Paradigma Penelitian Religionis

Sumber gambar : galery mediagrup.com

Paradigma Penelitian Religionis

Tulisan ini adalah hasil rangkuman saya saat mengikuti kelas obrolan seru dengan pakar paradigma penelitian religius. Dengan demikian ide pokok dalam tulisan ini adalah pemikiran dari Prof. Iwan Tri Yuwono, pakar Akuntansi Syariah, Universitas Brawijaya. Beliau juga dikenal dengan pakar mulitiparadigma penelitian. Menurut saya, sangat menarik untuk didiskusikan, khususnya bagi saya yang belajar tentang paradigma penelitian religius.

Saya akan menuliskan kembali hal-hal yang terkait dengan paradigma penelitian religiunis. Namun, sebelum menjelaskan paradigma ini, dijelaskan dahulu argumen dalam membangun pemikiran penelitian.

Sebetulnya membangun teori itu bagaimana? Tentu sebenarnya sederhana, tetapi menurut masing-masing orang berbeda-beda. Perbedaan ini berada pada paradigma yang ia gunakan dalam pemahamnnya. Orang yang positivis tentu berbeda dengan orang yang intepretative, dan lainnya. Tiap paradigma memiliki pandangan yang berbeda pula terkait dengan membangun teori ini.

Nah, penelitian biasanya bertujuan untuk menghasilkan konsep atau teori baru. Cara berpikirnya sederhana. Anggaplah teori itu sebagai kue, yang harus diolah melalui alat. Alat ini dinamakan scientific mechine,atau disebut sebagai alat pengetahuan. Tentu juga membutuhkan bahan yakni pengetahuan. Apa pengetahuan? Yaitu segala sesuatu yang kita ketahui, baik dari apa yang kita baca dan yang kita alami (baik secara lahir dan batin). Bahkan saat kita rindu kepada Tuhan, maka itu bisa jadi dinamakan pengetahuan yang berasal dari pengalaman. Bisa jadi, pengetahuan ini acak, tidak beraturan. Sehingga agar pengetahuan ini terformat rapi, maka perlu diolah melalui mesin ilmiah dan akhirnya dihasilkan teori.

Sekarang masalahnya adalah, kita mau memakai mesin yang mana? Ada 7 tawaran mesin, yakni ada 7 paradigma itu. Yaitu : 1). Paradigma positivis, 2). Paradigma interpretivis, 3). Paradigma kritis, 4). Paradigma postmodernis, 5). Paradigma religionis, 6). Paradigma spritualis, 7). Paradigma ilahi.

Kita tinggal milih dari ke 7 paradigma tersebut. Paradigma ini tidak muncul begitu saja, namun muncul dari kesadaran manusia, atau kesadaran yang kita miliki. Manusia itu memiliki kesadaran fisik, dan ini paling dasar. Dan paling fitrah adalah manusia memiliki kesadaran fisik, mental dan spritual, sehingga sangat wajar manusia itu memiliki kesadaran fisik. Kesadaran fisik ini mewujudkan adanya paradigma positivis. Kesadaran ini mengkristal dalam cara pandang tertentu yang orientasinya pada materi dan berdasar pada materi. Hal ini berada pada kesadaran positivis.

Kemudian, kesadaran makna, yaitu tidak puas terhadap kesadaran fisik. Dan kesadaran makna ini disebut dengan paradigma intepretativis. Yaitu memaknai apa-apa yang secara fisik ditemui. Kemudian kesadaran emansipatif, akan melahirkan paradigma kritis. Yaitu jika kesadaran ini muncul dari apa-apa yang tidak disukai, yang membelenggu dia, maka ia akan berusaha membebaskan diri. Kemudian ia melakukan perubahan. Dan kesadaran ini melahirkan paradigma kritis. Kemudian yang ke 4 yaitu, kesadaran transendental, yaitu ia sadar bahwa ada hal lain yang berada di luar fisiknya. Yaitu melalui batasan fisik, dan ini melahirkan paradigma post modernis. Di luar kesadran fiik, dan ia memiliki kesadaran adanya Tuhan dan ia mendalami itu, maka hal ini memunculkan paradigma religus. Bahwa yang paling murni adalah unsur suci ruh yang ditiupakn Tuhan. Dan yang plaing akhir, yang paling murni, yaitu kesadaran ilahi, inilah yang kemudian melahirkan paradigma ilahi.

Tidak akan dijelaskan secara detail dari 7 paradigma tersebut, tapi difokuskan pada paradigm areligius. Masing-masing paradigma memiliki orientasi, tujuan dan metode yang berbeda. Pada paradigma positifis memferivikasi teori (mencocokan dengan hasil), sehingga tujuannya adalah menjelaskan, metode yang digunakan adalah kuantitatif, tetapi serng juga dengan kualitatif atau campuran. Sedangkan paradigma lainnya (6 paradigma lainnya)  memiliki orientasinya yaitu kontruksi teori dan mendekontruksi teori (paradigma kritis). Sedangkan pada paradigma religius yakni berorientasi pada memahami atau mempraktekkan ajaran agama, metodenya religius. Dan pada paradigma spritualis yaitu berorientasi yaitu merasakan keberadaan Tuhan, metodenya spritual. Yang terakhir paradigma ilahi, yaitu berorientasi pada menyatu dengan Tuhan, metodenya adalah metode ilahi.

Sebetulnya, 7 paradigma itu adalah titian jalan menuju Tuhan. Idealnya seorang peneliti bukan hanya meneliti. Yang biasanya berorientasi pada publikasi pada jurnal atau lainnya, tetapi yang lebih mendasar adalah bahwa kita dalam melakukan penelitian yaiitu kembali pada Tuhan. Dan yang menjadi titik awal adalah positivis, dan begitu selanjutnya sampai dengan anak tangga yang ke 7, yakni paradigma ilahi. Jadi, idealnya memang peneliti harusnya berorientasi pada kembali kepada Tuhan.

Bagaimana dengan paradigma religionis. Sebenarnya ini bersifat universal. Berbagai agama. Namun, saat ini dituliskan dalam versi islam. Sesuai dengan konsep diri dan keberadaan diri maka akan memberikan perbedaan dalam memahami paradigma, maka konsep diri berdasarkan poaradigma religius ini maka melihat aku berasal dari Tuhan, dan akan kembali ke Tuhan. Aku adalah wakil Allah di bumi dan mendapatkan amanah untuk memakmuran alam semesta, aku selalu tunduk pada kehendaknya dan akan mengikuti teladan utusanNya, dan aku telah berkomitmen pada bahwa sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah SWT. Keberadaan menurut paradigma religius yaitu sang keberadaan melimpahruahkan keberadaanNya dalam bentuk ayat-ayat verbal dan non verbal. Keberadaan dalam wujud realitas alam dan sosial adalah ayat-ayat Tuhan. Lalu, secara  Ilmu epistemologi yaitu berdasarkan pada tauhid, ilmu yang benar yang diturunkan dari kitab suci, dipahami dan dipraktekkan, ilmu yang memberikan rahmad bagi seluruh alam dan manusia. Nilai  dalam paradigma religius yaitu nilai-nilainya tauhid, nilai religius, nilai kasih sayang, niali ikhlas, nilai jujur dan lain-lain. Metodologi dalam paradigma religius yaitu menggunakan akal rasional yang dibingkai dengan Tuhan, kombinasi kekuatan pikir dan dzikir. Lalu metode dalam paradigma religius yaitu metode penelitian yang meliputi rumusan masalah, desain, koleksi dan analisis data serta kontruksi teori berdasarkan pada pikiran religius. Pikiran religius adalah pikiran rasional yang selalu dilandasi dan dalam bingkai keimanan Tuhan YME dan ajaran agama.

Secara teknis, melakukan penelitian relgius. Hal ini didahului dengan rumusan masalah. Dimisalnya dengan rumusan masalah yaitu bagaimana konsep aset dengan basis al nafs almu’mainah. Lalu desain penelitian dengan desain studi kasus. Atau studi kasus religius yakni studi mendalam pada kasus tertentu pada konteks bingkai ayat alquran.

Jenis datanya apa? Data primer yaitu data yang dikumpulkan secara langsung dari informan. Dan data sekunder yaitu data dari alquran, al hadist, Sunnah dan konteks sosial budaya dari Alwuran dan Sunnah. Metode pengumpulan datanya yaitu observasi partisipan, pengamatan, silahturahmi, atau ngobrol santai.

Teknis analisis data bagaimana? Yang pertama memohon petunjuk kepada Tuhan, memformulasikan alat analisa, melakukan analisis, dan memformulasikan teori baru. Diuraikan seabgai berikut:

1). Memohon petunjuk kepada Tuhan, yaitu meminta kepada Tuhan agar dibimbing, sehingga terdapat kekuatan pada kekuatan pikir dan dzikir. Peranan religius diperlukan, yaitu salih dan peneliti yang memiliki kesalihan kepada Tuhan dan pada manusia. Paradigma ini meminta peneliti untuk selalu berdoa, beribadah, dan bertakwa pada Tuhan sepanjang hidupnya.

2). Memformulasikan alat analisis. Data diolah dengan alat kualitatif berupa premis-premis religius. Sehingga peneliti sendiri yang memformulasikan alat yang digunakan. formualsi ini dapat menciptakan kebaruan melalui alat beberapa ayat alQuran. Ayat-ayat alQuran menjadi alat analisis.

3). Analisis. Yaitu menghadirkan Tuhan dalam ruhnya, melalui berdoa, sehingga peneliti dapat melakukan analisis dengan pikiran religiusnya.

4). Mengformulasikan teori. Peneliti harus tetap konsisten menjaga dirinya pada posisi yang religius. Biarkan pikiran religiusnya membangun teori yang dihasilkan dari premis-premis yang ditemukan pada hasil. Dan peneliti selalu bersyukur karena sudah memformulasikan beberapa teori melalui Tuhan.

rumahmediagrup/Anita Kristina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.