Menghakimi?

Sumber gambar : galery rumahmediagrup.com

Menghakimi?

Semester ini, saya menjadi pembimbing skripsi dengan output artikel. Ada 12 mahasiswa yang memilih output ini. Mengingat bahwa kebijakan ini pertama bagi Jurusan, maka diskusi ringan terkait penyusunan juknis, dan evaluasinya mulai terasa “berat”. Paling tidak, berat bagi saya pribadi. Saya membayangkan dalam membimbing model ini, maka saya harus bekerja lebih keras untuk menyakinkan kemampuan mahasiswa dalam menulis, memilihkan jurnal dan menyusun rapi artikel agar siap masuk jurnal.

Jadi, kesiapan naskah artikel sangat dipengaruhi oleh kesiapan mahasiswa untuk belajar dan fokus dalam menuliskan kembali hasil penelitiannya. Selama ini, hasil penelitian disuguhkan dalam bentuk naskah yang banyak halamannya, dan detail isinya. Namun, sekarang mereka mendapatkan tantangan untuk menuliskan hasil penelitiannya ke dalam bentuk artikel. Tidak mudah bagi mahasiswa untuk menuliskan kembali hasil penelitiannya tersebut dalam bentuk artikel.

Lalu, dalam waktu 2 minggu setelah semua bahan siap diracik menjadi tulisan, maka naskah artikel siap diujikan. Selama ujian, apa yang terjadi? Pada saat ujian, yang dinilai adalah kemampuan menggali ide, menggali urgenitas ide isu dan kemampuan dalam menjelaskan hasil tulisan serta kesesuaian tulisan dengan kaidah-kaidah artikel yang ditentukan oleh Program studi. Selama ujian, berbagai macam karakter dan kemampuan serta pengalaman dosen penguji juga di”uji” .Terlihat bahwa ada kesan, ternyata ada banyak masukan atau saran dari penguji. Tentu saja masukan tersebut sangat ditentukan oleh pengetahuan dan pengalaman penguji dalam menulis dan kearifan yang bijak dalam  “membaca”.

Hasilnya? Sangat di luar dugaan. Ada banyak “nilai” yang dapat saya dapatkan dari ujian yang berlangsung. Diantaranya, tak lelah melangkah dan bergerak seperti angin yang menyejukan menjadi “nilai” tersendiri dalam proses ujian itu. Ada banyak yang memberikan masukan pada naskah, kita harus begini, harusnya begitu, harusnya tidak ada ini, harusnya ditambahkan dengan itu. Apapunlah, namun saya pastikan bahwa dalam proses itu ada terbersit sedikit “nilai” lain. Semacam aksi menghakimi. Mengapa demikian? Saya rasa, masukan dari dosen penguji seperti saran “wajib” yang harus dipenuhi. Padahal, ada seni dalam menulis, ada kaidah dalam menulis, tapi jangan lupa bahwa standar menulis kita bisa jadi berbeda dengan orang lain. Perbedaan itu bukanlah sebuah kesalahan. Bukan berarti pula sebuah kejahatan. Jika demikian, maka masih banyak kewajiban yang harus dilakukan demi melakukan sebuah revisi yang tidak berstandar. Kerangka berpikir tiap orang berbeda. Dan satu lagi, artikel yang dibuat itu layak terbit jika editor jurnal menilainya layak. Penguji hanya berkewajiban memberikan masukan dan saran perbaikan. Namanya juga saran, jika membawa kebaikan maka saran dilakukan. Jika tidak, ya i am sorry. Gitu kan ya?…

Nah, coba pelan-pelan kita kembali pada “peran” masing-masing. Tidak sekedar menghakimi. Begitu juga dengan tulisan ini, menghakimi atau tidak? Sangat tergantung pada “isi” kepala dan “hati” masing-masing pembaca.

rumahmediagrup/Anita Kristina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.