WIL-nya Mecoindo

Sore yang cerah, mentari tampak mulai condong ke barat. Di jalanan banyak muda-mudi yang lagi jalan-jalan sore menikmati keindahan sore itu. Namun tidak bagi Yanti, seorang gadis yang baru saja lulus S-1 di salah satu Perguruan Tinggi di kotanya. Hari-hari yang dilaluinya terasa membosankan. Ia merasa kebingungan sejak dia lulus kuliah, ia belum mencoba untuk mencari pekerjaan yang cocok dengannya. Sang ayah yang juga berprofesi sebagai guru tak mau mengajaknya untuk ikut mengajar di tempatnya bekerja. Ia merasa kasihan kepada putri semata wayangnya itu karena gaji yang didapat seorang guru honorer tidaklah seberapa. Yanti pun sudah mulai jenuh dengan rutinitas yang mulai dijalaninya. Dan yang menjadi beban pikirannya ketika dia mendengar ucapan ayahnya.

“Duh, lihat kamu begitu terus Neng, ga ada kerjaan tiap hari tiduran aja kerjamu”. Ayah berucap seperti itu.

Yanti hanya diam saja tak menjawab ucapan ayahnya. Namun perkataan itu telah membuatnya berfikir. Mungkin orang tuanya sudah bosan melihat dia. Atau mungkin juga dia sekarang malah menjadi beban orang tuanya. Sedangkan dia tak pernah ke mana-mana. Di kampungnya anak gadis seusia dirinya kebanyakan sudah bersuami. Namun karena Yanti punya cita-cita ingin bekerja dulu sebelum menikah, sehingga sampai usianya menginjak dewasa ia belum juga punya pasangan. Jangankan punya pasangan, pacar atau teman dekat aja tidak ada. Mungkin itu yang menjadi kekhawatiran orang tuanya.

Suatu hari ada tamu ke rumahnya.

“Assalamualaikum “. Suara salam dari luar.

“Waalaikumsalam, eh Ene , masuk Nek!” Yanti menjawab salam sambil mempersialhkan tamunya masuk.

“Mamah ada?” Tanya tamu kepada Yanti.

“Ada Nek, sebentar saya panggilkan”. Jawab Yanti

Ene adalah panggilan Nenek kepada tamu tersebut. Yanti memang harus memanggil tamunya dengan sebutan Nenek karena tamu itu adalah anak dari sodara neneknya. Dan ibunya memanggil Bibi kepada tamu tersebut.

“Neng, udah beres kuliah?” Tanya tamu tersebut setelah Yanti datang lagi menyuguhi minuman kepada tamunya.

“Udah Nek, biasa kuliah sekarang bosan di rumah terus”. Jawab Yanti

“ IKut kerja aja atuh sama Bi Eli di Bekasi, sambil nunggu kerjaan yang cocok”. Tamu tersebut menyarankan Yanti untuk ikut adiknya yang sudah lama bekerja di kota tersebut. Karena adik si tamu itu seusia Yanti, yanti lebih enak memanggilnya Bibi, karena takut merasa ketuaan kalau manggil Nenek.

Setelah itu ibu Yanti datang dan ngobrol dengan tamunya itu. Yanti pergi tak mau menguping pembicaraan mereka.

Semenjak ditawarin oleh Neneknya itu, yanti mencoba ikut pergi berkunjung ke rumah saudaranya itu. Namun orang yang akan ditemuinya itu ternyata tidak tinggal bersama Kakak-kakaknya. Ia Kost tidak jauh dari rumah Kakaknya itu. Dengan diantar oleh Kakak laki-lakinya Bi Eli, Yanti menemuinya di tempat kost. Dan setelah bertemu Yanti menceritakan maksud kedatangannya ingin ikut kerja bersama bibinya itu. Akhirnya atas rekomendasi Bibinya itu, Yanti bisa diterima kerja di perusahaan yang sama dengan sodaranya itu.

Suatu hari sebelum Yanti bekerja ia diwawancara oleh atasan sodaranya.

“Kamu bener mau kerja di sini? Ijazah kamu kan sarjana”. Tanya pimpinan bagian produksi.

“ Benar Pak, Ga apa-apa ko “. Jawab Yanti

“Apa yang membuatmu ingin bekerja di sini?” Tanya beliau lagi

“Selain cari pengalaman tentu saja saya ingin punya penghasilan Pak agar tak menyusahkan orangtua”. Yanti menjawab.

Akhirnya setelah wawancara itu selesai, Yanti diterima dan saat itu juga dia boleh bekerja. Ia diterima langsung oleh bagian produksi tanpa harus ke bagian personalia. Yanti tidak merasa gengsi bekerja di sana meski ia ditempatkan di bagian produksi yang tak sesuai dengan ijazah yang dimilikinya. Kemudian Yanti diantar oleh pimpinan bagian divisi itu ke tempat kerjanya dan diberitahu apa saja yang mesti dikerjakan. Tentu saja banyak mata memandang ke arah Yanti karena mereka tahu kalau Yanti adalah karyawan baru. Bisa terlihat dari pakaianya yang belum mengenakan baju seragam yang seharusnya dipakai oleh karyawan bagian produksi. Sambil bekerja Yanti berkenalan dengan teman –teman di sekitarnya. Bertanya asal-usulnya dan pasti mereka penasaran kalau lihat anak baru. Banyak yang menggoda Yanti, terutama para karyawan pria.

“ Hei, kamu asalnya dari mana?” Tanya salah seorang pemuda

“Dari Tasik”. Jawab Yanti.

“Eh, denger-denger katanya kamu pernah kuliah, jurusan apa?” Tanya dia lagi

“Jurusan Tasik Bekasi”. Jawab Yanti sambil tersenyum ngisengin mereka yang sedari tadi memperhatikannya.

“Ih, ditanya serius, kamu malah jawabnya guyon”.

“Kamu katanya sodaranya Eli Ya?” Tanya pria yang lain

“Iya”. Jawab Yanti sambil tersenyum dan memandang kea rah yang bertanya.

“Anjiiiiir…bener deng, senyumnya mirip Eli”. Dia berseru

Itulah beberapa keisengan dan kepenasaran para karyawan terhadap anak baru. Beberapa karyawan wanita hanya memperhatikan saja. Mungkin di antara mereka ada yang merasa takut tersaingi atau pun ada juga yang ingin dekat dengannya. Itu lumrah terjadi. Di setiap tempat, baik di tempat kerja ataupun di sekolah biasanya hal itu pasti terjadi. Hati orang tak akan ada yang tahu.

Ketika jadwal makan siang semua orang menuju kantin. Karena Yanti belum punya teman dekat ia makan siang sendirian. Sedangkan bibinya yang bekerja di situ jadwal masuk sift siang. Ia belum tahu situasi di sana, tadi ada yang ngajak makan bareng tapi karyawan pria. Yanti menyuruhnya makan lebih dulu. Ketika Yanti makan sendiri tentu saja ia jadi pusat perhatian. Mereka tahu bahwa dia anak baru, termasuk petugas kantin juga senyum-senyum padanya. Yanti ga enak hati karena ia merasa semua mata yang ada di kantin memperhatikannya saat makan. Yanti menyantap makanan itu tapi tidak bisa menikmatinya. Ia menyesal kenapa tadi tidak bareng saja dengan teman yang ngajak makan bareng. Dan semua itu adalah pengalaman di hari pertama ia bekerja.

Setelah dua bulan berlalu, di pabrik itu ia seolah-olah menjadi primadona. Banyak laki-laki yang ingin mendekatinya. Bahkan ada yang mengatakan bahwa Yanti adalah WILnya Mecoindo. Tapi Yanti merasa biasa saja. Tak ada yang istimewa dalam dirinya. Kini Yanti sudah punya sahabat dekat namanya Mbak Endah. Dia sudah punya suami seorang TNI. Orangnya kocak dan familiar. Mbak Endah itu orang yang penuh perhatian. Ia selalu tahu siapa saja laki-laki yang berusaha mendekati Yanti.

“Yan, Yan liat tuh si Bido, ia liatin elu terus”. Kata Mbak Endah kepada Yanti

“Bido ? siapa Bido Mbak?” Tanya Yanti heran

“Si Bido, bibir dower ha… ha… ha…”. Kata Mbak Endah sambil tertawa.

“Yang mana Mbak?” Kata Yanti belum paham.

“Itu tuh !:” Kata Mbak Endah sambil memberi isyarat dengan sudut matanya.

Yanti melihat ke arah laki-laki yang dimaksud oleh sahabatnya itu.

“Ooooh…dia…”. Kata Yanti sambil tersenyum.

Orang yang dimaksud Mbak Endah namanya Eko. Dia orang Ambon. Orangnya item dan semua tahu bahwa kebanyakan orang Ambon seperti itu dengan bibir tebalnya. Ada-ada saja Mbak Endah ini kalau manggil orang.

Selain Mas Eko, ada lagi laki-laki yang PDKT kepada Yanti. Ada Sodik, Panggih, dan Chairun mereka orang Jawa, ada Umar orang NTB dan yang lainnya. Mereka sering dekati Yanti kalau lagi bekerja. Pura-pura membantunya sambil ngajak ngobrol. Bahkan ada lagi laki-laki yang katanya diam-diam ingin dekat dengannya. Yanti tahu semua itu dari sodaranya. Ia senang kalau Yanti mau kerja lembur. Kadang kalau Yanti mau kerja lembur, ia juga ikut lembur. Yanti selalu siap kalau disuruh kerja lembur, karena dia merasa di tempat kost pun dia tak punya kesibukkan. Sebenarnya perasaan Yanti biasa saja. Dia menganggap semua adalah teman-temannya.

Melihat ketekunan dan keuletan Yanti, atasan Yanti yang dulu menerimanya bekerja bermaksud memindahkannya di bagian gudang. Mungkin juga beliau merasa kasihan karena Yanti mempunyai pendidikan yang lebih tinggi dibanding teman-temannya di bagian produksi. Bagi Yanti kerja di bagian produksi pun ia sudah merasa nyaman. Tapi dia menghargai usaha atasannya. Ia mencoba dites dulu oleh pimpinan bagian gudang. Ia diwawancara lagi sampai ditanya judul skripsi segala. Dalam hati Yanti tersenyum karena pertanyaannya tak sesuai dengan bidang pekerjaannya. Setelah diwawancara ia pun dites keahlian komputernya. Yanti bingung ketika dia harus menyalin berkas. Ternyata pelajaran computer yang pernah dipelajari di tempat kursusnya masih tingkat dasar. Dan ia pun gagal untuk dipindahkan ke bagian gudang. Tapi Yanti tidak terlalu kecewa mungkin belum waktunya karirnya di situ. Ia bersyukur masih bisa bekerja di perusaahaan itu. Ia sudah nyaman dengan teman-temannya di bagian produksi. Ia yakin suatu saat semua akan berubah. Dan satu hal yang jadi pembelajarn baginya. Ternyata ilmu atau skill yang dimilikinya masih belum ada apa-apanya. Ia ingin sekali memperdalam ilmu komputernya. Suatu saat nanti.

foto: Qerja.com

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.