Angka enam bagian (1)

Ada apa dengan Angka Enam?

Enam adalah nomor favoritku, ada kenangan yang begitu dalam dengan angka ini. Selain sebagai angka kelahiran, angka enam juga merupakan kisah pilu yang dirasakan puluhan tahun yang lalu. Hari ini, tepatnya tanggal enam, teringat kenangan puluhan tahun yang lalu. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar.

Siang itu aku berlari bahagia dengan membawa rapor di tangan. Aku berteriak lepas. “Mih, Mih, Mih” Aku panggil ibu. Aku berlari sambil mengangkat raporku di tangan kanan. Ada rasa gembira yang kubawa saat itu pulang sekolah.

“Mih, Mih, Mih” Kuseru ulang panggilan itu. Namun tiba-tiba kuhentikan langkahku, padahal sudah tepat depan pintu. Kudengar ada yang menangis, dan berbicara. Kupelankan langkahku lalu terlihat jelas di sana ada ibuku yang sedang menangis.

Karena melihatku, lalu ibu menghapus air mata itu. Akupun pura-pura tak melihat, kuanggap tak melihat apapun. Lalu aku menghampiri sambil berlari kecil. “Mih” sambil memeluk pinggangnya aku sapa pelan.”Eh, Neng sudah pulang. Wah kayanya senang banget. Kenapa Neng?” Dengan tersenyum ibu bertanya.

Padahal aku sudah memahami yang terjadi, walaupun usiaku waktu itu baru tujuh tahun. Aku paham apa yang terjadi dan tahu bahwa ibu telah menyembunyikan sesuatu. Karena terlihat dari mata ibu yang sembab. Aku sodorkan raporku, dan berseru. “Mih, aku dapat peringkat enam.”

Ibuku tersenyum dan mengambil raporku. “Wah, hebat ya.” Kata ibu sambil membuka rapor. Namun tiba-tiba ada suara yang menyahut dari dalam kamar “Apa?, Hebat? Apanya yang hebat. Yang hebat itu peringkat satu bukan enam.

Jleb, jleb rasanya ada yang menusuk di hulu hatiku. Aku spontan terdiam mendengar ucapan itu, sambil menahan bulir air yang akan jatuh. Hangat rasanya di mata ini. Entah itu cambukan semangat atau hinaan, aku tidak tahu.

***

Waktu itu aku masih duduk di kelas satu Sekolah Dasar. Kata-kata itu rasanya kuat sekali, sehingga masih terngiang terus di telingaku. Sampai akhirnya aku berusaha agar memperoleh peringkat satu. Namun Allah belum berkehendak, aku masih memperoleh peringkat enam lagi saat caturwulan ke-2.

Aku terus belajar walaupun hanya ditemani remang-remang lampu tempel yang selalu diletakkan depan buku. Dalam kondisi serba kekurangan dan memprihatinkan aku masih semangat belajar. Tidak ada fasilitas yang mendukung untuk belajar. Tak ada meja belajar, kursi belajar, ataupun lampu belajar. Cukup lampu tempel saja aku sudah bahagia, apalagi sambil ditemani ibu di saat belajar. Hingga larut malam ibuku masih menemani, walaupun akhirnya sampai tertidur di sampingku.

“Enam, enam, kenapa harus enam lagi!” Saat tes caturwulan ke-3 berakhir dan waktu ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Aku kembali mengambil rapor sendiri, tanpa ditemani siapapun. Ibuku Sibuk dengan warung kecilnya. Ayahku, Entahlah. Aku tidak pernah melihat lagi.

Terakhir kulihat ayah, saat itu rapor pertama yang kubawa. Ini rapor yang ke-3 kubawa. Namun aku sudah tak melihat ayah. Kuanggap biasa, karena memang jarang aku bertemu ayah. Ia jarang pulang, dan kuanggap itu biasa saja. Akupun tak banyak tanya dan menuntut. Karena kuanggap bahwa ayah sibuk juga mencari nafkah untuk keluarga.

Bayangkan, kelas satu SD yang seharusnya bermain dan banyak mendapatkan perhatian. Ini sudah harus belajar memahami, kerasnya hidup. Akhirnya rapor sudah di tanganku. Ibu guruku tak pernah bertanya, kenapa tidak orang tuaku atau wali yang mengambil. Aku pun menganggap itu hal biasa, dan tak perlu mengatakan kepada guru. Aku hanya bilang orang tuaku semua sibuk.

Mih, Mih, Mih” Kupanggil kembali ibuku sambil berlari, larinya sekarang begitu ringan. Langsung kusodorkan raporku. Diambil dan dilihat langsung oleh ibuku, aku diam tidak memberitahu kalau aku mendapatkan kenaikan nilai. “Wah, keren. Nilainya bertambah bagus. Sekarang mendapat peringkat empat”. Seru ibu.

Aku tersenyum mendengar pujian ibuku. Namun mataku berkeliaran melihat isi rumah, kok sepi kemana ayahku? Padahal sudah gembira mau memperlihatkan nilaiku, walaupun belum peringkat satu. Setidaknya ada kemajuan dalam belajar. Akupun bertanya, “Mih, mana ayah?” Ibu diam saja, tapi tidak lama ibu berkata “Ayah belum pulang, kan masih siang. Biasanya malam pulangnya.”

Aku sedikit tenang, wah nanti malam akan Aku perlihatkan raporku. Siang, sore hingga magrib aku tunggu ayah di depan rumah, sampai akhirnya lupa. Aku langsung berangkat mengaji, hingga pulang mengaji, aku tak melihat keberadaan ayah di rumah. Aku tak banyak tanya mungkin esok ada, atau lusa atau nanti.

***

Sampai akhirnya aku kelas enam. Aku tak sempat memperlihatkan raporku lagi. Padahal saat kenaikan kelas itu, naik kelas 2, aku rajin belajar dan akhirnya mendapatkan peringkat satu hingga kelas enam. Namun itu sia-sia, karena ayahku sudah tak melihat raporku lagi. Ayahku sudah tak pernah ada di rumah. Entahlah aku tak paham urusan orang tua.

Hingga kini, setiap mengambil rapor, sudah tak ada lari, sudah tak ada teriakan, sudah tak ada bahagia. Bahkan hadiah yang kubawa ke rumah pun sudah tak ada maknanya. Biasa saja, hambar rasanya. Sekolah Dasar pun berlalu begitu saja. Masa-masa usia emas, masa pada tahapan, seharusnya aku diberlakukan layaknya raja di usiaku itu. Apapun seharusnya kudapatkan. semua tak pernah kurasakan. Apalagi kasih sayang ayah? Entahlah, Entahlah di mana keberadaannya waktu itu.

Enam tahun telah berlalu, Alhamdulillah aku mendapatkan nilai tertinggi saat keluar dari sekolah dasar. Dengan nilai itu, bisa tidakkah aku melanjutkan ke sekolah favoritku?

Tunggu kisah selanjutnya.

***

rumahmediagrup/suratmisupriyadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.