Kenangan Pahit atau Pelajaran Berharga

Aku memiliki sahabat hampir setiap hari selalu bersama dengannya, entah itu berangkat sekolah, maupun bepergian. Suatu hari, aku mampir ke rumah dia. Kami belajar bersama dengan riang, saat mengerjakan soal ada sedikit kendala. Aku lupa dengan materi yang pernah diajarkan guruku. Lalu kubertanya kepada orang tua temanku. Akan tetapi ada satu percakapan yang menoreh luka di hati ini. Mungkin ini menjadi kenangan yang pahit bagiku, mungkin aku yang terlalu berperasaan.

“Kamu nomor dua sudah?” Tanya Selly “Belum, aku enggak mengerti tadi…” Jawabku. Aku berinisiatif bagaimana jika mama temanku membantu kami dalam menyelesaikan pekerjaan rumah kami. Karena memang kami terkendala kurang memahami materi soal nomor dua.

“Coba tanya ibumu.” Pintaku. “Oh iya, ya sudah.” Sahut Selly.

“Bu, ini bagaimana sih?, Mila lupa cara mengerjakannya. Apalagi aku, sama lupa juga. hehehe” Tanya Selly kepada sang ibu dengan manjanya.

Oon banget sih begini aja enggak tahu … Hihihi” Kata sang Ibu sambil terkekeh. Aku sedikit kaget mendengarkan ucapan ibu sahabatku, kata oon bagiku begitu menusuk kalbuku. Pedih rasanya, sakit juga sih, tapi ya sudahlah mungkin beliau bercanda pikirku.

Namun, mataku sempat berkaca, ada rasa hangat pada sudut mataku. Sungguh saat itu aku ingin mengeluarkan air mata. Namun hatiku menahan dan tetap tersenyum, menganggap itu hanyalah gurauan dan bercanda karena kami memang sudah lama akrab, tak luput dengan sahabat dan keluarganya.

Nyatanya … tak dapat kututupi, walaupun kuanggap perkataan beliau hanya gurauan saja, tetap saja dalam perjalanan pulang aku memikirkan perkataan beliau. Sakit ya ternyata, apa aku begitu bodoh? Apa kebaikanku itu kurang untuk mereka? Ah, bahkan apakah diriku ini ada, di mata keluarganya?

Entahlah, semua itu kulupakan. Aku berusaha baik dengannya. Kusempatkan setiap akan keluar rumah atau ada keperluan sekolah kujemput Selly. Kuantar ia jika ada keperluan keluar, saat aku mengerti materi yang diajarkan tak pelit aku berbagi dengannya. Namun perkataan ibunya begitu melukai kalbuku.

***

Beberapa hari kemudian , Ibunya Selly datang ke sekolah. Aku memang tidak mengajak Selly ke sekolah, karena aku ada keperluan dan sibuk dengan wali kelas-ku. Aku tak perlu mengajak-nya, pikir-ku. Karena, toh ia tak mempunyai keperluan untuk ke sekolah. Aku tak ingin merepotkan-nya, biarlah ia beristirahat di rumah.

Saat di sekolah, ternyata Ibunya Selly mempunyai keperluan untuk bertemu dengan wali kelas. Aku tak tahu, kalau beliau mempunyai keperluan juga dengan wali kelasku. Sayangnya ketika akan bertemu dengan wali kelas, posisi wali kelas ada di lantai tiga. Kasihan juga jika beliau harus naik turun tangga. Untuk itu, biarlah beliau menunggu di bawah.

Namun cukup lama juga beliau menunggu wali kelas, mungkin ada kejenuhan di bawah yang menyebabkan beliau sedikit kesal dengan kondisi harus menunggu lama. Karena ketika beliau menghubungi wali kelas, posisi ponsel wali kelas sedang nonaktif. Akhirnya beliau menelponku agar membawa berkas-nya turun.

Akupun ikut turun, bersama wali kelas yang membawa berkas. Namun ada rasa yang mengganjal di hatiku, kembali beliau menoreh luka di hati. Beliau meminta tolong untuk membawa berkas dengan suara yang tak nyaman didengar. Entah apa yang ada dalam pikiranku. Mengapa aku menjadi sangat sensitif? Apakah ada luka dari kenangan waktu itu, saat kami belajar di rumahnya?

Apakah karena sebutan oon yang terus membekas? Akhirnya menjadi penyebab aku sangat sensitif mendengar perkataan beliau? Luka itu belum mengering, kembali beliau memberikan garam pada luka ini sehingga luka menjadi semakin pedih. Mengapa beliau tak mampu berkata lembut? Apakah karena kami sudah akrab? Apakah karena aku sahabat putrinya? Berbagai pertanyaan menghantuiku.

Selepas menyelesaikan permasalahan dengan ibunya Selly. Wali kelas bercerita, bahwa mengapa aku tak mengajak putrinya untuk ke sekolah. Ya, benarkan salah lagi. Padahal aku tak mau mengganggu putrinya, karena ini keperluanku sendiri ke sekolah. Khawatir ia tak mau juga, aduh setelah luka dan ditaburi garam kini luka itu disiram cuka, semakin pedih dan perih luka itu

“Neng, tadi kata Emak-nya Selly, kamu sih enggak jemput sahabatmu itu.” Tutur Bu Ita. Wah, rupanya begitu, ternyata aku masih disalahkan. Oh dikira saya ojek-nya dia ya? Pikirku. Sungguh menyakitkan, mendengar hal itu langsung dari wali kelasku.

Arrgh, jadi aku hanyalah seorang tukang ojek yang mengantar jemput dia? Baiklah … Anggap saja seperti itu selamanya, karena tak akan merugikan dirimu ini. Gumamku. Alhamdulillah, kini aku mengerti dan memahami maksud beliau. Namun tetap saja, menyakiti hati ini.

Bersahabat itu, saling mengerti dan memahami. Namun janganlah sesekali kita memanfaatkan, bagaimanapun kondisinya, apapun perkaranya, dan di mana pun berada. Tetaplah menjadi sahabat yang saling mengisi dan menguatkan. Janganlah menjadi sahabat jika kita memerlukan saja, se-dekat dan se-akrab apapun kita bersahabat, tetaplah saling menghargai dan tetaplah berkata lemah lembut dan santun.

Komunikasi intinya. Di sini tak ada yang dapat disalahkan, aku yang masih muda memang mesti memahami beliau yang kuanggap sebagai orang tua. Namun aku, anak muda yang punya rasa. Aku yang ingin diperlakukan lembut juga, aku yang ingin diperlakukan santun juga. Mungkin aku yang terlalu terbawa emosi.

Cukup, kututup kenangan pahit itu. cukuplah, kujadikan pelajaran berharga bagiku. Sehingga jika aku kelak menjadi orang tua, aku tak boleh bersikap seperti beliau. Tua usianya tetap harus berkata lembut terhadap yang muda. Apalagi yang muda, aku harus bersikap lembut, sopan dan santun terhadap orang tua atau yang lebih tua.

Wallahu A’lam Bishowab

rumahmediagrup/suratmisupriyadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.