Ilustrasi Cerbung Aki dan Ambu

Aki dan Ambu – Bagian 12 (Menuju Cahaya)

Aki dan Ambu – Bagian 12 (Menuju Cahaya)

Hari ini, selepas asar, Mang Kardin sengaja mengadakan syukuran karena anak bungsunya, Nisa, baru saja lulus dari SMP. Hanya keluarga dan tetangga dekat saja yang diundang. Acaranya pun sederhana. Sebelumnya, Mang Kardin telah memohon Pak Kyai Saleh untuk menggelar doa bersama. Selain sebagai ungkapan syukur anaknya telah lulus, Mang Kardin sempat pula berbisik pada Pak Kyai agar ada doa untuk memohonkan jalan keluar bagi rumah tangga Rusdi yang sedang ditimpa masalah. 

Sesungguhnya, acara itu digelar bukan semata karena anak bungsu Mang Kardin, Nisa telah lulus. Akan tetapi, lebih sebagai upaya menghadirkan Rusdi dan Arni agar ada alasan bagi Ambu bisa mengobrol dengan mereka.

Sehari sebelumnya, setelah berembug dengan istrinya, Mang Kardin memberi tahu Aki dan Ambu. Upaya mempertemukan Ambu dengan Arni dilakukan di rumah Aki seusai syukuran.

Tiba waktu yang ditentukan, ternyata Arni tidak datang. Tentu saja hal itu membuat kedua mertuanya kecewa. Seusai acara syukuran, setelah yang lain pamit pulang, keluarga Mang Kardin duduk di ruang tengah yang digelari tikar. Aki dan Ambu pun ikut bergabung bersama mereka.  

Mang Kardin menyuruh Rusdi untuk mengobrol dengan Ambu dan Aki. Mang Kardin meyakinkan Rusdi bahwa Ambu dan Aki orang yang bisa dipercaya dan bijaksana.

“Maaf, Ambu. Arni tidak bisa datang. Bagaimana kalau Ambu bercakap-cakap dengan Rusdi saja?” Pinta Mang Kardin pada Ambu yang sedang mengobrol dengan Bi Minah..

Mangga, Mang. Ambu sih tidak keberatan. Tapi, apakah Nak Rusdi mau mengobrol dengan Ambu?” Ambu balik bertanya.

“Mau Ambu,” jawab Rusdi yang duduk bersila di samping ayahnya.

“Baiklah, Nak. Jika Nak Rusdi  percaya pada Ambu, silakan ceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada rumah tanggamu!” Ambu mulai membuka obrolan. “Tapi, sebelum obrolan kita lanjutkan, Ambu kira lebih baik anak-anak diminta bermain di depan saja,” pinta Ambu kemudian.

“Ajak Bagas dan Mira main di depan, Ca,” suruh Bi Minah pada Nisa. Sehari-hari, Nisa memang dipanggil Ica.

“Baiklah Ma,” Nisa bangkit, lalu mengajak kedua ponakannya yang sedang gelendotan di pangkuan Bi Minah ke ruang tamu.

“Ke mana istrimu itu, Rus?” Tanya Mang Kardin pada Rusdi.

“Belum pulang, Pak. Katanya sih lagi kumpul-kumpul dengan kelompok Mahmud,” jawab  Rusdi.

“Mahmud?” Bi Minah terperanjat. “Mahmud mana?” lanjutnya dengan mata agak terbelalak.

“Mahmud teh singkatan, Ma. Mamah muda … he he he,” jawab Rusdi. “Eta teh grupnya Arni. Ibu-ibu muda yang suka gaul.” Rusdi menjelaskan.

“Ooh … kitu, nya?” Bi Minah tersipu.

“Maaf, Nak Rusdi. Kalau Ambu boleh tahu, sejak kapan istrimu suka ngumpul-ngumpul kayak gitu?” Tanya Ambu.

“Kayaknya sejak sering nganter bagas ke TK deh, Ambu,” jawab Rusdi.

“Sejak itu, Nak Rusdi melihat ada yang berubah pada Arni?” Tanya Ambu lagi.

“Emmmm …,” Rusdi terlihat berpikir keras. “Iya, Ambu, ada,” jawabnya kemudian. “Jadi  terlihat lebih semangat saat mengantar Bagas ke sekolahnya,” berhenti sebentar. Rusdi seperti mengingat-ingat sesuatu. “Sejak itu, dia juga terlihat lebih suka berlama-lama dengan hapenya. Bahkan sering terlihat senyum-senyum sendiri. Lalu … jadi sering pergi-pergian. Alasannya, teman-temannya mengajak shoping. Yang lebih aneh, dia jadi suka pakai kaos olah raga. Katanya sih mau senam bersama grup mahmudnya itu, biar bugar,” papar Rusdi.

“Nak Rusdi tahu siapa saja teman istrimu itu?” Selidik Ambu.

“Tahu beberapa saja, Ambu. Terutama Rina yang sering menjemput Arni. Dia itu istri pegawai kecamatan,” jawab Rusdi.

“Rina yang gayanya kayak artis itu ya, Rus?” Tanya Bi Minah. Wajahnya menunjukkan keterkejutannya.

“Iya, Ma,” jawab Rusdi singkat.

“Pantesan sekarang si Arni jadi banyak tingkah,” gumam Bi Minah.

“Maaf, memangnya seperti apa Rina itu?” Ambu menyela pembicaraan antara ibu dan anaknya itu.

“Dia itu sangat suka berdandan. Gayanya seperti artis-artis di televisi. Siapa pun yang berteman dengannya, bisa dipastikan akan terpengaruh. Ya, seperti si Arni itu,” gerutu Bi Minah. Jelas tergambar kekesalan dari omongannya. “Kamu tidak bisa mencegah si Arni agar tidak bergaul dengan si Rina, Rus?”  lanjutnya bersungut-sungut.

“Saya sudah pernah menegurnya, Ma. Tapi dia malah mencak-mencak. Mengata-ngatai suami kuno lah, kuper lah. Dia malah minta tambahan uang bulanan. Kata dia untuk biaya nyalon. Biar kelihatan glow… glow apa tuh?” Rusdi mengerutkan dahi seperti mengingat-ingat.

“Glowing?” Celetuk Ambu.

“Nah, iya itu. glowing,” Rusdi mengiyakan kata Ambu.

“Memang si Arni mau nyalon apa, Rus?” Sela Mang Kardin. Dia terlihat sangat penasaran.

“Perawatan wajah di salon, Pak.” Rusdi menjelaskan.

“Ooh … Bapak kira nyalon kayak Pak Haji yang nyalon anggota DPR,” kata Mang Kardin.

Aki yang sejak tadi hanya menyimak, tertawa mendengar dialog anak dan bapaknya itu. Yang hadir di situ pun akhirnya ikut tertawa.

“Maaf nih, Ambu potong dulu pembicaraan kalian. Selama ini … emm maksud Ambu, sejak terlihat ada perubahan itu, bagaimana sikap Arni pada kalian? Maksud Ambu, pada Nak Rusdi sebagai suami, pada anak-anak, juga pada keluarga Mamang di sini?” Ambu mulai menggali informasi lanjutan mengenai Arni.

“Nah itu, Ambu! Dia sekarang sering bersikap masa bodoh terhadap saya dan anak-anak. Dia juga mulai sering marah-marah. Apalagi jika uang belanjanya sudah menipis,” keluh Rusdi.

“Ooh, begitu ya?” Ambu manggut-manggut. Dia seperti memikirkan sesuatu. “Bagaimana pendapat Nak Rusdi mengenai istrimu?” Tanya Ambu kemudian.

“Dia sudah sangat berubah, Ambu. Saya nyaris tidak melihat adanya Arni yang dulu membuat saya bersikeras menikahinya.” Rusdi menghela nafas beratnya. “Ambu atau Aki bisa membantu saya?” Tanyanya kemudian.

“Bagaimana, Ki?” tanya Ambu. Dia memberi kesempatan pada Aki barangkali mau memberikan jalan keluarnya.

Aki terlihat meghela napas. Setelah berdehem, barulah Aki bicara. “Kalau menurut Aki, Nak Rusdi sebagai suami harus mengajak bicara istrimu dari hati ke hati. Usahakan selalu dengan nada lemah lembut meskipun sedang kesal. Ingatkan kembali tujuan kalian berumah tangga. Ingatkan juga akan anak-anakmu yang lebih memerlukan ibunya sering-sering ada di dekat mereka. Bukan begitu, Ambu?” menoleh ke arah Ambu.

“Iya, Ki. Ambu sepakat dengan Aki. Begitu ya, Nak Rusdi. Kalau Nak Rusdi sedang libur dari pekerjaan, cobalah ajak istri dan anak-anakmu jalan-jalan. Mungkin dengan begitu akan terjalin kembali kedekatan kalian satu sama lain. Cobalah tunjukkan bahwa Nak Rusdi benar-benar perhatian pada keluarga. Oh, ya! Maaf nih Ambu mau tanya. Bagaimana kehidupan beragama kalian? Misalnya, bagaimana solat kalian, khususnya Arni?” Ambu terlihat hati-hati saat menanyakan pertanyaan itu.

“Itulah, Ambu. Selama ini, kami sering melupakannya,” Rusdi menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah. Dia sungguh malu mengakui hal itu.

“Sebelum menikah, Rusdi rajin solat dan ngajinya, Ambu. Tapi setelah menikah, dia jadi sering lalai,” keluh Bi Minah.

“Sepertinya ada yang harus diperbaiki, Nak Rusdi,” kata Aki tiba-tiba.

“Diperbaiki apanya, Ki?” Tanya Rusdi terheran-heran.

“Kehidupan beragama kalian,” jawab Aki dengan begitu santai tapi membuat Rusdi tersentak.

“Iya, Nak Rusdi. Mulailah ajak keluargamu untuk salat berjamaah nanti malam. Antara magrib dan isya, tetaplah di tempat salat. Berceritalah pada anak-anakmu tentang kisah-kisah teladan  atau ajari mereka mengaji. Mudah-mudahan, cara itu bisa membuat istrimu kembali seperti yang Nak Rusdi harapkan,” timpal Ambu.

“Iya Aki. Iya Ambu. Terima kasih telah mengingatkan saya,” kata Rusdi dengan suara bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Sama-sama, Nak. Kami minta maaf, jika kami terlalu lancang dan dianggap terlalu jauh mencampuri urusan rumah tanggamu,” balas Ambu.

“Sama sekali tidak ada yang perlu dimaafkan, Ambu. Justru saya sangat berterima kasih pada Ambu dan Aki. Sekarang saya merasa lebih tenang,” kata Rusdi.

“Sebentar lagi magrib, Ambu. Kita pulang, yuk!” Ajak Aki.

“Ayo, Ki. Kami permisi pulang dulu, ya!” Pamit Ambu sambil bangkit dari duduknya.

“Iya, Ki, Ambu. Terima kasih banyak telah membantu kami,” kata Mang Kardin.

“Sama-sama, Mang. Semoga masalah rumah tangga Nak Rusdi bisa segera terselesaikan,” balas Ambu.

“Aamiin!” semua yang hadir mengaminkan.

Tuan rumah mengantar Aki dan Ambu sampai di teras.

“Kalau ada kesempatan, mainlah ke rumah kami, Nak Rusdi,” ajak Ambu.

“Insya Allah, Ambu,” jawab Rusdi.

Sang surya mulai tenggelam. Dia berbagi tugas dengan rembulan yang mulai menampakkan diri di ufuk timur. Sementara itu, seperti halnya malam yang diterangi rembulan, Rusdi mulai menemukan setitik cahaya yang kian benderang dalam ruku dan sujudnya malam itu.***

#WCR_tetap_cerbungsinur

rumahmediagrup/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.