Bila tiba

::Bila Tiba::

“Bila Tiba”, adalah sebuah judul lagu dari group band tanah air yang cukup populer. Berkisah tentang masa saat kehidupan seorang manusia berakhir.

Lagu ini memiliki kenangan tersendiri buat saya. Tentang seseorang yang biasa saja tetapi berjasa bagi saya dan keluarga.

Sekitar 7 tahun lalu, saat sulung kami didiagnosa DBD kritis, harus segera mendapat ruang ICU anak. Usia sulung saat itu 5 tahun. Saya menunggu si sulung di UGD sebuah Rumah Sakit swasta di kota kami. Sementara suami dan om Arif, demikian anak kami memanggilnya, pergi mencari ruang ICU anak. Beberapa RS penuh saat dikonfirmasi via telepon.

Arif ini anak seorang guru senior di lingkungan tempat tinggal kami. Ibunya adalah guru dari suami saya dan mungkin guru dari semua anak-anak di wilayah tempat tinggal kami pada masa itu. Saat ini ibu Arif sudah sepuh dan pensiun mengajar. Orang tua kami sangat dekat dengan keluarga Arif. Saya pun menganggap beliau seperti ibu sendiri.

Hampir setiap sore Arif membawa si sulung mengitari perumahan dengan motornya. Orang yang ramah, baik hati, lucu, dan gak banyak tingkah. Dan saat sulung kami akhirnya mendapat ruangan NICU di sebuah RS di wilayah Jakarta, Ariflah yang mengantar saya dan suami bergantian jaga di RS dengan mobil miliknya tanpa mau dibayar. Padahal mobilnya kerap disewakan kepada orang-orang.

Lantas apa hubungannya dengan lagu tadi?

Saat itu, sewaktu si sulung dirawat selama beberapa hari di RS. Setiap pagi Arif mengantar saya dari Depok ke Jakarta Selatan. Dan menjemput kembali saat langit mulai gelap, karena saya mempunyai balita dan bayi usia 6 bulan.

Sepanjang perjalanan baik pergi atau pulang, Arif selalu memutar lagu itu sampai saya ingat liriknya. Katanya waktu itu, “Mbak, umur itu gak ada yang bisa menaksir ya, bisa jadi saya dipanggil lebih dulu.”
Saya hanya berkata dalam hati, benar Rif, bisa jadi saya yang lebih dulu.

Dua tahun kemudian….

Langit temaram sejak pagi. Suami mendapat kabar dari adik Arif, kalau Arif kembali kritis di RS. Padahal beberapa hari sebelumnya, saya dan anak-anak menjenguk ke rumah. Sudah bisa duduk dan tertawa meski masih terlihat lemah. Sudah bisa mengingat saya dan si sulung yang dulu sering digendongnya.

Si sulung berbisik, “Mi, om Arif sakit apa?”
“Sakit kepala”, jawab saya singkat.

Siangnya, saya mendapat kabar kalau Arif sudah berpulang. Betapa trenyuh hati, dan lirik lagu itu kembali terngiang jelas. Kata-kata Arif bagai sebuah isyarat bagi dirinya. Dan kini menjadi nyata, dia berpulang lebih dahulu.

Arif berpulang di usia yang masih sangat muda. Belum genap setahun menikah. Meninggalkan keluarganya dan istri. Mereka belum sempat memiliki keturunan.
Kiranya maut tak mengenal usia.

“Mati
Tinggal menunggu saat nanti
Ke mana kita bisa lari
Kita pasti kan mengalami
Mati…”

rumahmediagroup//afaf.aulia18

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.