“Begini, Pak, pasien yang memiliki penyakit ini biasanya akan mengalami gejala fisik sebagai usaha untuk mengatasi konflik yang dirasakan atau dipikirkan. Pertentangan konflik dalam batinnya tersebut tak bisa ia kemukakan secara langsung. Akibatnya bisa mempengaruhi pergerakan dan fungsi tubuh, salah satunya rasa lemas dan sulit untuk bicara yang terjadi pada istri Anda.”

“Apakah ada gejala lain yang akan timbul selain itu, Dok?”

“Setiap pasien bisa berbeda-beda gejalanya, tergantung dari tingkat stress atau gangguan emosi yang membuat pasien menderita. Ada yang sampai mengalami kelumpuhan, bisu, buta dan tuli. Penangan dari ahlinya dan juga kerja sama dari keluarga untuk tetap menjaga kondisi jiwa pasien tetap stabil, itu sangat diperlukan.”

“Apakah bisa separah itu akibatnya, Dok?”

“Jika pasien bisa mengontrol emosi dan bisa mengemukakan apa yang ada dalam hatinya, gejala yang lebih buruk tidak akan terjadi, Pak. Kuncinya hanya kerjasama antara dokter dan pasien, juga keadaan yang mendukung dalam lingkungan pasien untuk menjaga agar pasien tetap dalam situasi yang tenang dan nyaman.”

“Baik, Dok. Lakukan yang terbaik bagi kesembuhan istri saya.”

“Kami akan berusaha semaksimal yang kami bisa, Pak. Tetaplah optimis dan berdoa.”

“Terima kasih, Dok.”

Rembesan air dari kedua netraku tak dapat lagi terbendung. Jadi sudah separah itukah keadaanku? Apa karena aku tak bisa mengutarakan masalah dalam hati, hingga keadaan fisikku yang jadi akibatnya? Apakah aku kurang bisa menguasai emosi yang terjadi dalam batinku sendiri?

Yaa Allah, bagaimana dengan anak-anakku jika aku selemah ini? Maafkan aku yang tak bisa mengontrol perasaan yang ada, hingga aku sakit seperti ini dan anak-anak harus jadi korbannya.

Tolong sembuhkan aku, Gusti. Kuatkan aku melewati ujian-Mu, tanpa harus sakit seperti ini. Kasihan anak-anak masih sangat membutuhkanku.

Kupejamkan mata saat melihat bayangan Mas Dimas bergerak menghampiri. Aku pura-pura tertidur agar ia tak tahu, jika aku telah mendengar semua pembicaraannya dengan dokter.

Inikah yang selalu kulakukan? Bersembunyi dari orang-orang agar mereka tak tahu penderitaanku? Berpura-pura kuat padahal keadaanku lemah. Membutuhkan tempat mencurahkan segala lara dan derita dalam hati. Haruskah kuulangi lagi kesalahan itu?

Penjelasan dokter tentang keadaan yang semakin buruk, jika aku tak bisa mengemukakan yang ada dalam hati, membuatku takut. Takut akan kehilangan kesempatan menjaga suami dan kedua anakku. Takut mereka kecewa memiliki aku yang lemah tak berdaya.

Ya Rabbi, bantu aku keluar dari penderitaan ini. Tolong gerakan hati ibu mertuaku, agar ia bisa menerimaku sebagai menantu dan memperlakukanku layaknya seorang ibu terhadap anak perempuannya.

**

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.