Cinta di Hati Rima – Bagian 11

Cinta di Hati Rima – Bagian 11

Sedih? Pastilah!
Marah? Entahlah…

Rasa itu sudah aku rasakan sejak beberapa waktu yang lalu. Hidupku layaknya roller coaster. Naik turun dengan kecepatan yang tak bisa kutahan. Meluncur memacu adrenalin. Taruhannya adalah bertahan atau menyerah. Terombang ambing antara bahagia dan sedih.

Kesedihan tidak harus diterima sebagai ujian. Kesedihan bisa menjadi nikmat bila kita sabar menghadapinya. Nikmat akan tetap menjadi nikmat bahkan bertambah bila kita mensyukurinya.

Kulepaskan dengan doa dan serah sumerah. Kuterima dengan lapang dada. Walaupun itu artinya aku dan Bang Drey tak lagi menjadi satu ikatan. Kecintaan pada orangtua jadi alasan kami mengurai benang asmara.

Malam itu …

“Dek, tidak ada cara lainkah untuk kita? Jika kamu mau dan siap, Abang berpikir sesuatu?” katanya sambil menerawang.

“Entahlah … ”

Kami terdiam. Netra kami memandang langit. Kembali kulihat bulan dan bintang begitu mesra berdekatan. Seperti beberapa bulan yang lalu. Bedanya, jika dulu kami memandang langit dengan penuh harapan indah satu ikatan cinta kali ini di bawah langit yang sama kami harus melepas rasa itu.

“Dek, Abang titip ini ya! Harusnya Abang pakaikan di jari manismu dalam sebuah acara yang sakral. Terimalah! Simpan atau kamu pakai saja karena di sinilah semua rasa telah terukir.”

Bang Drey menyerahkan sebuah kotak kecil berlapis kain suede berwarna hitam. Kubuka dengan perasaan berdebar.

Sebuah cincin indah dari emas putih bertahtakan safir biru berbentuk oval dan dikelilingi oleh berlian kecil yang cantik dan menawan.

Indah sekali.

Sayang, kisah kami tak seindah cincin itu.

====

Lelah … hanya ingin melewatkan satu hari ini di atas tempat tidur saja. Mama dan Papa seolah tahu apa yang kurasakan.

Sebuah lagu mengalun indah dari gawaiku. Ruang Rindu milik Letto. Lagu yang kusukai sejak lima tahun lalu. Baru kurasakan liriknya begitu menyentuh.

Di daun yang ikut
Mengalir lembut
Terbawa sungai ke
‘Ujung mata

Dan aku mulai takut
Terbawa cinta
Menghirup rindu
Yang sesakkan dada …

Jalanku hampa
Dan kusentuh dia
Terasa hangat
Oh didalam hati

Kupegang erat dan
Kuhalangi waktu
Tak ‘urung jua
Kulihatnya pergi

Tak pernah kuragu
Dan s’lalu kuingat
Kerlingan matamu
Dan sentuhan hangat
‘Ku saat itu takut
Mencari makna
Tumbuhkan rasa yang
Sesakkan dada

Kau datang dan pergi
Oh begitu saja
Semua ‘ku terima
Apa adanya
Mata terpejam dan
Hati menggumam
Di ruang rindu
Kita bertemu …

Kau datang dan pergi
Oh begitu saja
Semua ‘ku terima
Apa adanya
Mata terpejam dan
Hati menggumam
Di ruang rindu
Kita bertemu…
Bertemu…

(Ruang Rindu, Letto)

-Bersambung-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.