Sweet Memory

 Sweet Memory

Dulu, sudah lama sekali, aku pernah mengenyam nikmatnya menuntut ilmu di alam pesantren. Berikut kisah nostalgia nan bermakna itu.

Memasuki gerbang pondok ini, aku langsung disambut dengan senyum ramah dan jabat tangan erat serta  hangat dari para penghuninya. Ucapan salam bertebaran dari lisan mereka. Subhanallah, pikirku, ini hal yang baru bagiku, nuansa berbeda aku rasakan. Ternyata ini kebiasaan pondok, selalu menyebar salam dan menjabat tangan setiap kali bertemu dengan sesama saudaranya muslim, entah itu santri maupun ustadz ataupun orang lain yang datang bertamu. Bagiku sih, ketika dulu aku di luar aku juga biasa mengucap salam atau berjabat tangan, tapi itu hanya sesekali atau kadang kalau lagi suka saja, tidak seperti yang dijalankan di pondok ini.

Kali pertamannya aku canggung harus mengucap salam dan menyalami setiap orang yang aku bertemu dengannya (tentunya sesama ikhwan). Ada perasaan kikuk dan perasaan semisalnya. Kenapa sih harus berlaku seperti ini? Kepada saudara muslim yang kita bertemu dengannya kita mengucapkan salam dan tasofah (berjabat tangan). Sempat terbetik pertanyaan itu di benakku. Ngga biasa karena memang kehidupan di luar pondok ngga biasa seperti itu. Lama-lama akhirnya aku terbiasa dengan apa yang berlaku ini.   Seiring waktu, aku semakin mengerti. Ternyata ini bukanlah sekedar kebiasaan yang biasa saja. Ini adalah kebiasaan yang disunnahkan Nabi shallahu’alaihiwasalam yang mana sudah banyak umatnya yang melupakannya, apalagi mengamalkannya. Mengucap salam adalah doa dan berjabat tangan akan menggugurkan dosa-dosa, menyatukan hati yang renggang dan menumbuhkan rasa kasih sayang di dalam jiwa kaum muslimin. Subhanaallah, betapa agungnya syariat-Mu. Aku tergugu menyadarinya.

Tatkala malam tiba, rata-rata santri hanya tidur beralaskan matras, selembar sarung atau sajadah. Kesenangan nikmatnya tidur di atas kasur ditinggalkan. Bukannya tidak boleh, iklim yang tercipta untuk hidup apa adanya, “memaksa” semua penghuninya untuk tidak memiliki gaya hidup yang berbeda, agar tidak tercipta jarak antara golongan yang berpunya dan yang serba biasa. Indahnya.

Demikian juga yang menyangkut dengan persoalan makan. Kesederhanaan betul-betul ditonjolkan. Kesederhanaan itulah yang kurasakan ingin diterapkan kepada santri, agar mereka menjadi pribadi yang tidak rakus dan bisa melewati hari-hari dengan selalu penuh syukur, seberapa pun nikmat yang diterima. Maka istilah makan dengan “sate” tidaklah asing bagi santri. Sate yaitu sayur terong. Menu lain yang kerap menjadi hidangan sehari-hari yaitu goreng tempe, tahu, mie, sayur kangkung, kubis, berputar seputar itu saja dengan di masak begitu sederhanya. Meski makan dengan kesederhanaan, namun terasa berkah. Buktinya, makan nasi putih dengan garam saja dilidah rasanya tetap saja sedap, sementara menu yang enak-enak di rumah, tidak terlalu berselera seperti waktu di pondok. Kenangan makan berjamaah di pondok dengan duduk nyunnahnya tetap tidak terlupakan. It is sweet memory!

(rumahmediagrup/wahyudinaufath)

Gambar: kompasiana.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.