Mengulik New Normal, Antara Data dan Fakta

Mengulik New Normal, Antara Data dan Fakta

Endah Sulistiowati
Dir. Muslimah Voice

Kenormalan baru atau new normal adalah sebuah istilah dalam bisnis dan ekonomi yang merujuk kepada kondisi-kondisi keuangan usai krisis keuangan 2007-2008, resesi global 2008–2012.

Kemudian istilah ini diadopsi oleh khalayak dunia usai gempuran virus Covid-19 yang menewaskan ratusan ribu jiwa diseluruh dunia. Setelah hampir setengah tahun berjibaku dengan virus mematikan ini, ekonomi pun dinyatakan krisis dan butuh pemulihan. Sehingga jika merujuk pada kondisi yang ada bisa disimpulkan bahwa new normal saat ini berbasis pemulihan ekonomi.

Meskipun sebuah negara atau wilayah harus memenuhi kriteria yang telah ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO jika ingin menerapkan new normal life ini. Setidaknya ada 3 kriteria yang ditetapkan WHO.

Kriteria pertama dan menjadi syarat mutlak adalah epidemiologi, yaitu Angka Reproduksi Efektif kurang dari 1 selama dua minggu berturut-turut. Artinya, angka kasus baru telah menurun setidaknya selama dua minggu berturut-turut.

Kriteria kedua adalah kapasitas sistem pelayanan kesehatan yang mensyaratkan kapasitas maksimal tempat tidur rumah sakit dan instalasi gawat darurat untuk perawatan Covid-19 lebih besar dari jumlah baru yang memerlukan di rumah sakit.

Kriteria ketiga adalah surveilans, artinya kapasitas tes swab yang cukup.

Sesuai dengan kriteria tersebut, beberapa daerah yang telah memenuhi kriteria dapat melakukan penyesuaian PSBB. Namun demikian, penerapan protokol Covid-19 sebagai New Normal atau menuju Normal Baru harus tetap diterapkan secara ketat. Pemantauan pelaksanaan protokol harus dilakukan secara rutin dan evaluasi terhadap dampak kebijakan juga dilakukan. Jika kemudian kasus kembali meningkat, maka pelaksanaan PSBB dapat diterapkan kembali.

\Fakta pun Angkat Bicara\

Berdasarkan data yang masuk hingga Rabu (24/6/2020) pukul 12.00 WIB, ada 1.113 kasus baru Covid-19 dalam 24 jam terakhir. Penambahan itu menyebabkan kini ada 49.009 kasus Covid-19 di Tanah Air, terhitung sejak kasus pertama diumumkan pada 2 Maret 2020.

Pada periode Juni ini, Jawa Timur tercatat sebagai provinsi dengan kasus baru terbanyak dengan 183 pasien. Berikutnya ada DKI Jakarta dengan 157 pasien, Sulawesi Selatan dengan 132 pasien, Maluku Utara dengan 95 pasien, dan Kalimantan Selatan dengan 90 pasien.

Namun mirisnya, Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Jatim) meraih dua penghargaan dalam Lomba Inovasi New Normal Life yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

Padahal, kasus positif Covid-19 di Jatim, per Selasa (22/6), mencapai 9.857 orang atau terbanyak kedua di Indonesia di bawah DKI Jakarta. Namun, berdasarkan penambahan kasus harian Jatim menjadi yang tertinggi dengan 315 kasus baru di atas DKI Jakarta.

Jatim juga menjadi provinsi juara pertama dalam hal jumlah kematian tertinggi di Indonesia, yakni 728 korban jiwa.

Dalam kategori provinsi, Jatim meraih Juara I sektor Pasar Modern dan Juara II sektor Tempat Wisata. Atas prestasi itu, Pemprov Jatim pun berhak atas hadiah Dana Insentif Daerah (DID) senilai Rp 5 Miliar.


Diketahui, Kemendagri menggelar lomba Inovasi New Normal Life bertajuk “Penyiapan Tatanan Normal Baru Produktif dan Aman Covid-19”. Lomba yang dimulai sejak Mei 2020 ini terbagi dalam empat kategori, yakni provinsi, kabupaten, kota, dan daerah tertinggal.

Ada tujuh sektor yang dilombakan, yakni kategori pasar tradisional, pasar modern/mal atau minimarket dan supermarket, hotel, restoran, tempat pariwisata, transportasi umum, serta Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP).

Inilah mengapa lomba inovasi new normal ini mendapat kritikan dari berbagai kalangan. Kita tahu biaya yang digunakan pun tidak sedikit. Justru seharusnya pemerintah fokus pada penurunan angka suspect Covid-19 dan upaya memutus mata rantainya. Bukan malah membuang dana dan energi dengan membuat perlombaan.

Karena penyebaran Covid-19 ini tentu masih membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah dan masyarakat. Masyarakat butuh kepastian dan keseriusan dalam menghadapi new normal ini. Karena new normal berarti kita sudah harus beraktivitas sebagaimana sebelum virus ini datang. Wallahu’alam.

One comment

  1. Hal ini menunjukkan bahwa program yang muluk-muluk dibuat pemerintahnya tidak mengakar atau tidak dipahami oleh masyarakatnya. Bisa jadi masyarakat sangat tidak tahu apa yang diprogrmakan oleh pemerintah dalam menyiapkan diri memasuki masa kenormalan baru. Kalau masyarakatnya gak paham, berarti masyarakat tidak dapat melaksanakann program pemerintah tersebut. maka jadilah program pemerintah itu manis diatas keras kerja, tetapi hampa di lapangan.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.