Hanya Sebatas Kenangan

sumber gambar : galery rumahmediagrup.com

Hanya Sebatas Kenangan

Mungkin aku adalah insan yang tak pandai menyimpan kenangan. Masa lalu, buatku hanyalah sebuah jejak yang lambat laun hilang, tersapu bersama hujan. Berguguran bersama gantinya musim semi. Hilang tanpa bekas. Aku juga tidak suka mengenang. Apalagi menyimpannya rapat-rapat, sembunyi dalam memoriku terdalam. Sebagian besar, perempuan memiliki kemampuan mengingat yang hebat. Tapi tidak denganku. Aku selalu berusaha dan menyukai hal-hal yang baru. Tantangan baru menjadikan hal menggantikan kenangan itu.

Begitu juga kenangan tentang hal yang istimewa. Tak banyak yang kuingat, selain kejadian kamu melamarku, melahirkan anak-anak kita, ujian disertasiku. Ada banyak humor, tangis dan keharuan. Kamu adalah satu-satunya laki-laki di masa lalu, dan kini menemani di kisah-kisah masa depanku. Keluarga kecil kita menjadikan satu-satunya perjalanan kisah yang muncul dalam benakku. Tidak ada kisah lama, bahkan seseorang yang dulu aku damba. Kamu dan anak-anakku adalah orang-orang baru yang menggantikan kenangan, dan juga menjadi kenangan nantinya. Begitu seterusnya, hingga aku tiada nanti.

Aku tidak pandai menyimpan kenangan. Sungguh, jika kamu ada di sebelahku, maka kenangan itu akan muncul. Kau yang pandai melucu, dengan pipimu yang tirus, kulit bersihmu. Bahkan perjalanan cinta kita adalah bagian kenangan yang mudah muncul tanpa aku minta. Aku bahkan heran, mengapa kenangan muncul jika dekat dengan kamu? Memaksaku agar kenangan itu muncul sebagai bunga tidur. Lalu, memaksaku juga agar tumbuh kenangan baru tentang keluarga kecil kita. Bukan hanya tentang kita, tetapi juga putri-putri kita.

Aku suka sekali dengan kenangan saat kau memelukku, meredahkan tangisku, dan menyakinkan bahwa kamu laki-laki sejati, yang hanya mencintaiku seorang. Lalu, kenangan itu tidak lagi muncul, karena tergantikan dengan senyummu, tawa ceria anak-anak di rumah. Biarkan berbagai kenangan itu hanya sebagai kenangan. Apalah artinya kenangan jika tak bisa ditemui di kehidupan nyata? Biarkan kenangan itu tumbuh hanya sebatas kenangan, yang suatu saat akan datang jika kamu tetap bersamaku. Senantiasa ada dan hidup dalam canda tawamu dan anak-anak.

Kenangan hanyalah sebuah kenangan, sebatas tipis dengan senyummu. Aku tidak pandai menyimpan kenangan, tapi aku akan menjaganya seperti senyuman yang selalu kau lihatkan padaku, suamiku.

rumahmediagrup/Anita Kristina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.