Ada Kenangan di Prajabnas

Kubuka-buka album foto yang sudah lama tersimpan. Ah,  sayang banget foto-fotonya sudah banyak yang lapuk karena lembab. Tiba-tiba  mataku tertahan pada sebuah foto bersama. Foto 22 tahun lalu saat aku dan teman-teman melaksanakan prajabatan.  Dalam foto itu tampak kami yang berseragam baju hansip lengkap. Sejenak ingatanku melayang pada peristiwa itu. Peristiwa yang memalukan namun juga lucu.

Baru beberapa bulan setelah aku diangkat jadi CPNS,  beberapa teman sudah dapat panggilan untuk mengikuti pelatihan Prajabnas, namun aku belum dapat panggilan. Atas anjuran kepala sekolahku aku disuruh untuk menyusul ke Dinas provinsi,  siapa tahu ada cadangan untuk bisa ikut prajabnas periode itu. Aku pun berangkat sendirian, namun aku berjanji ketemuan dengan teman di sana.

Setelah waktu yang ditentukan tiba,  saya dan teman saya tiba di kantor Dinas Provinsi dan pihak dinas yang menangani hal itu siap membantu untuk memasukkan saya dan teman saya dalam daftar peserta cadangan. Dan kami pun harus siap pulang jika tidak terpanggil. Untuk mempersiapkan segala keperluan mengikuti pelatihan, terpaksa setelah dari Dinas Provinsi saya pulang kampung dulu untuk mencari pakaian yang harus dibawa untuk kegiatan pada saat prajabnas dan yang terutama adalah pakaian PDH Hansip lengkap. Orang tuaku heran kenapa aku pulang.

“Ada apa kamu pulang Neng?” Tanya Bapak

“Saya bisa ikutan prajab Pak, dan saya harus mempersiapkan barang-barang yang harus saya bawa. Kalau di sana kan ga tau mesti pinjam ke mana”. Aku menjelaskan.

“Pak, ada baju hansip lengkap dengan sepatunya ga ya?” Tanyaku pada Bapak

“Ada nih punya Pa Amir,nanti pinjam aja. Kalau sepatunya ada bekas adikmu waktu ikutan Pelmidas”. Bapak menjelaskan.

Alhamdulillah pakaian yang kubutuhkan untuk keperluan prajab,  sudah siap. Besok harinya, Aku kembali ke tempat tugas, meski sebenarnya aku masih betah di kampung. 

Setelah kudapat surat tugas dari atasanku, aku pamit sama ibu kost bahwa selama tiga minggu ini aku ada tugas luar. Dan selama tiga minggu itu aku tidak akan tinggal bersama mereka.

Aku berangkat sendiri ke Cirebon untuk mengikuti Parajabnas. Suami kakak sepupuku mengantarku hingga aku naik bus jurusan Cirebon. Karena aku belum tau alamat tempat kegiatan, Kakak wanti-wanti agar aku nanti bertanya pada orang yang dapat dipercaya. kebetulan ketika sudah berada di kota Cirebon,ada yang naik bus itu seorang laki berpakaian seragam pemda.

“ Maaf Pak, mau tanya kalau mau ke wisma haji saya harus turun di mana ?” Tanyaku kepada laki-laki itu.

“ Oh Neng mau ke wisma haji, mau ada kegiatan apa? Dia malah balik bertanya.

“ Iya Pak, mau ikut prajabatan”. Kataku

“ Oh iya, nanti saya tunjukkan tempatnya”. Katanya sambil menyebutkan tempat di mana saya nanti harus turun.

“ Oh iya Neng, nanti kalau udah di sana kalau butuh sesuatu bisa telpon saya aja tapi biasanya kalau udah di sana peserta ga bisa ke luar”. Dia berkata lagi sambil memberiku nomor telpon kantornya.

“ Iya Pak, terima kasih”. Kataku sambil menerima secarik kertas darinya bertuliskan nomor telpon. Walaupun sebenarnya aku agak takut juga menerimanya. Tapi aku juga berterimakasih atas kebaikannya. Tak berapa lama dia pun turun karena dia sudah sampai di kantor tempat ia bekerja.

Sesaat kemudian aku tiba di tujuanku wisma haji. Setelah melalui proses pendaftaran yang cukup lama, akhirnya saya pun bisa ikut kegiatan tersebut meski di kelas cadangan. Saya bertemu dengan teman saya satu kantor namun berbeda kelompok. Bahkan saya juga senang sekali bisa bertemu dengan teman saya, satu kampus waktu zaman kuliah hanya beda jurusan. Tempat tinggal teman saya ini agak dekat dengan tempat kegiatan prajab. 

Selama tiga minggu mengikuti kegiatan di sana, acaranya sangat padat. Tiap hari mulai pagi diawali dengan kultum dan olahraga pagi sampai malam kami harus ikut kegiatan. Kebetulan sekali waktu itu bertepatan dengan bulan ramadhan. Meski kegiatannya semi militer namun tidak begitu ketat. Selama seminggu itu dari mulai hari Senin sampai Jum’at, kami harus berpakaian seragam putih biru lengkap dengan dasi kupu-kupu untuk perempuan. Dan pada hari Sabtu dan Minggu harus berpakaian PDH hansip lengkap. Setiap hari saya selalu mengikuti materi dengan antusias apalagi saat itu diam-diam saya selalu merasa ada seseorang yang selalu memperhatikan saya dari belakang. Ya, saya selalu memperhatikan betapa selama ini sering curi pandang kepadaku, namun tak pernah menyapa. Dia selalu memperhatikan ketika saya sedang bercanda dengan teman-teman. Bahkan ketika berolah raga pagi pun dia selalu tiba-tiba ada di belakang saya. Namun dia tak pernah menyapa atau ngajak kenalan. Sepertinya dia malu. Hmmm..akupun jadi ke-GR-an. Apalagi sepertinya dia masih  bujangan dan saya pun waktu itu masih singel. Saya tau dia seusia dengan saya.

Ada satu momen yang tak pernah terlupa di kegiatan itu. Saat itu kami siap-siap mau tidur setelah kegiatan malam selesai,seperti biasanya kalau mau tidur ibu-ibu tak pernah lepas dari gosip. Kami membicarakan bahwa biasanya kalau pas jurit malam kita selalu akan dapat kejutan. Kita harus mempersiapkan pakaian hansip kita dengan lengkap. Entah apa yang membuatku ingin sekali mengunci lemari pakaianku,padahal biasanya saya tidak pernah mengunci lemari kalau mau tidur. Tepat tengah malam tiba-tiba kami mendengar suara sirine dan suara ribut-ribut di luar sambil terdengar suara yang membentak-bentak.

“Bangun…bangun…bangun…ada kebakaran…kebakaran…”. Terdengar orang berteriak-teriak dari luar membangunkan kami yang tengah terlelap.

Sontak kami berenam  satu kamar segera bangun dan ke luar dari kamar. Sambil agak bingung aku dan teman-temanku berjalan menuruni tangga untuk ke titik pusat, kebetulan kamarku ada di lantai dua. 

“Ayo, cepat, cepat, kumpul di depan”. Katanya sambil memukul-mukulkan kentongan menyuruh semua penghuni kamar agar ke luar.

Sambil setengah berlari saya berfikir kenapa yang lain belum pada keluar kamar dan berkumpul di tempat yang sudah ditentukan? Hanya  saya dan dua orang teman satu kamar datang ke lokasi lebih dulu sambil kebingungan. Beberapa saat kemudian kami sadar kenapa saya dan dua teman satu kamar saya datang lebih dulu, karena kami ke luar kamar dengan pakaian seadanya hanya yang melekat di badan yang dipakai waktu tidur. Sedangkan teman-teman yang lain datang dengan pakaian hansip lengkap. Pantesan saja mereka tidak segera ke luar kamar, ternyata mereka berpakaian hansip dulu karena hari itu hari Sabtu. Sesuai jadwal kalau hari Sabtu dan Minggu harus berpakaian PDH Hansip lengkap. Tiga orang teman saya yang satu kamar sempat balik lagi ke kamar setelah sadar apa yang semestinya dipakai. Saya dan dua orang teman saya tidak bisa balik lagi ke kamar untuk berpakaian lengkap karena instruktur sudah mengatakan bahwa waktunya sudah habis untuk persiapan. Kami tak sempat untuk balik ke kamar dan berganti kostumi. 

“Ayo semuanya berbaris!” Perintah instruktur kepada kami.

“Yang Pakaiannya tidak lengkap, harap memisahkan diri!” Kata instruktur yang satu lagi

Aduh, malu sekali aku ini karena aku termasuk salah seorang diantara mereka yang salah kostum. Apalagi kesalahanku yang paling fatal. Banyak kejadian lucu yang kami lihat saat itu. Ada yang baru sempat pakai sepatu sebelah, sebelah lagi ditenteng. Ada yang sepatu dua-duanya dikalungkan di leher, ada yang bajunya belum pakai sabuk. Pokoknya macam-macam. Dan yang paling parah adalah saya dan dua teman saya yang hanya berpakaian seadanya. Untung saja waktu itu saya tidurnya pakai kaos dan rok. Sedangkan teman saya yang satu masih memakai daster dan lebih parah jilbabnya tidak dipakai, padahal sehari-harinya dia pakai jilbab. Sungguh kejadian yang paling memalukan tapi kalau teringat juga tertawa sendiri. Akhirnya kami kena hukuman. Dan diibaratkannya kami ini adalah korban tewas karena yang paling parah hanya berpakaian seadanya. Sedangkan yang berpakaian kurang lengkap ada yang dianggap korban luka parah dan luka ringan.

Kami yang jadi korban kena hukuman harus bernyanyi. Padahal aku tidak bisa bernyanyi. Sambil cengesan menahan malu kami pun terpaksa bernyanyi meski tak seindah yang diharapkan. Duh, malunya. Bagaimana kalau dia tahu aku kena hukuman? Pasti dia lagi senyum-senyum sendiri. Aku jadi teringat si dia yang selalu curi-curi pandang. Kejadian bertepatan dengan malam tahun baru. Rupanya para panitia sengaja membuat rencana itu agar kami tak jenuh selama kami dikarantina. Sungguh, bagiku merupakan kenangan tahun baru tak terlupa dan memalukan.

Foto: koleksi pribadi

rumahmedia/imassusilayanti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.