Memaafkan itu Mudah, yang Sulit itu Mengikhlaskan

Memaafkan itu Mudah, yang Sulit itu Mengikhlaskan

Pernahkah kalian menyimpan luka terhadap seseorang dan sulit untuk mengikhlaskan rasa sakit itu pergi?

Entah berapa tahun aku menyimpan rasa sesak menahan luka yang ditorehkan sejak kecil. Kasih sayang yang kuharapkan hanya menjadi bayang-bayang di pelupuk mata, impian semu belaka.

Terkadang aku merasa cemburu, Bakan seringkali marah terhadap takdir yang seperti mempermainkan hidupku. Rasa sakit itu datang dan pergi, mengaduk-aduk jiwaku yang haus akan kasih sayangnya.

Pernah ia datang dalam hidupku, hanya sekadar bertegur sapa, melepas rindu setelah sekian lama tak bertemu. Melihat untuk pertama kali wajah yang kubuat tak berlegenda. Ya, aku merindu, tapi tak ingin menyimpan mimpi terlalu dalam.

Ia pernah hadir dengan kehidupan baru yang telah dijalaninya bersama perempuan lain. Aku mencoba memahami keadaan, berusaha mengikhlaskan apa yang menjadi ketetapan-Nya.

Waktu berlalu dari pandangan mata. Ia kembali pergi dengan keputusannya, semakin jauh, tak terjangkau. Luruh tetesan bening itu membasahi netra, kudekap kecewa itu sendiri, kusimpan rapat luka itu jauh di lubuk hati.

Berharap aku takkan mengingatnya lagi. Berharap aku bisa memaafkan semua kekecewaan yang kuterima. Berharap aku bisa berjalan ringan tanpa membawa beban tentangnya lagi.

Bertahun-tahun aku terus belajar ikhlas semua tentangnya, tapi ternyata aku masih menyimpan luka itu. Masih menangisi kenangan itu. Kenapa?

Kenapa waktu tak bisa menyembuhkan luka? Kenapa takdir seakan mengusik kembali masa itu? Kenapa bayangnya tak pernah bisa pergi dari ingatan?

Adakah yang salah dengan hatiku? Belum cukup kuatkah aku merelakannya pergi dari hatiku? Atau aku yang terlalu memaksakan diri? Membuang semua tentangnya, padahal ia adalah bagian dari diriku sendiri yang tak bisa terpisahkan.

Tak ada yang bisa memahami perasaanku. Betapa luka itu begitu dalam menyiksa. Sekuat apa pun aku mencoba, sekuat itu pula rasa sakit itu mencengkeram kuat.

Tak ada obat yang bisa menyembuhkannya, tak ada penawar yang bisa menghapusnya. Karena luka itu begitu istimewa, ditorehkan dengan indah, justru oleh seseorang yang begitu berharga dalam hidupku.

Seseorang yang darahnya mengalir di setiap sendiku, yang namanya selalu tersemat di belakang deretan namaku. Terkadang kumerasa bangga, tapi kadang kala juga benci. Oh, seharusnya aku tak berbuat sekasar itu.

Namun siapa yang bisa memahami perasaan ini, bahkan diriku pun sendiri sulit untuk mengerti.

Aku telah memaafkan semua kesalahannya di masa lalu, bahkan mungkin di masa yang akan datang, tapi untuk mengikhlaskan, masih sulit kuterima. Hati ini belum merasa lega, jiwa ini belum merasa lapang.

Mungkin butuh waktu lebih lama untuk sedikit demi sedikit mengikis luka itu. Mungkin butuh rasa lebih dalam untuk bisa memahami, jika luka hanya akan menyakiti diri sendiri, hanya akan mencipta air mata.

Aku hanya berharap ia akan mengerti rasa ini, karena ia bukanlah seperti angin lalu yang kehadirannya datang sesaat lalu pergi dan menguar bersama udara. Ia adalah lelaki yang namanya takkan pernah mati di hatiku.

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.