Surat Cinta Pertama dari Kaka

Surat Cinta Pertama dari Kaka

Siang tadi, tepatnya selepas Zuhur aku dan suami berencana membawakan makanan dan jatah mingguan Kaka di pondok, tapi Qodarallah aku tak bisa pergi ke sana karena si kecil tidur.

Akhirnya, suamiku yang harus ke pondok sendiri. Mengantarkan makanan itu. Aku sudah wanti-wanti untuk menanyakan Kaka beberapa hal jika diberi kesempatan bertemu dengannya nanti.

Karena dari info yang kudapat di grup wali santri, meski aturan pondok belum memperbolehkan orangtua menemui anaknya, tapi dengan berbagai kebijakan karena pada realitanya masih banyak keperluan anak-anak yang kurang, sementara mereka mengemukakan hal itu melalui wartel (warung telepon) yang tersedia di pondok, dengan batas waktu yang terburu-buru karena banyak antrian di belakang dan obrolan yang kurang dipahami, akhirnya anak-anak diperbolehkan bertemu dengan orang tuanya, itu pun dengan jaga jarak dan terhalang pintu pagar pondok.

Namun dengan begitu, komunikasi antara orang tua dan anak pun dapat terjalin dengan baik. Orang tua memahami dengan jelas keinginan dan keperluan sang anak, sementara sang anak sendiri merasa lega harapannya bisa dimengerti orang tua.

Selain itu, tentu saja, kesempatan untuk bertemu meski dengan batas, tapi setidaknya bisa menuntaskan kerinduan dengan melihat wajah dan keadaannya yang baik-baik saja lagi ceria.

Begitu pun yang terjadi pada suamiku, melihat putri yang dicintainya merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri, luapan emosi bercampur jadi satu kala bisa bertemu dengan Kaka. Sebagi seorang lelaki, mungkin ia bisa tahan ditempa berbagai cobaan, tapi sebagai seorang ayah, hati mana yang tak menangis bisa melihat anak pertamanya kembali, walau terpisah ruang dan waktu yang tak begitu jauh dan lama.

Seorang ayah bahkan lebih emosional dengan peristiwa yang berhubungan dengan putrinya meski ia tak menangis seperti ibunya, tapi ia bisa menyembunyikan kesedihannya di balik senyuman yang tersungging di bibir.

Itulah yang dikatakan suamiku. Ia begitu rindu pada Kaka. Betapa bahagianya bisa bertemu dengan sang putri tercinta meskipun hanya beberapa menit saja.

Percakapan mereka pun hanya singkat. Dari pertemuan itu, suamiku menitipkan surat yang dikirimkan Kaka. Aku mulai membacanya perlahan. Belum juga sampai di kalimat yang kedua, air mata ini tak bisa tertahankan untuk tidak keluar.

Rasa haru itu muncul seiring kata demi kata yang kubaca. Ia begitu merindukan ayah bunda, merindukan Mas dan Ade, merindukan keluarganya. Linangan air menyeruak dari kedua netraku, mengaliri pipi tanpa kompromi. Aku terbawa perasaan.

Namun ada hal yang menenangkan hati, Kaka bisa beradaptasi dengan lingkungan baru di pondok, bisa berbaur dengan teman-teman yang baru ditemui, bisa menyesuaikan dengan makanan dan kondisi tempat barunya kini. Aku merasa lega. Setidaknya, Kaka mau membuka diri untuk menerima kenyataan.

Harus sedikit demi sedikit Kaka diberikan kekuatan tentang bagaimana agar ia bisa merasa betah dan merasa satu jiwa dengan pondoknya, hingga untuk berpisah pun ia takkan sanggup. Semoga ia bisa seperti itu suatu hari nanti.

Aku hanya bisa berdoa untuk semua kebaikan-kebaikan putri pertamaku itu. Surat pun tak hanya ditujukan padaku dan ayahnya, akan tetapi untuk Mas dan Ade pun Kaka menuliskan kata-kata dan pesan, terutama untuk Mas Zio sebagai anak lelaki satu-satunya keluarga kami.

Aku mungkin boleh saja terbawa perasaan saat membaca surat dari putriku itu, tapi aku harus segera menguasai keadaan, aku tak boleh berlarut-larut dalam tangisan kerinduan ini, aku harus segera bangkit dan berbalik menjadi penyemangat Kaka yang tentunya masih selalu terbawa suasana.

Surat cinta pertamaku dari anak perempuan pertama, yang kini tengah menuntut ilmu di pondok. Akan kubingkai indah surat itu menjadi sebuah prasasti di hatiku. Kan kusimpan baik-baik setiap kata yang ia tuangkan lewat tulisan, untuk dijadikan kenangan yang takkan pernah terlupakan.

Jika suatu saat ia dewasa, surat itu masih tersimpan rapi, tak hanya dalam hatiku, tapi juga dalam kotak kenanganku. Agar ia tahu, perjuangan yang telah ia lakukan, menapaki satu demi satu kehidupan yang akan mulai ia raih kini.

Kaka, surat cinta pertamamu ini akan menjadi saksi perjalanan hidupmu suatu saat nanti. Akan Bunda simpan baik-baik surat-surat ini, karena kenangan berhak untuk dijaga dan disimpan dengan rapi, agar jika kelak merindukan masa-masa yang telah lalu, hanya akan ada senyuman yang terhias di bibir saat mengingat kenangan itu.

Semoga kau selalu berlimpah bahagia di pondok, putriku tersayang.

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.