Dialog Ini Pembukanya

Rora: Tak ada yang penting lagi bisa kukatakan padamu.
Gido: Hehe…
(Terdengar nadanya sinis dan pandangannya beralih ke sudut lain. Tampak sekali raut mukanya menunjukkan sebuah kesombongan.)
Rora: Dan aku tidak mau lagi melanjutkan pembicaraan ini, karena aku menganggap ini selesai, berangkatlah dengan maumu dan seluruh obsesimu.

Itu adalah dialog saat terakhir ketika Rora putuskan harus berpisah dengan Gido suaminya.

Esok harinya, Rora menyampaikan via telepon kepada bapak mertuanya, bahwa mereka akan bercerai. Dengan alasan Gido tidak lagi memperhatikan dirinya termasuk anak-anaknya, tidak memberikan nafkah kepada dirinya untuk keluarga. Besok ya, mertuanya datang dan menasihati mereka.


Gido: Maafin. Ini ATM untuk mama.
Rora: (memandang Gido dengan sedikit tak percaya, karena selama ini suaminya begitu pelit dalam memberikan nafkah)
Diol: isinya 4 juta
Rora: Baik, mama terima ATM -nya. terima kasih pa.

(Rora bersyukur ini adalah awal dari New Normal. Namun, Rora sedikit tidak percaya mana mungkin seorang pimpinan hanya memiliki empat juta di dalam ATM -nya. Bertahun-tahun seluruh kebutuhan rumah tangga termasuk pendidikan anak menjadi tanggung jawabnya. Rora menyelesaikan kebutuhannya dari hasil usaha kateringnya.)
Rora: Semoga pekerjaan papa tidak ada kendala lagi dan rezeki keluarga kita barokah.
Gido: Aamiin.
Rora: Papa segera mandi sana.
Gido: lya ma.
(Gido menuju kamar mandi)
Rora: (dengan berjingkat Rora membuka dompet suaminya. Terbelalak matanya karena dia menemukan 3 ATM di sana)

Gido: (keluar kamar mandi dengan bersiul) Ma …!
Rora: Hem… (Diam. Pikirannya masih terbawa terhadap ATM yang hanya berisi 4 juta tersebut.)
Gido: Aku lapar ma.
Rora: Ya makan
Gido: Yuk, kita ke Resto Molischa!

Resto Molischa, resto termahal dan hanya mereka yang berduit makan di sini. Adalah untuk yang pertama Rora menginjakkan kaki.
Rora: Ini Resto mahal.
Gido: Kenapa?
Rora: Sayang uang dihambur-hamburkan hanya untuk makan. Mama kan bisa masak. Usaha katering mama sudah mulai disukai orang dan sudah masuk di kantor-kantor besar.
Gido: Papa ingin menyenangkan mama.
Rora: bukan begini cara papa menyenangkan mama.
Gido: Lalu ….
Rora: Cukup yang riil sedang kita hadapi,
Gido: Ini riil !
Rora: ini riil hanya untuk senang-senang saja. Kenyataan yang kita hadapi adalah kita butuh menyelesaikan kebutuhan tangga, belanja pendidikan dan sedekah.
Gido: (Gido terpana dan sejenak tak mampu menjawab)
Rora: Di dalam rezeki orang kaya terdapat rezeki orang miskin yang dititipkan, yang wajib kita berikan kepada mereka tanpa mereka minta.
Gido: (Gido tersenyum, terpukau dengan jawaban istrinya) Kamu … kamu ….!?
Rora: Yah, kenapa? Aku yang bukan lulusan S2! Tidak pantas untuk berkata begini?
Gido: Tidak. (Jawabnya dengan santai dan suara lembut)
Rora: Aku yang bukan anak pejabat, anak orang berpendidikan tinggi tidak boleh bicara begini? Dan kamu yang anak orang kaya, tokoh masyarakat yang boleh bicara semacam ini?
Gido: Cukup. Cukup sayangku
Rora.

Rora
Melati putih
Menyibak hatiku saat daun-daun kering kupungut
Kerjab matamu yang membuatku berlari menyusuri sabana
Agar aku tetap menggenggam seperti jari-jari yang Allah ciptakan untukku

Rora: Puisi itu ….
Gido: ya
Rora: masih … (Rora tak melanjutkan. Mencoba untuk menahan rasa bahagianya dengan puisi Gido untuknya saat awal jadian dulu)
Gido: Puisi itu tetap melekat. Kemarin… sekarang … dan nanti
Rora: New normal (gumam Rora sangat lirih)
Gido: Apa?
Rora: untuk Jamal, anak kita.

Rora berkilah. Masih belum percaya atas kenyataan ini, bahwa suaminya bisa baik kembali. Dia sembunyikan rasa agar dia tidak terlalu jujur bahwa dia bahagia akan perubahan ini. Kehidupan normal kembali dengan aura baru, energi baru dan hati baru. Akhirnya mereka berdua membangun kebahagiaan dengan suasana baru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.