KENANGAN, MENIKAHI SENIOR!

KENANGAN, MENIKAHI SENIOR!

Dulu, tidak pernah terbayang dalam benak jika kelak di masa yang akan datang dalam salah satu episode kehidupan yang saya alami adalah menikah muda dengan orang yang tidak diduga sebelumnya.

Jika kembali membuka memori lawas, tanpa sadar sebuah tawa kecil tercipta di wajah atau teriakan seloroh berdua saling mengingat hal-hal yang pernah terjadi saat itu.

Jika anak-anak tahu Bundanya membuka lagi album lawas itu mereka selalu meledek habis-habisan dan menggoda kenapa Bundanya mau menerima pinangan Ayah mereka yang notabene adalah kakak tingkat di kampus tempat kami menuntut ilmu.

Sekian puluh tahun berlalu namun kenangan itu terpatri kuat hingga dasar hati yang terdalam. Lembaran demi lembaran kehidupan bertumpuk hingga membentuk sebuah album yang indah pengingat masa yang telah lewat.

Tahun 1996. Dari kota kecil Cianjur, saya melebarkan sayap dan terbang menuju Jakarta mencari dunia baru untuk menggapai impian di tempat lain. Impian saya kuliah di PTN pupus sudah karena tidak lolos lewat jalur UMPTN. Akhirnya dengan bantuan dan kebaikan adik kandung Mama akhirnya saya bisa tinggal di kota besar ini dan memasuki dunia perkuliahan di salah satu kampus milik Muhammadiyah.

Masa perkuliahan adalah masa yang paling menyenangkan. Bertemu dengan teman baru dengan berbagai karakter, kota, dan suku yang berbeda.

Awal-awal kuliah ada kejadian lucu, beberapa teman sempat menyangka saya orang Palembang asli. Berkulit putih dan bermata sipit. Mereka terkecoh setelah tahu logat bicara saya ternyata … nyunda pisan! Dan logat itu tidak pernah hilang sampai saat ini. Padahal sudah tinggal di Jakarta sejak tahun 1996.

Di saat senang-senangnya kuliah di tingkat satu, saya mulai mengenal sosok kakak tingkat yang cukup dikenal dan berpengaruh di kampus. Dia salah satu aktivis kampus berjaket hijau ini. Kami bisa dekat karena ada dalam satu organisasi yang sama dan faktor persamaan suku walaupun berasal dari kota yang berbeda.

Pembawaannya yang kalem, baik, bersahaja, sopan, dan cerdas otaknya membuat saya menjatuhkan pilihan hati kepadanya di antara banyak pilihan lain yang datang mendekat.
Padahal saya sudah berjanji untuk tidak jatuh hati saat itu. Sekolah adalah prioritas utama.

Hubungan baik, saling menjaga diri, tidak ada sentuhan fisik, tidak ada cerita dikunjungi malam mingguan, diskusi berbagai hal di kampus atau di rumah dengan tante saya adalah sebagian komitmen kami. Saya dan dia dekat tapi mematuhi dan menjaga rambu-rambu yang ada. Kami juga sempat membicarakan hal serius untuk membawa hubungan ini ke jenjang berikutnya.

Qadarullah, di tengah jalan, kami harus berpisah!

Ada kesedihan dan kehilangan pastinya. Bisa jadi saya yang salah karena belum siap diajak serius ke arah pernikahan dan masih kekanak-kanakan. Ada rona kekecewaan yang tergambar di wajahnya.

Sejak saat itu saya menepi dari banyak kegiatan kampus. Banyak suara-suara yang menyayangkan kandasnya hubungan kami. Sekali lagi saya kembali mengingatkan diri bahwa ini mungkin sudah ketentuan Allah. Kami tidak berjodoh.

Hingga akhirnya di tahun 1998 saya kembali dekat dengan salah satu senior juga yang sudah lama lulus dari kampus. Dia salah satu alumni dan aktivis juga di organisasi kampus serta organisasi lain di bawah naungan Muhammadiyah.

Bisa dibilang komunikasi kami saat itu cukup unik. Hanya dengan surat lewat pos. Zaman itu tidak ada yang namanya whatsapp atau sms. Ponsel saja belum ada. Baru ada pager.

Hanya beberapa bulan saling mengenal lebih dekat akhirnya dia memutuskan untuk melamar saya. Tentu saya cukup kaget. Saat itu sekitar bulan April-Mei.

Dia berniat melamar saya sepulang umroh –kala itu saya sudah tingkat dua– setelah merasa yakin dan berdoa di depan Kabah juga tempat mustajab lainnya. Pada saat itu beliau sudah bekerja di salah satu travel umroh-haji plus dan sering bolak-balik ke tanah suci.

Satu hal yang saya ingat dia hendak datang ke Cianjur ketika kami para mahasiswa bersiap mengikuti demontrasi besar-besaran menuju gedung DPR/MPR. Akhirnya saya terpaksa harus pulang ke kota asal. Tidak ada yang tahu rencana ini. Hanya saya, dia, dan keluarga Cianjur.

Saya pikir waktu itu dia hanya sekedar main dan berkenalan saja. Ternyata kedatangannya ditemani seorang ustad untuk melamar saya!

Qadarullah, Papa yang biasanya keras dan tegas mengenai anaknya ternyata menerima lamaran ini. “Bismillah, Papa yakin, laki-laki ini orang baik yang akan melindungi Irma kelak.” Begitu Papa bilang. Saya hanya minta waktu untuk beristikharah meminta petunjuk Allah. Hingga akhirnya datang ketetapan itu.

Bulan November 1998 adalah bulan pernikahan kami hasil kesepakatan keluarga setelah melihat jadwal UTS di kampus. Saat itu saya baru lima bulan menapaki usia 20 tahun.

Rencana menikah muda di saat padatnya kegiatan perkuliahan membuat banyak orang yang menyayangkan keputusan yang saya ambil. Banyak suara-suara yang protes baik lisan langsung bicara maupun tulisan berbentuk surat.

Namun niat saya kuat saat itu, berbeda dengan dua tahun yang lalu. Kali ini saya siap! Saya ingin menikah di usia muda dan jodoh pun sudah datang menjemput. Walaupun ada sedikit ketakutan akan terjadi sesuatu hal.

Saya paham konsekwensi dari keputusan ini, saya kehilangan masa bermain dengan teman-teman seusia!

Tentu keputusan saya sedikit banyak akan mengorbankan hal lain. Saya sudah tidak bisa lagi kongko sebebas masih sendiri. Walaupun masih diberi kesempatan dan tidak dilarang bergaul dengan teman-teman sekampus. Saya sendiri yang secara sadar membatasi diri untuk tidak ikut dalam segala kegiatan kampus.

Setelah menikah saya menjalani dua peran, sebagai istri dan juga mahasiswi. Dan itu butuh perjuangan. Bahkan di tingkat akhir saya sedang hamil. Bayangkan, dengan kandungan besar berada di antara teman-teman yang masih berstatus single saya menjalani masa kuliah.

Bersyukur, saya mendapatkan suami sekaligus teman curhat terbaik yang bisa kapan saja saya temui dan butuhkan. Kedewasaannya membuat saya tenang menjalani peran ganda ini.

Dalam satu titik terendah, ada hal yang membuat saya merasakan “kehilangan”. Saya kehilangan impian. Dulu saya bercita-cita menjadi seorang wanita karier, bekerja di sebuah kantor, dan memiliki jabatan bagus. Namun setelah menikah dan hamil tiba-tiba keinginan itu menguap.

Allah memberikan saya “pekerjaan besar” dengan kehadiran anak-anak yang lahir secara berdekatan. Saat itu pula jabatan saya bertambah. Dari seorang istri saja menjadi seorang ibu merangkap ahli keuangan, koki, pengajar, manajer, konsultan dan desainer dengan masa kerja seumur hidup.

Satu hal yang saya nikmati adalah saya dan anak-anak bisa “tumbuh” bersama karena usia saya dengan anak-anak tidak terpaut jauh. Saya seperti teman buat mereka. Dengan si sulung saja hanya terpaut 21 tahun. Saat ini si sulung berusia 21 tahun, si tengah 18 tahun, dan si bungsu kembar sepasang berusia 16 tahun.

Ternyata, jika kita menikmati dan bersabar plus berpikir positif, sesuatu yang hilang dari genggaman bukanlah pertanda hal buruk.

“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:216)

rumahmediagrup/irmasyarief

5 comments

    1. Iya 98 genting banget. Harga melambung naik. Semua pada teriak. Emas biasanya kisaran 25 rb/gram meroket sampai ratusan rb/gram. Jakarta chaos tuh. Banyak mall yang diserbu dan dijarah. Waah … masih SMA ya?😂

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.