Mereka Ditakdirkan Berbeda

Mereka Ditakdirkan Berbeda

Selaku orang tua, tentu menginginkan buah hatinya tumbuh menjadi anak-anak yang sehat, cerdas dan sholih sholihah. Akan tetapi, tak sedikit orang tua yang merasakan pertumbuhan dan perkembangan anaknya tidak seperti anak-anak pada umumnya, mereka mengalami keterlambatan pada beberapa segi, fisik maupun mental.

Menghadapi hal itu, tak sedikit pula orang tua yang salah dalam bersikap. Mereka menuntut anaknya agar bisa menjadi seperti anak-anak yang “normal” itu dalam keterbatasannya. Mengharuskan sudah bisa ini bisa itu sebagaimana teman-teman sebayanya.

Berawal dari tuntutan demikian, para orang tua ini menempuh cara-cara yang kurang terpuji kepada anak-anaknya demi merealisasikan keinginannya tersebut, seperti dengan cara menghardik, merendahkan kemampuan anak, meremehkan dan membanding-bandingkan dengan anak-anak yang lain atau bahkan dengan saudara-suadaranya sendiri, sampai pada kekerasan fisik.

Alangkah malangnya nasib anak tersebut, mereka tidak tahu kesalahannya apa. Yang mereka tahu hanyalah bahwa mereka belum bisa memenuhi seperti apa yang menjadi tuntutan orang tuanya.  Dan keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan mereka saat itu pun bukan mereka yang menginginkan, bukan mereka yang memilih untuk seperti itu, namun takdir juga yang telah menghendaki. Dan apakah itu pantas disebut sebagai suatu kesalahan?

Orang tua yang seperti ini perlu lebih sedikit bersabar bila mendapatkan anugerah anak yang demikian. ”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.” Demikian firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 286. Teruslah bangun berpikir positif. Yakinlah ada hikmah terbesar dibalik ujian yang Allah berikan. Segala sesuatu pasti ada kelebihannya. Fokuslah pada kelebihan, bukan kekurangan.

Teruslah mencintai buah hati sebagai anugerah luar biasa dari-Nya. Perlakukanlah sama dalam hal kasih sayang sebagaimana saudara-saudaranya yang lain. Hindari cara membentak, mencela, apalagi membanding-bandingkan yang itu akan berakibat pada merosotnya kepercayaan dirinya secara tajam dan justru akan lebih memperparah keadaan, di samping hal itu satu tindakan yang kejam.

Lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, minta kekuatan. Jadikan hal itu sebagai muhasabah diri serta sarana mendidik diri sendiri dalam membangun kesabaran dan optimisme menapak kehidupan. Anak-anak semacam ini berada dalam lintas lingkup, termasuk di dalamnya lingkup pendidikan. Selamat berjuang!

(rumahmediagrup/wahyudinaufath)

Gambar: dunia.tempo.co

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.