Ibu Mertua (6) – end

Ibu Mertua (6) – end

Aku dengan ketidakberdayaan ini, harus terkungkung menahan rasa ingin bangkit dan kembali ke dalam kehidupanku sebelumnya. Namun dokter tak bisa berbuat banyak, selain jalan terapi untuk kembali memulihkan kondisiku.

Apa aku sanggup menjalani hidup selama masa pemulihan ini? Siapa yang akan merawat anak-anak dengan keadaanku yang lemah, bahkan untuk menggerakkan tangan saja aku tak mampu.

Duh, Gusti, seberat inikah ujian-Mu terhadapku? Tolong bantu jaga anak-anakku yang masih membutuhkan ibunya ini. Kasihan Mas Dimas, harus berbagi waktu dan tenaga untuk mengurusi anak-anak dan pekerjaannya.

Beruntungnya, masih ada yang mau berbaik hati menolong keluargaku. Mbak Lastri, tetangga sebelah rumah yang kebetulan kedua anaknya sudah besar-besar dan mandiri. Dia dengan rela membantu untuk menjaga Amar dan Mala, kedua anakku, selama Mas Dimas tak ada di rumah.

Meski ia tak mau dibayar, tetap saja, waktu yang seharusnya untuk mencari uang, telah terpakai untuk menjaga kedua anakku. Jadi dengan kesepakatan, mas Dimas akan menjamin makan keluarga mbak Lastri selama seharian penuh dan memberikan sedikit upah setiap minggunya.

Mbak Lastri seorang janda dengan kehidupan yang sederhana. Ia bekerja serabutan sebagai tukang cuci dan setrika baju. Terkadang ia bekerja paruh waktu menjadi asisten rumah tangga. Anaknya yang paling besar sudah lulus SMA dan bekerja sebagai buruh pabrik. Sementara anaknya yang bungsu, masih duduk di bangku SMP.

Pengeluaran Mas Dimas terpaksa harus bertambah untuk makan dan upah mbak Lastri selama menjaga kedua anak kami, dan untuk membayar terapiku di rumah sakit.

Ibu mertua terpaksa harus ikut dengan mbak Ani, kakak perempuan Mas Dimas. Saat kepergian ibu dari rumah, ia tak mengucap sepatah kata pun padaku. Ia dingin seperti terakhir kali aku melihatnya sebelum jatuh sakit.

Aku tak ingin memikirkan itu terlalu jauh. Aku hanya ingin fokus pada kesembuhanku. Biarlah sementara ini ibu ikut dengan mbak Ani. Tak mungkin dipaksakan untuk ibu tinggal di rumah, karena takkan ada yang akan mengurus keperluannya.

Selama beberapa Minggu, aku rutin melakukan terapi ditemani mas Dimas. Aku pun mulai berangsur-angsur sembuh. Sudah mulai bisa bicara dan menggerakkan tangan juga kaki. Tepat di bulan ketiga masa terapi, aku dinyatakan pulih.

Lingkungan yang tenang rupanya mendukung kesembuhanku. Selama tak ada ibu di rumah, aku merasa tak ada beban dan derita yang harus kutanggung. Dengan melihat anak-anak yang ceria, senyumku selalu terukir dengan lebar. Keningku pun nyaris tak pernah berkerut.

Meski mas Dimas terlihat lelah, banting tulang mencari uang tambahan, tapi ia selalu bisa menenangkan hati, agar aku tak ikut memikirkan dari mana kekurangan uang yang harus kami tutupi untuk biaya terapi dan upah mbak Lastri.

Entah kenapa, mas Dimas tak mau meminjam uang pada mbak Ani atau mas Agus. Ia pernah bilang padaku, takkan pernah mau meminjam uang pada kedua kakaknya itu, jika tidak dalam kondisi terpepet.

Jika ia masih mampu mencari uang tambahan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ia akan usahakan itu. Mas Dimas pernah mendapat perlakuan kurang enak saat ia mencoba meminjam uang pada kedua kakaknya itu. Sejak saat itu, ia nyaris tak pernah meminjam uang pada mereka, jika bukan untuk kebutuhan ibu yang terpepet.

Walaupun kondisi keluarga kami yang sederhana, tapi aku bahagia memiliki mas Dimas dalam hidupku. Ia dengan semua kesederhanaannya, selalu bersabar dalam menghadapi setiap ujian yang menimpa. Ia jarang mengeluh. Semua beban yang ditanggung selalu ia pasrahkan pada Sang Pemiliknya.

Itulah yang selalu membuatku terharu dan bangga memiliki suami seperti Mas Dimas. Ia lelaki yang saleh dan bertanggung jawab. Kesabarannya melebihi kesabaranku. Begitu pun keikhlasannya, selalu mampu membuatku tersadar, jika hidup adalah kepunyaan-Nya. Jadi untuk apa kita mengeluh?

Hidup akan terus berjalan meski kita ingin menyerah. Beban akan terus ditanggung walau kita ingin pasrah. Semua itu harus tetap dijalani dengan kerelaan hati. Hanya mengharap rida Illahi untuk tetap kuat menghadapi. Aku banyak belajar akan hal itu.

“Ranti ….”

Sebuah suara membuyarkan lamunanku. Aku menoleh ke belakang, asal suara itu memanggil.

Tampak wajah keriput milik ibu, dengan tubuh sedikit terbungkuk dan tatapan teduh menenangkan. Basah kedua netranya mulai menganak sungai. Aku diam dalam keterpakuan. Memandang wajah renta yang tiba-tiba kurindu.

“Ibu ….”

Lirih kupanggil namanya dalam keheningan. Ia bergeming dengan rasa yang tengah kupertanyakan.

Perlahan ibu mulai melangkahkan kaki, menuju ke arah tempatku berdiri mematung. Aku masih nanar tak tahu harus berbuat apa.

Selangkah jarak diantara kami, kembali hening menyergap.

“Selama ini, Ibu telah menjadi bengis karena keegoisan Ibu. Karena sikap Ibu kau menderita. Ibu menyesali kekeliruan itu. Maafkan Ibu, Nak.”

Ucapan ibu mampu meluruhkan hatiku yang telah tertoreh sakit oleh setiap sikap dan ucapannya selama ini. Bagaimana pun perempuan itu adalah ibu mertuaku, selayaknya seorang ibu yang memiliki posisi lebih tua dan patut untuk dihormati.

Ibu mungkin pernah begitu melukai perasaanku, tapi dari semua yang dilakukannya, ibu pasti punya alasan tersendiri yang aku pun takkan bisa memahami.

Jadi, bagaimana bisa aku membenci, sementara apa yang telah diperbuat ibu telah bisa mengubah hati yang keras itu menjadi lunak. Dengan penyesalan dan permintaan maaf ibu telah membuktikan, betapa Allah itu Maha Membolak-balikkan Hati.

Sikap keras ibu perlahan mulai berganti dengan kelembutan yang ditunjukkannya. Aku terharu, bahagia.

“Seorang Ibu belum tentu selamanya benar, dan seorang anak juga tak selamanya salah. Kita sama-sama manusia yang pasti punya khilaf. Mungkin Ibu pernah tidak menyukaimu sebagai menantu, karena kekerasan hati itu membuat Ibu buta akan kasih sayang dan perhatianmu. Sekarang Ibu menyadari, tak ada yang lebih menghargai Ibu selain Dimas dan kamu, Ranti.”

Kedua netraku telah basah mendengar penuturan ibu. Sesuatu telah mengusik hati yang sebenarnya rapuh. Aku mendekati ibu, meraih kedua tangan yang telah berkeriput, menatap wajah sendu yang bersimbah air mata itu.

“Bu, betapa pun Ibu membenciku, aku akan tetap menyayangi dan menghormati Ibu, karena bagaimana pun juga, Ibu adalah ibu mertuaku yang sudah kuanggap ibuku sendiri. Mungkin aku terluka dengan sikap Ibu, tapi aku selalu bisa memaafkan lagi dan lagi.”

“Inikah menantu yang sudah Ibu sia-siakan sejak dulu, yang selalu Ibu perlakukan dengan kasar, yang telah Ibu lukai hatinya hingga mengalami sakit? Sebesar itukah keikhlasan menantu yang tak pernah dianggap mertuanya? Ibu malu.”

Aku memeluk Ibu yang tubuhnya bergetar karena tangisan. Tubuh renta itu masih berguncang dalam pelukanku. Selama beberapa saat ia terhanyut dengan segenap rasa yang menguasai hatinya.

“Maafkan Ibu, Ranti, maafkan Ibu,” bisiknya di sela tangis.

Aku megusap punggung ringkih ibu, menguatkannya dari rasa bersalah yang kini hinggap.

“Aku sudah memaafkan Ibu jauh sebelum Ibu memintanya. Jangan lagi pikirkan itu, Bu.”

Ibu menarik tubuhnya dari pelukanku, disapu air mata yang membasahi pipi, memandangku teduh. Sekilas senyum tipis menghias bibirnya.

“Kau tahu, Nak, bahkan sikapmu jauh lebih terhormat dibanding Ani dan Agus, anak kandung sendiri, bahkan sikap kedua menantu yang selama ini begitu Ibu banggakan, berbanding terbalik dengan perlakuanmu terhadap Ibu. Itulah yang membuat Ibu sadar, kaulah menantu terbaik Ibu.”

“Ibu jangan khawatir, aku dan Mas Dimas selalu ada untuk Ibu. Pintu rumah ini selalu terbuka lebar, jika Ibu ingin pulang ke sini. Kami akan mengurus Ibu dengan baik.”

“Masihkah kalian mau menerima Ibu, setelah apa yang telah Ibu lakukan terhadapmu?”

“Seorang anak akan pulang ke pangkuan ibunya saat ia sudah merasa lelah. Begitu pun seorang ibu, seharusnya pulang ke rumah anaknya, jika ia merasa telah letih. Rumah ini akan terasa lapang jika ada tawa dan doa Ibu di sini.”

Kembali ibu menghambur dalam pelukanku. Seperti anak kecil yang telah mendapatkan keinginannya, begitu pun ibu. Rona bahagia terpancar di wajah itu. Mengulum senyum lega. Aku ikut bahagia.

Di sana, di balik punggung ibu, mas Dimas yang tengah menatap kami tampak menghapus basah di kedua netra, dengan lengkung manis di bibirnya.

SELESAI

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.