Jauhi Sifat Nyinyir

Pandai nian seseorang jika menilai orang lain. Entah itu menyakiti atau tidak, yang penting terpuaskan hati komentator. Mau kenal atau tidak, ia tua atau muda, tersinggung atau tidak, menoreh luka atau tersakiti. Tak pernah mereka berpikir panjang.

Penting bahagia, terpenting puas memberikan komentar. Hello kalian layaknya netizen. Wajar saja jika menilai para selebriti, mereka pun senang dengan komentar netizen. Tanpa netizen mereka akan sepi dan bukan siapa-siapa.

Jika yang dikomentari bukan selebriti bagaimana? Apakah ada keuntungan bagi kamu? Atau adakah keuntungan bagi yang dikomentari? Sungguh lidah tak bertulang. Peribahasa sunda mengatakan Ulah ngukur baju sasereg awak yang artinya tidak seharusnya kita menilai sesuatu dan mengukur dengan pandangan sendiri

Bahwa pandangan sendiri bukan tidak mungkin keliru atau salah, pandangan sendiri itu biasa lebih subjektif. Maka hendaknya terdapat keseimbangan, yaitu berupa pandangan lain agar pandangan kita lebih objektif.

Ucapanmu wahai saudaraku mencerminkan dirimu sendiri. Patutkah kamu menilai dan mencari kesalahan orang lain, cukuplah menilai diri sendiri. Nilailah diri sendiri, sudah layakkah menjadi penilai apalagi menghakimi.

Tak kenal saja sudah pandai mengomentari, bagaimana jika kita kenal. Apalagi akrab, dan sering berinteraksi. So pasti kamu akan sering bergesekan dengan orang lain. Akan semakin berani kamu menilai dan mengukur. Aduh lidah …

Namun di sinilah kita diuji kesabaran, kesabaran terhadap gangguan yang ada. Bagaimana kita menyikapi semua dengan penuh sabar dan tawakal. Hanya salat dan sabar sebaik-baik penolong.

Seorang mukmin yang bergaul di tengah-tengah manusia lalu bersabar terhadap gangguan yang ada, ia lebih baik dari seorang mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak pula bersabar terhadap gangguan mereka. (Shahih; HR. at-Tirmidzi: 2507, Ibnu Majah: 4022, Shahihul Jami’ 6651 al-Albani)

Kamu yang sering menilai dan berkomentar bacalah kalimat-kalimat di bawah ini.

Tugasmu bukan mencari-cari dosa orang lain. Kau bukan Tuhan yang berwenang menimpakan azab atas keburukan mereka. Kau hanya hamba seperti mereka. Lihatlah dosa-dosamu sendiri dan kasihani orang-orang yang sedang tertimpa musibah! (Awjaz al-Masalik ila Muwatha al-Imam Malik, jilid 5, hlm. 471)

Benar sekali, tidak perlu membuang waktu untuk menilai dosa dan pahala orang lain yang bukan menjadi tugas kita sebagai manusia. Cukup kita menilai dan memperbaiki perilaku kita sendiri. Berhentilah menjadi kaum nyinyir, lebih baik tuangkanlah kepuasan hati untuk berkomentar dengan cara menulis.

Saling menasihati dalam kebaikan itu lebih utama, daripada menjadi kaum netizen yang senang sekali nyinyir. Cukuplah Allah, sebaik-baik Penilai dan Maha menghitung yang satu pun tidak terlepas dari perhitungan-Nya.

Wallahu A’lam Bisshowab

Pengingat diri self reminder

foto diambil dari pustaka media rumedia

rumahmediagrup/suratmisupriyadi

Kembali aku pinjam gambarnya ya kawan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.