suasana new normal

Kenormalan Baru, Kegalauan Baru

Kenormalan Baru, Kegalauan Baru

Setelah kurang lebih dua bulan aktivitas masyarakat difokuskan di rumah saja,  Presiden Joko Widodo akhirnya mencanangkan new normal pada pertengahan Mei 2020.  New normal merupakan skenario untuk mempercepat penanganan covid-19 dalam aspek kesehatan dan sosial-ekonomi. Pemerintah telah menggaungkan skenario new normal ini dengan mempertimbangkan kesiapan regional dan studi epidemiologis. Langkah ini diambil untuk memulihkan perekonomian Indonesia.

Cukup banyak yang memberi padanan kata untuk istilah new normal ini. Presiden Jokowi sendiri memadankannya dengan Tatanan Hidup Baru. Daeng M. Faqih (Ketua Umum PB IDI) memadankannya dengan Pola Kebiasaan Baru. Sementara Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, memadankan istilah itu dengan Adaptasi Kebiasaan Baru.

Sementara itu, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Badan Bahasa Kemdikbud) menerapkan kata new normal dengan kenormalan baru. Istilah ini kemudian dimasukkan dalam KBBI. Kenormalan Baru sebagai padanan dari New Normal dianggap relatif lebih aman dan lebih komunikatif sera tidak membingungkan atau menyesatkan bagi masyarakat awam.

Apa pun padanan kata yang digunakan, faktanya, pemerintah sekarang sudah mulai memberi kesempatan kepada masyarakat untuk kembali beraktivitas di luar rumah. Pasar dan pusat-pusat perbelanjaan mulai dibuka kembali. Masyarakat tetap diimbau untuk senantiasa melakukan tiga aktivitas aman untuk memutus penularan covid-19, yaitu: selalu jaga jarak, pakai masker, dan sering menggunakan handsanitizer atau cuci tangan pakai sabun. Kini, mulai banyak orang yang lebih memilih menggunakan face shield dari pada masker.

Di beberapa daerah bahkan diterapkan sanksi bagi warga yang tidak mengenakan masker. Sanksi yang diberlakukan ialah dengan membersihkan tempat-tempat umum sambil mengenakan rompi oren, menyanyikan lagu wajib, atau dengan membayar denda. Sanksi ini dinilai efektif untuk mendisiplinkan masyarakat dalam menggunakan masker.

Masyarakat pun diimbau untuk melakukan tes rapid dan tes swab. Bahkan, pemerintah telah banyak menggelar tes rapid dan swab di tempat-tempat orang biasa berkerumun, khususnya pasar. Kedua tes itu dilakukan untuk mendeteksi secara dini orang yang terinfeksi corona, terutama bagi orang yang terinfeksi tanpa gejala (OTG). Sayangnya, banyak di antaranya, khususnya para pedagang, kurang bisa diajak kerja sama. Mereka merasa gamang untuk melakukan kedua tes itu. Mereka bahkan lebih memilih untuk menghindari kedua tes tersebut. Alasannya ialah karena khawatir jika hasilnya menunjukkan positif terinfeksi covid-19.

Masyarakat khawatir jika mereka dinyatakan positif, maka konsekwensinya adalah mereka harus dirawat atau dikarantina mandiri. Selain itu, mereka pun khawatir akan dikucilkan oleh lingkungannya. Jika hal itu terjadi, maka kehidupan mereka pun akan terganggu. Sementara, mereka berkeinginan untuk bisa tetap beraktivitas seperti biasa. Terutama dalam hal mencari nafkah.

Kegalauan juga muncul di dunia pendidikan. Tahun ajaran baru (2020/2021) akan dimulai pada 13 Juli 2020. Pihak sekolah tentu telah diberi panduan dalam penyelenggaraan sekolah dalam kondisi masih pandemi corona. Tapi, saja banyak orang tua siswa merasa ketar-ketir, terutama pada pendidikan dasar. Mereka khawatir jika anak-anak akan tertular covid-19 di sekolahnya. Harus kembali bersekolah secara tatap muka dalam kondisi seperti ini, peluang terjadinya penyebaran virus corona memang sangatlah besar.

Kecuali siswa baru yang harus mengikuti MPLS, pihak pemerintah sendiri sebetulnya telah memberi wewenang pada pihak sekolah untuk menentukan bagaimana pelaksanaan pembelajarannya, baik daring maupun luring.

Kegalauan lainnya menimpa para mahasiswa yang menuntut ilmu di luar kota. Kecuali mahasiswa baru yang harus ngampus, mahasiswa lainnya akan mengikuti perkuliahan semester gasal tahun ajaran 2020/2021 ini secara daring. Yang paling gamang tentunya para mahasiswa yang sempat pulang ke rumah mereka sejak awal masa pandemi corona dengan meninggalkan barang-barang di kontrakan. Karena masih akan perkuliahan dilakukan secara daring, banyak di antara mereka yang tetap memilih kuliah dari rumah. Akan tetapi, uang kontrakan harus tetap mereka bayar.

Adapun bagi mahasiswa dari luar kota yang memiliki kepentingan ke kampus, dan biasa menggunakan kereta api, mereka menghadapi kesulitan. Hingga saat ini, perjalanan kereta api, belum berjalan normal. Banyak kereta api yang belum dioperasikan kembali. Yang membuat gamang juga adalah harus dibawanya Surat Kesehatan Covid-19 harus mereka bawa ketika melakukan perjalanan dan saat memasuki kampus.

Memang, ketika menghadapi hal baru, kegalauan itu lumrah saja terjadi. Tetapi, jika saja kita bisa memahami apa dan bagaimana kondisi yang harus kita hadapi, maka setidaknya kegalauan itu tidak perlu berlama-lama ada. Segera bergerak sesuai prosedur!***

Sumber bacaan:

Damarjati, Danu. 28 Mei 2020.  “‘New Normal’ Menjadi “Kenormalan Baru’, Ini Pertimbangan Pemred KBBI”  https://m.detik.com/news/berita.d-5031716/new-normal-menjadi-kenormalan-baru-ini-pertimbangan-pemred-kbbi. Diakses pada: Kamis, 25 Juni 2020 pukul 05.48.

Nursalam, AR. 17 Juni 2020. “Pelbagai Nama untuk ‘New Normal’”. https://www.kompasiana.com/ nursalam-ar/5ee9c832d541df70746c7aa6/pelbagai-nama-untuk-new-nomal?. Diakses Kamis, 25 juni 2020 pukul : 06.44

#WCR_ditentukan_opinisinur

rumahmediagrup/sinur

4 comments

    1. Iya, betul. Itu pula yang dialami putri saya. Kita senasib ya.
      Semoga semuanya akan segera membaik. Aamiin.
      Terima kasih telah berkenan mampir mengapresiasi, Bunda. 🙏

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.