Tentang Kita Kemarin (1)

Tentang Kita Kemarin (1)

“Aura, kebiasaan banget sih, asal comot makanan begitu saja, enggak sopan,” teriak mami Alin pada putri bungsunya.

“Maaf, Mami, abisnya udang saus asam manis bikinan mami menggiurkan sih, jadi enggak nahan buat nyomotnya,” ujar gadis yang baru beranjak remaja itu tanpa merasa bersalah.

Dengan tas yang masih digendongnya, Aura menarik kursi makan, bersiap untuk menyendok nasi.

“Ganti baju dulu, cuci tangan dan kakimu, baru kamu boleh makan di sini,” perintah mami Alin dengan galak.

“Yaaah, Mami, langsung makan aja kenapa? Aura udah laper banget ni. Sedari sekolah tadi belum ada isi apa pun di perut Aura ini,”

“Yakin? Terus uang jajan yang Mami kasih tadi pagi kamu pakai buat apa?”

“Aura pakai buat bayar karya tulis yang belum sempat dikerjakan.”

“Maksud kamu?”

“Aura belum mengerjakan karya tulis yang seharusnya dikumpulkan hari ini, jadinya Aura suruh teman terpandai di kelas untuk mengerjakan tugas itu. Sebagai imbalannya, Aura kasih uang jajan buat dia.”

“Yaa Allah, Auraaaa, kamu ini benar-benar kelewatan. Mau sampai kapan sikapmu seperti ini terus. Masih mengandalkan orang lain untuk mengerjakan semua tugas-tugasmu. Kalau begini terus, kamu engga akan pernah bisa masuk sepuluh besar di kelas.”

“Biar aja, Mam, Aura engga peduli, yang penting kan Aura bisa naik kelas.”

“Kamu ini, memang berbeda sekali dengan Aulia…,”

“Stop, jangan selalu bandingkan Aura dengan Aulia, Mam. Aura enggak suka.”

“Kalau kamu engga mau dibanding-bandingkan, berubahlah mulai sekarang, agar Mami dan Papi tak selalu kesal dengan sikapmu yang tak pernah mau dewasa.”

“Aura tak selalu bersikap seperti anak-anak, Mami aja yang selalu merasa tak puas dengan apa yang Aura lakukan. Selalu Aulia yang sempurna di mata Mami dan Papi.”

“Mami tidak berharap sikapmu sama seperti Aulia, tapi setidaknya kamu bisa mencontoh hal-hal baik yang Aulia lakukan. Dia nyaris tak pernah mengecewakan Mami dan Papi.”

“Nah itu, Mami selalu ingin anak Mami sempurna. Aura tak bisa seperti Aulia yang selalu menurut apa maunya Mami dan Papi, Aura ingin bebas menentukan jalan hidup sendiri.”

Setelah berkata begitu, Aura menggeser kursi makan, lalu meninggalkan makanan yang belum sempat di sentuhnya.

“Kamu mau kemana?” tanya Mami Alin sambil menatap putrinya dengan wajah kesal.

Tanpa menjawab, Aura melengos pergi menuju kamarnya.

**

Aura adalah gadis berusia enam belas tahun yang selalu ingin terbebas dari segala hal yang mengekangnya. Aura tak pernah suka selalu dibandingkan dengan saudara kembarnya, Aulia.

Aulia memang memliki kecerdasan di atas rata-rata. Ia pun anak yang penurut, tapi keadaan fisik telah membuatnya berbeda. Aulia harus mengalami kelumpuhan dan duduk di kursi roda, sejak demam tinggi dialaminya saat ia berumur 5 tahun.

Kehidupan Aura dan Aulia pun berbeda sejak saat itu. Meski wajah mereka mirip, tapi kepribadian mereka seperti bumi dan langit.

Aura dengan sikap bebas, kecerdasan yang biasa, cuek, ceria dan pembangkang. Sementara Aulia, dengan kecerdasan di atas rata-rata, mampu mengantarkannya dalam beberapa kejuaraan nasional meski dalam keterbatasan fisik. Selain itu ia anak yang penurut, pendiam dan terkesan tertutup.

Sejak perbedaan itu muncul, Aura dan Aulia jarang bersama. Mereka seperti bukan saudara. Mereka pun menempuh pendidikan di sekolah yang berbeda. Aura lebih memilih sekolah negeri, sementara Aulia dimasukkan ke sekolah swasta, yang sebagian besar anak-anaknya memiliki kecerdasan tinggi.

Karena lokasi sekolah pun yang berbeda, Aura lebih memilih naik ojek langganan ke sekolah, sementara Alia diantar mobil oleh sopir pribadi keluarganya.

Keluarga Aura dan Aulia memang kaya raya. Sang ayah yang seorang pemilik perusahaan properti, telah memiliki banyak cabang di mana-mana. Sementara sang ibu, seorang sosialita pemilik butik ternama.

Aura dan Aulia tumbuh dengan kekayaan yang sama, tapi kasih sayang yang berbeda. Sejak kelumpuhan menimpa Aulia, kasih sayang seakan berlimpah ruah tertuju pada gadis kutu buku itu. Aura seolah tersisihkan.

Tumbuh menjadi anak yang selalu dibandingkan, menjadikan Aura pembangkang dan keras kepala. Ia terkadang mengutuk dirinya sendiri, kenapa dilahirkan sama dengan Aulia. Meski ia lumpuh, tapi prestasi mengangkatnya selangkah lebih tinggi, hingga orang-orang begitu menyanjungnya.

Sementara Aura, merasa tak dianggap penting dalam keluarga, hingga harus mencari perhatian dari dunia luar, dunia remaja yang penuh dengan warna-warni kehidupan.

**

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.