Sepeda untuk Cici (Cerita Anak)

Sepeda untuk Cici
oleh Saiful Amri, M.Pd.

“Ayo, dorong yang keras, Kay,” pinta Cici.

“Ok, kayuh yang kencang, Ci,” kata Kayyisha.

Kayyisha dan Cici sedang bermain di halaman rumah. Mereka bermain sepeda. Cici mengayuh dan Kayyisha mendorong. Mereka lakukan secara bergantian.

“Bruk!” Kayyisha terjatuh.

Kayyisha terlepas dari sepeda yang didorongnya. Tinggallah Cici sendiri di atas sadel sepeda itu. Sepeda dalam keadaan tak seimbang karena berjalan terlalu kencang.

“Auw … Ibu ….” Cici menjerit.

“Brak!” Sepeda menabrak pagar. Cici terjatuh. Ibu Kayyisha merangkulnya dengan sabar.

“Adakah yang terluka, Ci?” tanya ibu Kayyisha.

“Alhamdulillah, tidak Umi Kayyisha. Cici cuma ketakutan.”

Cici satu-satunya teman Kayyisha yang belum memiliki sepeda. Ayahnya seorang buruh upahan. Penghasilannya hanya cukup untuk membeli makan. Sehingga Kayyisha selalu mengajaknya bermain bersama.

“Kay, Kamu tidak apa-apa?” tanya ibunya.

“Alhamdulillah tidak apa-apa, Umiku sayang.”

Kayyisha tidak mengalami luka serius begitu juga Cici. Namun mereka terkejut melihat sepedanya rusak.

“Wah, sepedaku rusak,” kata Kayyisha.

“Oh, iya. Kita tidak bisa main sepeda lagi,” tambah Cici.

“Tenang, Ci. Insyaallah, nanti kita bawa ke bengkel.”

“Umi, di dekat masjid, ada bengkel sepeda.” Kayyisha menjelaskan kepada ibunya.

“Oh, iya. Sekarang kalian cuci tangan dulu. Mungkin kotor setelah jatuh tadi,” saran Ibu.

Kemudian mereka bertiga menuju bengkel sepeda. Roda depan tidak bisa berfungsi sehingga ibu mengangkat setang sepeda. Kayyisha dan Cici mendorong dengan perlahan.

“Pak, mohon bantuan untuk memperbaiki sepeda ini,” pinta Ibu kayyisha kepada pemilik bengkel sepeda.

“Baik, Bu,’ jawab pemilik bengkel tersebut.

Mereka menunggu dengan sabar. Kayyisha melihat-lihat beberapa sepeda yang dipajang di bengkel itu. Sepeda-sepeda bekas tersebut dipajang untuk dijual.

“Umi, ini ada sepeda yang dijual. Bagaimana kalau kita belikan saja untuk Cici,’ pinta Kayyisha kepada ibunya.

“Wah, ide yang bagus,” kata ibunya.

“Nanti Kay ganti, ya, Umi. Kay punya tabungan yang setiap hari Kay sisihkan dari uang saku,” kata Kayyisha.

“Iya, kamu memang anak umi yang hebat,” puji ibu kayyisha.

Kayyisha mempunyai ide untuk membelikan Cici sepeda setelah melihat beberapa sepeda bekas yang dijual di bengkel itu. Ia meminta izin kepada ibunya membelikan sepeda untuk Cici. Ia menggunakan uangnya sendiri dari menyisihkan uang sakunya.

“Pak, berapa harga sepeda ini?” tanya ibu Kayyisha.

“Harganya bervariasi, Bu,” jawab pemilik bengkel.

“Saya beli yang ini, Pak,” kata ibu Kayyisha.

“Cici, ini sepeda untuk kamu,” kata Kayyisha.

“Terima kasih, ya, Kay. Terima kasih juga, Umi,” jawab Cici dengan senang.

Setelah menunggu sekitar 30 menit, akhirnya sepeda Kayyisha sudah selesai diperbaiki. Kayyisha dan Cici mengayuh sepedanya masing-masing. Ibu mengikuti mereka pulang.

Sumber foto: https://images.app.goo.gl

Rumahmediagrup/ saifulamri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.