Status Baru

Status Baru

Tidak sengaja aku mendengar obrolan teman-teman sekantor saat itu.  Dari yang mereka obrolkan, ada yang membuatku jadi ingin tahu lebih banyak. Akhirnya aku bergabung dengan mereka, meskipun hanya sebagai pendengar.

Seminggu kemudian, aku bertemu dengan seseorang yang namanya disebut-sebut dalam obrolan teman-temanku dulu. Karena mendengar namanya disebut itulah makanya aku bergabung dengan mereka saat itu.

Dia adalah teman lamaku. Makanya saat tanpa sengaja aku berpapasan dengannya di halaman kantor Dinas Kabupaten, spontan aku berteriak “Hai, Ibu Kepala! Selamat, ya!” Kusodorkan tangan mengajak bersalaman.

Sejenak dia terpaku. Dia menatap seolah tidak mengenalku sama sekali. Dia menerima uluran tanganku dengan begitu kaku. “Oh iya, terima kasih,” jawabnya singkat. Sikap dan tatapannya yang begitu dingin, menyurutkan niatku untuk memeluknya. Bibirnya terkatup rapat. Jangankan sambutan hangat, gurat senyumnya saja tak nampak sama sekali.

Aneh! Benar-benar aku merasa aneh dengan perubahan sikapnya itu! Kini aku merasa jika dia seperti orang asing bagiku.

Dari kejauhan seorang wanita melambaikan tangannya ke arah kami. Dia sigap memberi isyarat dengan tangan bahwa dia akan segera datang.  Sebelum melangkah, dia menatapku sekejap. Tanpa berucap sepatah kata pun, dia meninggalkanku yang masih terpaku. Aku melihatnya bercakap-cakap dengan wanita yang memanggilnya itu. Mereka terlihat begitu akrab.

Beberapa kali aku menggeleng-gelengkan kepala. Ingin memastikan bahwa yang baru saja terjadi bukanlah mimpi. Aku benar-benar tidak mengerti, mengapa dia yang selama ini telah kuanggap sahabat, kini berubah sikap. Sebelumnya, jika kami bertemu, sikapnya begitu hangat. Bahkan, sering aku ditraktir makan saat dia punya rezeki. Begitu pun sebaliknya. Saat aku yang mendapat rezeki berlebih, dia aku traktir makan. Tapi hari ini …. Apa yang membuatnya bersikap seperti itu?

Setelah urusanku selesai, aku begegas keluar dari kantor itu, lalu menuju parkiran sepeda motor.  Baru saja beberapa langkah meninggalkan pintu kantor, aku berpapasan dengan  tiga orang ibu-ibu berseragam. Salah seorang dari mereka menyapaku dengan begitu hangat.

“Hai, Neng! Apa kabar?” Tanyanya sambil menerima tangan yang kulurkan untuk bersalaman. Beliau terbiasa memanggilku Neng. Mungkin karena usiaku jauh lebih muda darinya.

“Alhamdulillah, Ibu. Saya baik-baik saja. Kabar Ibu bagaimana?”  balasku sambil menatap wajahnya yang begitu teduh. Senyum yang senantiasa tersungging setiap kali bertemu, membuat wajah itu selalu enak dipandang. Beliau adalah Ibu Ami. Beliau kepala unit pelaksana juga. Di antara sesama kepala unit pelaksana, Ibu Ami merupakan Ketua organisasinya.

“Alhamdulillah, kabar  Ibu juga baik, Say,” jawabnya riang. “Terima kasih ya,” katanya kemudian.

“Terima kasih untuk apa, Bu?” Tanyaku heran.

“Berkat Neng Nunun, kegiatan kita yang baru lalu bisa terlaksana dengan baik,” katanya lagi.

“Ooh, itu. Kegiatan itu sukses, berkat kerja keras Ibu juga kan? Saya sih hanya membantu sedikit,” kataku. Jujur saja, pujiannya membuatku sangat malu.

Sekilas, kulihat kedua ibu-ibu lainnya menatap kami dengan pandangan penuh tanya.

“Bu Sri, Bu Tuti, ini lho yang saya bicarakan tadi. Neng Nunun yang jadi ketua panitia peringatan Hari Kartini lalu,” katanya pada dua ibu-ibu yang bersamanya.

“Ooh …. Selamat ya, Bu,” yang disebut Bu Sri mengulurkan tangan mengajak salaman. Terlihat cukup ramah juga Bu Sri ini.

“Terima kasih banyak, Ibu,” balasku sambil manggut dan menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada.

“Selamat ya!” Dengan agak tergagap, Bu Tuti,  yang tak lain dan tak bukan adalah sahabat yang tiba-tiba berubah sikap itu, menyampaikan juga ucapan selamat.

“Terima kasih, Ibu,” balasku sambil kembali menangkupkan kedua telapak tangan di dada. Aku pun berusaha mengimbangi sikapnya. Kini aku lebih bersikap terhadap seseorang yang saya hormati, bukan lagi sebagai sahabat.

“Siap jadi ketua panitia lagi, Neng. Sebentar lagi Agustusan lho,” katanya kemudian.

“He he he … Iya, Ibu. Tapi kan banyak yang lain juga, Bu. Mereka lebih kompeten daripada saya,” kataku mencoba merendah.

“Engga ah! Ibu sih maunya Eneng yang pegang kegiatan itu,” katanya dengan nada serius.

“Terima kasih banyak atas kepercayaan yang Ibu berikan. Insya Allah, saya siap membantu. Semoga nanti Ibu tidak kecewa,” kataku lagi.

Setelah mengobrol beberapa saat, kami pun berpisah. Aku langsung pulang. Sepanjang perjalanan pulang, aku masih kepikiran perubahan sikap sahabatku itu. Ataukah aku saja yang bertepuk sebelah tangan. Aku menganggapnya sebagai sahabat. Padahal, dia sendiri sama sekali tidak menganggapnya seperti itu. Aku sempat berpikiran bahwa perubahan sikapnya itu karena kini dia tidak selevel lagi denganku. Kini dia telah berganti status dari pegawai menjadi kepala, sementara aku masih tetap sebagai pegawai biasa. Jangan-jangan, tadi dia menganggapku sok kenal dan sok dekat. Aku sebetulnya sangat tidak berharap jika ada sahabatku yang seperti kacang lupa akan kulitnya.

Tapi, saat Ibu Ami menyapaku dengan begitu hangat, Bu Tuti terlihat begitu kikuk. Ibu Ami memang punya kharisma. Beliau disegani oleh teman-temannya sesama kepala instansi. Malukah dia? Ibu Ami yang dia segani memperlakukanku dengan begitu baik. Sementara dia, memperlakukanku dengan begitu dingin. Seakan-akan dia tidak mau ada yang tahu bahwa kami pernah menjadi teman dekat. “Hari ini, aku kehilangan seorang sahabat,” gumamku.***

#WCR_bebas_cerpensinur

Rumahmediagrup/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.