Pada Sebuah Kancing

Baju kebesaran bapak sebagai seorang Irup, inspektur upacara di masa perjuangan, memberikan pembelajaran bermakna kepada putra-putrinya. Sebenarnya apalah arti sebuah kancing baju, kecuali sebagai pengait atau penutup.

Aku sendiri tadinya tidak begitu peduli dengan baju kebesaran bapak. Bagiku itu biasa sebuah kenangan masa lalu yang nilainya menjadi sesuatu yang indah bagi pemiliknya, bukan untuk orang lain yang tidak merasakan pada masanya. Itu adalah pemikiranku pada saat itu, ketika bapak masih ada di sampingku, ketika aku tak begitu mencatat apalah arti sebuah perjuangan dalam perjalanan kehidupan.

Setelah bapak tiada, semua benda-benda milik bapak menjadi dimaui anak-anaknya. Mulai dari uangnya sampai kepada bajunya.

Berbeda dengan diriku, aku tak mempedulikan, mereka menginginkan apa dari bapak. Aku hanya mau buku yang bapak miliki yang berjudul 30 Tahun Indonesia Merdeka. Namun sayang sekali buku itu pun raib. Ada yang mengambil tanpa pemberitahuan.

Sudah bertanya ke sana sini. Semua menyampaikan, bahwa mereka tidak tahu. Hal yang tidak masuk akal sebenarnya, tapi apalah peduliku, ini hanya akan menghabiskan waktu.

Baju irup bapak yang ada di dalam almari pun entah ke mana. Namun suatu ketika, aku melihat sesuatu yang aneh pada diri seseorang yang pekerjaannya tukang bersih-bersih. Dia mengenakan baju yang modelnya kebelanda-belandaan.

Karena penasaran aku dekati beliau. Kutanyakan, apakah baju yang dipakainya dapat dari pemberian. Ternyata benar yang memberi adalah saudaraku sendiri. Dengan rayuan yang manis kusampaikan, bahwa baju itu bagus, tebal agar dijaga dan tetap digunakan agar manfaat.  Kemudian secepat kilat aku berpikir apa yang bisa diambil dari  baju tersebut. Itu terjadi pada tahun 2000.

Yah, kutawarkan kepada beliau akan menjadi lebih bagus jika kancingnya berwarna sesuai dengan bajunya. Kemudian aku mengambilkan kancing yang bagus warnanya sesuai dan kancing dari baju tersebut kutukar.

Akhirnya kudapatkan kancing dari baju tersebut. Ini bisa menjadi sejarah mengenang seluruh petuah dari bapak yang penuh dengan kedisiplinan filosofis dalam menanamkan nilai hidup kepada anak-anaknya, agar selalu belajar dalam kehidupan, selalu gigih dalam memperjuangkan kebenaran dan teguh dalam memegang prinsip sesuai hukum yang berlaku baik agama maupun hukum tak tertulis.


Kancing ini berumur 75 tahun. Lebih tua 17 tahun dari umurku sekarang. Aku mendapatkannya pada tahun 2000. 21 tahun menjadi kenangan mendalam dalam hidupku. Mengapa?
Karena bapak selalu mengingatkan kepadaku agar aku menjadi pribadi yang jujur, disiplin, berani karena benar, mengutamakan hal yang penting serta semaksimal mungkin berusaha untuk ringan tangan jika dimintai bantuan oleh orang-orang di sekitar.

Sengaja kancing tersebut kupasang pada baju kerja, karena baju itu secara rutin bisa kugunakan setiap hari Sabtu. Dengan demikian, selalu menjadi pengingat akan nasehat bapak jika terdapat kesalahan yang kulakukan.

Foto: Nurilatih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.