Mengatasi sakit hati

::Mengatasi Sakit Hati::

Pernah merasakan sakit hati?

Mungkin mayoritas kita akan menjawab, “pernah” atau mungkin juga menjawab “sering” dan lainnya.

Sebenarnya apa sih yang menyebabkan hati menjadi sakit?
Gundah-gulana tidak menentu, resah-gelisah yang tak tahu sebabnya. Rasanya ingin marah dan berteriak. Mungkin itu sedikit gambaran orang yang hatinya sedang sakit.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sakit hati dapat dipahami sebagai sebuah keadaan di mana seseorang merasa tidak senang karena dilukai hatinya (dihina, dikhianati, ditipu, dan sebagainya).

Secara psikologis, sakit hati merupakan tumpukan emosi yang terakumulasi dan melibatkan perubahan perilaku dan keadaan fisiologis. Sakit hati tergolong emosi negatif yang dapat berpengaruh terhadap perilaku individu dan proses pengambilan keputusan.

Ada banyak penyebab dan tingkatan orang yang hatinya sakit. Dari mulai sebab yang remeh-temeh hingga sebab yang berat seperti dikhianati, dicurangi, dicaci-maki dan lain sebagainya. Pokoknya sesuatu itu bisa menyebabkan orang menjadi marah, meringis, bersedih, menangis sejadinya, atau diam seribu bahasa.

Manusia memiliki emosi yang dinamis, tergantung suasana dan kondisi hatinya.
Seseorang bisa terlihat memiliki sifat dan sikap berkebalikan jika berada pada dua keadaan emosi yang berbeda.

Saat emosi stabil, seseorang bisa tenang dan mudah tersenyum. Demikian pula sebaliknya. Ketika emosi memuncak, seseorang bisa lepas kendali dan melakukan hal-hal di luar kesadarannya.

Lantas bagaimana mengatasinya?

Sejatinya sakit hati terjadi karena hati tidak menerima akan sebuah ketetapan yang berlaku. Hati tidak rela dengan kondisi dan keadaan. Hati tidak rela jika dikhianati oleh yang tercinta, hati tak rela jika dihimpit caci-maki, hati tak rela jika diri tertimpa musibah.

Dari semua ketidakrelaan itulah sakit hati tercipta. Jika saja kita mau belajar menerima dan berdamai dengan setiap keadaan yang berlaku. Dibarengi dengan ikhtiar menjaga hati tetap stabil, tentulah yang dikhawatirkan tidak akan terjadi.

Orang yang beragama tak akan mudah menjadi depresi jika saja ia mau menjalani tuntunan agamanya dengan baik. Karena agama hanya mengajarkan kebaikan kepada pemeluknya.

Memaafkan adalah salah satu cara menjaga kondisi hati agar stabil. Setelah memaafkan maka terimalah kejadian itu dengan lapang, lalu lupakan. Dengan tetap berbaik sangka kepada Tuhan sang Maha segala. Apapun yang terjadi atas kehendak Tuhan. Dan tidak ada keburukan dalam kehendak-Nya.

Wallahu a’lam.
Depok, 28062020

rumahmediagroup//afaf.aulia18


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.