Semua Tinggal Kenangan

Semua Tinggal kenangan

Sebetulnya saya ingin mengubur dalam-dalam kenangan ini, agar hilang dari ingatan. Tapi semakin datang keinginan itu semakin teringat kenangan tersebut.
Padahal jika teringat terkadang senyum-senyum sendiri, hmmm….

Kenangan yang tak terlupakan saat saya duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), tepatnya kelas IX di sekolah SMP yang ada di kota Subang. Saat itu saya mulai masuk masa puber remaja. Saya mulai menyukai lawan jenis, dan memilih kriteria yang saya inginkan.

Melihat-lihat teman di sekililing kelas tidak ada yang cocok dengan kriteria saya, di kelas sebelah juga tidak ada yang menarik. Ah…geer ya…padahal laki-lakipun tidak ada yang tertarik padaku. Sepertinya mereka melihat saya yang berpenampilan tomboy.

Suatu hari saya bersama sahabat saya panggil aja namnya Era,
“Nay kita makan bakso yuk!”
“Yuk!”
Saya dan Era pergi ke warung bakso yang ada di depan sekolah di sebrang jalan.
“Mang baksona campurnya mang”
“Abdi baksona wae mang”
Kami berdua memesan bakso dengan bahasa sunda.
Kami asyik menikmati bakso mang ujang yang memang langganan siswa SMP 2 kota Subang. Selain rasanya enak juga harganya terjangkau.

“Wah aya nu geulis yeuh Fik”
Tiba-tiba datang dua laki-laki menggunakan seragam SMA.
“Boleh atuh gabung neng?”
Satu orang lagi meminta kepada kami. Kami berdua mengangguk dan senyum. Kemudian mereka duduk di depan kami.
“Mang pesen bakso ih dua!”
“Campur jang?”
“Sip”
“Boleh kenalan neng?” Fikrah bertanya.
“Ih sayakan udah kenal” Saya menimpali.
“Siapa?”
“Tuh dia Ilyas” Saya memandang ke arah Ilyas. Ilyas terlihat sedikit grogi.
“Ah kamu Yas! Saya kira kamu belum kenal?”
“Sssttt!, pura-purana teu kenal”
Akhirnya kami berempat asyik mengobrol.

Setelah selesai kami kembali ke kelas, meninggalkan Ilyas dan Fikrah yang masih mengobrol di warung bakso.
“Yuk kita masuk ke kelas ya?”
“Hati-hati ya neng!” Kami tersenyum.
“Nay!” Ilyas memanggil , saya menghentikan langkah.
“Pulangnya bareng ya?” Saya masih ragu menjawab. “Mau gak?” Sedikit memaksa.
Saya hanya menganggukan kepala, tapi kenapa hati saya berdebar kencang dan ada rasa berdebar?.
“Cie…” Era meledek saya.
Ada rasa senang dengan ledekan Era.

Teng! teng! Lonceng tanda waktu pulang berbunyi. Sepertinya saat ini saya tunggu-tunggu. Saya langsung berlari menggandeng tangan Era dan melihat-lihat di depan warung bakso, di sana sudah terlihat Ilyas berdiri bersama Fikrah dengan senyum manisnya.
“Nayla! Iih…sakit tahu!” Era mengeluh tangannya. Saya tersenyum “Ya maaf!”
“Neng kita jalan kaki aja yuk! Biar lama kita ngobrolnya” Ilyas sambil tersenyum.
“Iih kan cape” Era menimpali.
“Kalau ngobrol sareng nu ganteng mah moal cape” Fikrah juga menimpali, sambil tersenyum.

Akhirnya kami berempat sepakat untuk pulang dengan jalan kaki. Kami mengobrol dan saling tertawa. Sampai melewati rumah Era, Fikrah berhenti menemani Era mengobrol, sedangkan saya dan Ilyas melanjutkan perjalanan sekitar 2 Km lagi.
Entah kenapa kami berdua jadi bisu tak ada kata-kata yang keluar dari mulut kami. Ilyas hanya menendang-nendang botol kosong yang ada di jalanan. Saya menunduk melihat botol itu melompat-lompat karena tendangan Ilyas.

Dalam hati saya mencari-cari bahan obrolan padahal rumah saya tinggal 1 km lagi. “Il!” “Nay!” Kami mulai bicara berbarengan. Kami langsung tertawa bersamaan. “Kamu dulu deh!”
“Kamu aja!”
“Ah ga jadi”
“Ya udah aku mau ajak kamu nonton yuk ntar malam, mau ga?”
“Ya aku mau” spontan saya jawab.

Entah saya merasa bahagia dengan ajakan Ilyas, atau saya yang terlalu ge’er, he…he…

Sampai di rumah saya langsung mandi dan salat kemudian membantu ibu menyiapkan makan malam.
Ketika saya masih tersenyum-senyum sendiri, ibu memperhatikan. “Nayla! Kamu kenapa? Lagi seneng ya?”
Saya tersenyum. “Bu boleh ga aku nanti malam nonton bioskop?”

Ibu tidak menjawab hanya melirik ke arah bapak, sebagai tanda bahwa keputusan ada di tangan bapak.
“Boleh pak?” Saya minta persetujuan bapak.
“Sebaiknya ga usah, emang nonton sama siapa?” Bapak balik bertanya.
“Sama Ilyas pak, anak Rt sebelah”
“Ngapain sama anak itu?”
Nada bicara bapak meninggi, sepertinya tidak setuju. Saya masuk ke kamar dengan hati kecewa.

Saya merenung bagaimana caranya saya memberitahu Ilyas?
Jam dinding menunjukan pukul 19.30, WIB, suara suit…suit…Ilyas di depan rumah, sebagai tanda sudah menunggu. Saya masih belum menemukan cara untuk memberitahu Ilyas. Akhirnya saya keluar kamar dan memberi tahu ibu.
“Bu Nayla keluar main ya….”
Ibu hanya melirik.

Ilyas menggunakan kaos oblong warna putih, terlihat rapi dan keren kekinian, saya tersenyum melihat Ilyas yang terus memperhatikan saya.
“Yas maaf ya…saya ga bisa pergi nonton sama kamu”
“Kenapa?”
“Ga boleh sama bapak”.
Oh ya sudah gapapa, padahal filmnya bagus loh”
“Emang film apa?”
“Lupus”
“Ih…bagus tuh”
“Ya sudah nonton yuk!”
“Nanti di marahin bapak”
“Ga papa dimarahinkan udah nontonnya”
Akhirnya saya kena rayuan Ilyas untuk pergi nonton.
Saya serius nonton film “Lupus” yang sempet digandrungi anak remaja.

Selesai film Lupus berakhir, kamipun langsung pulang, sebelun saya masuk ke dalam pagar, Ilyas menarik tangan saya, “Nay! Makasih ya…. sudah mau temenin saya nonton”
Saya hanya mengangguk, untung lampu remang-remang, jadi Ilyas tidak melihat pipi saya yang merona.
“Saya masuk ya?” Saya meminta ijin pada Ilyas.
“Jangan lupa mimpiin saya ya?”
Saya mengangguk lagi, tanda setuju.
Saya masuk ke dalam rumah, di ruang tamu ada bapak menunggu.
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam” “Nayla! Sudah bapak bilang, ga boleh nonton sama si Ilyas”
“Kenapa sih pa?”
“Kamu itu masih sekolah jangan pacaran dulu!” Suara bapak semakin meninggi. Saya masuk ke kamar tanpa pamit.

Saya mulai bersiap tidur, setelah cuci tangan dan kaki. Setelah berdo’a sebelum memejamkan mata, saya mengingat pesan Ilyas. “Jangan lupa mimpiin saya ya!”
Dalam hati saya berdo’a semoga Allah memberikan kehadiran Ilyas dalam mimpi saya.

Esok hari saya merenung, mimpi semalam, saya dan Ilyas menjadi sahabat dekat, sering main bersama, berangkat dan pulang sekolah bersama, tetapi saya selalu di marahi bapak, sampai saya di pukuli bapak dan sakit. Untung saja cuma mimpi.

Saya menyadari bahwa pendapat bapak benar, kalau saya harus fokus sama sekolah dulu, jangan terburu pacaran. Jika Ilyas menjadi jodoh saya, pasti Allah akan pertemukan kembali. Aamiin

Bekasi, 5 Juli 2020
Sumber gambar ; Canva
Rumahmediagrup/Maepurpple

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.