Nasib kaum Boncengers

Gambar diambil dari pustaka media. Pinjam gambar ya.

Canggihnya teknologi sungguh banyak membantu, terutama untukku. Aku, termasuk kaum boncengers yang sangat membutuhkan aplikasi di salah satu perangkat ponsel. Aplikasi ini sangat membantu, tanpa SIM, tanpa harus memiliki kendaraan. Ke mana saja bisa, tinggal menggerakkan ujung jari semua mampu terwujud.

Boncengers itu istilah yang digunakan untuk para pembonceng sepertiku. Ke mana-mana dibonceng, tak ada yang memberikan boncengan ya tak ke mana-mana. Begitulah nasib para boncengers. Sedikit menyesal saat ini, aku tak mampu menyetir kendaraan. Selain tak mempunyai, memang dasarnya aku tak berani menyetir-nya.

Bukan hal baru sebenarnya aplikasi ini dan benar-benar membantu. Namun saat pandemi belum berakhir, aplikasi ini tidak begitu berperan bagiku. Awalnya mempunyai posisi tertinggi di antara lain. Kini turun beberapa tahap dari aplikasi yang aku punya dalam ponselku.

Sesekali aku gunakan aplikasi ini sekadar memesan makanan. Karena kemalasanku untuk memasak. Itu pun masih taraf percobaan, sekadar snack atau camilan yang kupesan di aplikasi itu. Ada sedikit kekhawatiran ketika memesan. Maklumlah masa pendemi belum berakhir. Kita belum sepenuhnya merdeka, masih ada rasa ketakutan dan kekhawatiran dalam tiap-tiap orang.

Apalagi aku ….

Oh, hari ini begitu terik. Mau tak mau aku harus berangkat. Karena sudah berjanji akan ke sekolah, untuk mengambil jaket kenangan. Jaket kenangan putra kedua, yang baru naik kelas.

Aku harus segera berangkat, Mama Mossa sudah menunggu. Ia berangkat lebih awal karena jarak rumah ke sekolah lumayan jauh. Tak lama ia sudah sampai, berbeda denganku yang masih menunggu bude untuk mengantarku.

Suami sudah berangkat lebih dulu, karena ia pun ada janji dengan rekan kerjanya. Terpaksa kutunggu bude, karena siapa lagi yang akan mengantar?

***

Beberapa menit kemudian, aku melihat pesan di ponselku kalau mama Mossa telah sampai, wah kasihan mama Mossa nanti terlalu lama menungguku. Akhirnya kuputuskan naik angkot.

Panas dan terik matahari siang itu. Sebelum ke jalan raya, aku mesti berjuang dengan jalan kaki menuju angkot. Cukuplah untuk membakar beberapa kalori dalam tubuhku. Ada rasa riang dalam hati wah jarang loh siang-siang membakar lemak.

Hanya beberapa menit saja aku telah tiba di sekolah. Aman deh untuk keberangkatan, bingung lagi saat pulang. Oh, dengan siapa aku mesti pulang? Eit, aku ingat dengan aplikasi di ponselku. Sudah lama aku tak menggunakan jasanya.

Mulailah jariku menari, menulis alamat yang dituju. Kupilih kendaraan beroda dua, wah sempat dahiku mengernyit. Mengapa roda empat yang muncul, oh mungkin salah klik pikirku. Kuulangi lagi memilih kendaraan dan kupastikan benar dan tepat. Tapi ternyata wow masih sama, roda empat.

Harganya sih relatif murah walaupun roda empat, karena memang jarak rumah ke sekolah begitu dekat. Jadi ya masih terjangkau, bukan itu yang menjadi persoalan. Namun malu juga dengan abang-nya karena terlalu dekat malah sangat dekat. Terpleset saja sampai mungkin, tapi karena tidak terpleset aku tak sampai rumah juga.

Eh, jangan-jangan aplikasi ini sudah tak ada lagi kendaraan beroda dua pikirku. Tak putus harapan kucoba lagi dengan mengunduh aplikasi yang lain tapi masih sejenis. Setelah selesai mengunduh, eh aku melihat bang Subur rekanku.

Aih Bang, bisa minta tolong ojekin saya ke rumah?” Alhamdulillah bang Subur mau mengantarku ke rumah. Tak lama, tibalah di rumah dengan selamat. Panas mentari membuatku ingin segera bergegas ke dalam rumah. Aku pamit ke bang Subur untuk masuk ke rumah, setelah memberikan ongkos.

Sesampai di rumah kutuliskan keherananku terhadap aplikasi ini. Mengapa yang muncul selalu kendaraan beroda empat? Ternyata ada siswa yang membaca dan mengirim pesan bahwa memang pada masa pandemi ini semua aplikasi untuk mengantarkan penumpang sementara ditutup. Hanya untuk yang pesan makanan saja. Khawatir akan ada penularan lewat sentuhan dengan bang Ojek.

Tak ada kata terlambat, aku harus memberanikan diri menyetir kendaraan. Agar tidak selalu merepotkan orang lain, zamannya sudah berbeda. Wanita bukan hanya di dapur, sumur dan tempat tidur. Semua harus dipelajari tanpa menghilangkan kodrat sebagai wanita. Peringatan untuk diri sendiri.

Wallahu A’lam Bishowab

rumahmediagrup/suratmisupriyadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.