Kerinduan Kaka pada Ade

Kerinduan Kaka pada Ade

Sabtu, 4 Juli kemarin, aku, suami dan putri bungsuku menyambangi pondok pesantren Kaka untuk memberikan jatah mingguannya. Ya, sengaja aku memberikan uang saku setiap minggu.

Bersyukurnya jarak rumah kami dan pondok tak begitu jauh, sehingga dengan mudah kami bisa mengunjungi Kaka di setiap minggu. Meski protokol kesehatan tetap menjadi aturan utama, kami tak kehilangan momen melepas rindu.

Walaupun pertemuan itu terhalang jarak pagar dan portal pondok, tapi setidaknya kami masih bisa berbincang-bincang.

Siang itu, selepas salat Zuhur, kami menunggu Kaka di balik gerbang pondok. Tak berselang lama, tubuh kecil Kaka tampak berjalan ke arah kami bersama seorang temannya.

Air mata tertumpah ketika kami sudah saling berhadapan. Mungkin kerinduan itu begitu kuat dalam dadanya, hingga tak bisa ia simpan begitu lama. Aku biarkan itu selama beberapa saat. Aku yakin, ia melihat adik kecilnya dalam gendongan sang ayah.

Ia begitu rindu pada Ade Zora, adik yang setiap waktu selalu bersamanya, dalam penjagaan dan dalam pengasuhannya. Bagaimana rindu itu tak melimpah ruah terhadap sang adik bungsu?

Aku membiarkan Kaka melepaskan rindu pada Ade. Ia memeluk dan menciumi Ade. Senyum itu pun terhias di bibirnya kala Ade mulai berceloteh riang.

Setelah menuntaskan rasa rindu pada adiknya, aku pun mulai bertanya mengenai kebutuhannya di pondok. Kami saling bertukar cerita. Pertemuan kami terhenti sejenak karena ia harus makan siang.

Kami pun menunggu di kursi tunggu wali santri yang tersedia di depan gerbang. Setelah makan siang, Kaka kembali menghampiri kami dan mulai melanjutkan pembicaraan yang sempat terhenti.

“Kaka mendapat nilai terbaik imla di kelas 1, Nda,” ucapnya kala menceritakan tentang proses pembelajaran yang sudah mulai berjalan.

Wajahnya terlihat sumringah kala menceritakan itu.

“Alhamdulillah, Nda bangga sama Kaka,” timpalku bahagia.

“Terus tingkatkan prestasimu, Nak. Jangan lupa untuk terus murojaah Al-Qur’an dan menambah hapalannya.” Begitu nasihatku pada Kaka.

Aku bahagia bukan semata karena mendengar prestasi yang diraihnya, tapi karena ia bisa mengikuti pelajaran di pondok.

Mengingat isi surat pertamanya di awal waktu lalu, ia mengeluh tidak begitu betah tinggal di pondok. Namun seiring waktu, sepertinya ia mulai bisa menerima keadaan. Dengan bisa mengikuti pelajaran, itu artinya ia sudah menerima takdirnya.

Aku lega dan bahagia. Ibu mana yang tak khawatir dengan keadaan anaknya. Betahkah ia di tempat barunya? Bagaimana kehidupannya di sana? Bisakah ia menyesuaikan diri? Dan pertanyaan-pertanyaan lain silih berganti dalam pikiranku.

Namun sepertinya itu semua kini sudah menguar bersama waktu. Kaka sudah mulai bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan pondok.

Aku dan ayahnya memberikan Kaka wejangan tentang artinya bertahan dan bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya di pondok. Ia harus mulai belajar mengatasi setiap permasalah yang ada sendiri.

Seperti curahannya mengenai kesalahan penulisan nama di name tag-nya. Ia merasa terganggu dengan kesalahan itu. Aku menyarankannya untuk menanyakan langsung ke ustazahnya agar bisa mengganti nama di name tag-nya.

Selama ini Kaka memang tergolong anak yang pendiam dan pemalu. Meski kuakui ia salah satu anak yang pandai dan disukai teman-temanya, tapi sikap cueknya menjadikan Kaka memilih diam dibanding bertanya.

Ia selalu berusaha mengatasi masalahnya sendiri, tanpa ia sadari setiap masalah itu tak selamanya harus diatasi sendiri. Adakalanya kita harus berbagi atau bertanya pada orang lain agar permasalahan yang kita hadapi bisa terselesaikan.

Aku menasihatinya agar ia terbiasa dengan hal itu. Karena saat ini, Kaka harus bisa mandiri, tanpa selalu ada campur tangan aku dan ayahnya. Semoga seiring waktu, ia bisa memahami itu.

Obrolan kami pun terhenti karena Kaka harus istirahat untuk melanjutkan kegiatan nantinya. Kami pun pamit, dan berjanji akan datang minggu depan. Sebelum berpisah, Kaka dan Ade kembali berpelukan, dan sempat kuabadikan dalam sebuah foto.

Aku lega setelah bertemu anak sulungku itu. Ia mulai menjalani kehidupan barunya dengan hati lapang. Semoga ia betah selama tinggal di pondok dan mengukir prestasi selama di sana.

Doa Nda dan Ayah selalu menyertai langkahmu, Ka. Teruslah berjuang meraih ilmu sebanyak-banyaknya dan berbahagialah, Nak.

Kami menyayangimu dengan penuh cinta.

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.