Yuk, Melihat Slamet dari Dekat!

Yuk, Melihat Slamet dari Dekat!

Tadi malam, tiba-tiba seorang kawan semasa SMA menelepon.

(Besok ikutan, yuk, ke Pemalang!)

(Ngapain?)

(Cari nanas ….)

(Wokey)

Dan, minggu pagi ini tanggal 28 Juni 2020, berempat meluncurlah kami ke daerah Bilik dekat perbatasan Purbalingga-Pemalang, tentunya dengan memakai masker dan protokol kesehatan lainnya. Biarpun sudah masuk new normal, tetap harus waspada, ‘kan?

Mobil pun melintasi Desa Serang di bawah Gunung Slamet, Purbalingga.
Maka, aku pun merayu temanku untuk mampir sebentar ke basecamp Gunung Slamet di Desa Bambangan.

Rasa rindu untuk naik gunung tak tertahankan sejak masa pandemi Covid-19. Sampai di basecamp saja pun cukuplah, pikirku.

Buat kamu yang belum pernah mendaki ke sini, perlu diketahui kalau kalau gunung bertipe strato ini terletak di perbatasan Kabupaten Banyumas, Purbalingga, dan Pemalang, Jawa Tengah.

Dengan ketinggian 3.432 meter di atas permukaan air laut, membuat gunung berapi yang masih aktif ini menjadi gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru di Jawa Timur.

Gunung Slamet termasuk salah satu gunung yang cukup terkenal di kalangan para pendaki gunung. Jalur pendakian standar adalah melalui Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga. Jalur familiar lainnya adalah dari Baturaden, Gunung Malang, dan Guci Tegal.

Selepas basecamp di Desa Bambangan, desa terakhir di bawah Gunung Slamet, kita akan melewati ladang penduduk. Setelah trek ladang berakhir, akan kita temui pepohonan cemara dan semak belukar. Menanjak sedikit, sebelum masuk hutan, akan terlihat sebuah pondok. Itulah Pos I (Pondok Gembirung).

Kemudian, dari Pos I hingga Pos V, kita akan memasuki hutan rimba yang lumayan lebat dan rapat pepohonannya. Banyak juga akar–akar pohon yang melintang menghalangi jalur pendakian. Terkadang, kita harus merunduk melewati bawah batang pohon itu, atau meloncat di atas batang pohon itu.

Jalur di Gunung Slamet ini terkenal sulit dan cukup menguras tenaga. Apalagi jalur menuju puncak setelah lepas dari vegetasi hutan berupa kerikil dan bebatuan yang sewaktu-waktu bisa longsor saat terinjak. Akan tetapi, pemandangan yang terhampar di depan mata serta kesejukan hawa hutan hujan tropisnya membuat badan fresh dan penat seolah tak terasa.

Untuk pendakian standar, dibutuhkan minimal waktu dua hari untuk naik (kalau saya sih 3 hari hihihi …, kalau dulu pas masih SMA, tektok kuat) dan turun dengan star dan finis di Desa Bambangan.

Diperlukan persediaan air yang cukup jika akan mendaki meskipun di Pos V (Samhyang Rangkah) akan kita temui mata air. Alirannya memang tidak deras, namun cukup untuk mengisi botol-botol yang kosong.

Faktor kesulitan lainnya adalah kabut. Kabut di Gunung Slamet sangat mudah berubah. Selain itu juga pekat. Kadang jarak pandang hanya satu atau dua meter. Jika cuaca tidak sedang bersahabat, sangat disarankan bagi para pendaki untuk membatalkan perjalanan ke puncak demi keselamatan jiwa. (Untuk masalah kabut ini, dua kali saya mengalami pengalaman tidak enak hehehe ….). Cuaca di alam liar ini memang bisa berubah begitu saja.

Jadi, selain membawa perlengkapan pendakian yang lengkap seperti kantung tidur (sleeping bag), jaket, kaos tangan, topi, baju ganti, makanan, minuman, alat masak, obat-obatan, kompas, dan lain-lain, persiapan fisik dan mental juga sangatlah penting. Demikian pula ijin dari orang tua.
Maaf, saya menulis ini bukan bermaksud ‘meracuni’ ya, hahaha … tapi karena kangen mendaki gunung.

Dan, hari ini aku hanya mampir saja di basecamp-nya. Seorang penduduk menginformasikan kalau pendakian BELUM DIBUKA.

Buat yang kangen Slamet, sabar, ya?

***

rumahmediagrup//windadamayantirengganis

Star pendakian dimulai dari gerbang ini. Foto: winda’s collection

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.