Tentang Kita Kemarin (2)

Tentang Kita Kemarin (2)

“Aura, tunggu ….”

Baru saja Aura hendak meraih daun pintu ketika sebuah panggilan menghentikan langkahnya.

Aura bergeming, ia tak menoleh. Enggan rasanya berbicara dengan orang yang selama ini telah mengambil perhatian semua keluarga.

Aulia tersenyum saat ia dengan kursi rodanya telah berada di hadapan Aura.

“Aura, minggu depan hari ulang tahun kita. Mami tadi tanya sama aku, mau seperti apa perayaan ulang tahun kita nanti? Menurut kamu gimana?”

Aura tersenyum sinis.

“Aku engga tertarik,” jawab Aura acuh.

“Kenapa? Ini ‘kan hari ulang tahun kita.”

“Mami hanya bertanya padamu ‘kan? Jadi rayakan saja sendiri hari ulang tahunmu.”

Aura segera mengambil daun pintu, membukanya dan masuk ke kemar, meninggalkan Aulia yang termenung sendirian.

“Aura ….”

Panggilan Aulia dari balik pintu masih terdengar nyaring.

“Ayo kita bicara,” ucap Aulia lirih.

“Apa lagi yang mau dibicarakan? Pergilah, aku mau istirahat,” teriak Aura dari dalam kamar.

“Apa kamu marah sama aku? Kamu selalu saja sinis kalau bicara denganku.”

Aura tak menjawab. Dibukanya novel berjudul Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, karya Tere Liye yang baru dipinjamnya dari perpustakaan umum.

Baru beberapa kalimat ia baca, suara lirih itu terdengar lagi.

“Aku mohon Aura, sebentar saja, izinkan aku bicara denganmu.”

Aura merasa kesal dengan rengekan Aulia. Dengan kasar ia lemparkan novel dalam genggamannya ke atas kasur, lalu beranjak melangkah menuju pintu.

“Mau bicara apa lagi?” tanya Aura ketus saat pintu terbuka. Wajahnya sudah memerah tanda tak suka.

“Boleh aku masuk ke kamarmu?”

Aura menatap Aulia menyelidik.

‘Mau apa sebenarnya gadis kutu buku ini? Sudah diberi kesempatan untuk bicara, malah meminta lebih’ gerutu Aura dalam hatinya.

Namun akhirnya Aura pun memberi jalan pada Aulia untuk masuk ke kamar.

Aulia tampak melihat-lihat keadaan kamar yang dipenuhi dengan gambar-gambar karya Aura sendiri. Ya, Aura memang menyukai gambar. Hampir sebagian waktu yang dimiliki ia pergunakan untuk menggambar. Itu merupakan ekspresi dari dirinya sendiri.

“Gambar-gambarmu bagus,” puji Aulia seraya memperhatikan sebuah gambar perempuan dengan rambut pendek sebahu, duduk membelakangi sambil menatap keluar jendela. Suasana remang menghiasi gambar itu.

“Jangan basa-basi, katakan saja apa yang mau kamu bicarakan.”

Aura seolah tak peduli dengan pujian yang dilontarkan Aulia. Ia ingin segera mendengar apa yang ingin dikatakan saudara kembarnya itu, lalu secepat mungkin mengeluarkan gadis itu dari kamarnya.

“Ingatkah kamu saat kita masih duduk di bangku taman kanak-kanak? Aku selalu berlindung padamu saat teman-teman mengejekku karena seringnya mimisan. Saat itu, kamu selalu siap melindungiku dan memarahi mereka.”

Aura ikut menerawang ke masa silam, masa di mana ia masih selalu bersama Aulia, kapan pun dan di mana pun mereka berada.

“Namun saat aku dinyatakan lumpuh dan harus menggunakan kursi roda, justru kamu malah menjauh dariku. Kamu tak pernah lagi menjadi pelindungku, padahal saat itulah aku sangat membutuhkanmu. Kamu seperti enggan bila berada di dekatku.”

Aulia menarik napasnya dalam, menundukkan kepalanya sesaat, lalu menatap Aura yang bergeming di kursi depan meja belajar.

“Aku seringkali bertanya, kenapa kamu menjauh dariku? Dalam segala hal kau tak pernah mau disamakan denganku. Aku merasa, kau tak senang aku menjadi saudaramu.”

Aura menatap Aulia tajam, kedua netranya sudah berkaca-kaca, dadanya bergemuruh tak menentu seperti siap menumpahkan lahar panas.

“Kamu ingin tahu kenapa aku bersikap seperti itu padamu?”

Aulia kembali menatap Aura. Pandangannya begitu sayu, membuat Aura merasa kasihan sekaligus benci.

“Jika kamu mau mengatakannya, aku akan sangat senang.”

Aura tersenyum sinis, mengedarkan pandangan ke sekitar, sambil sesekali mengusap basah di pipi.

“Semenjak kamu dinyatakan lumpuh, kamu selalu jadi nomor satu buat Mami dan Papi. Aku seakan terlupakan. Semua hal selalu menjadi perbandingan antara aku dan kamu, dan sudah pasti kamu menjadi yang terbaik di mata mereka. Aku semakin terpinggirkan. Aku benci itu, aku benci kamu yang sudah menyita semua perhatian Mami dan Papi.”

Aura kembali menghapus air mata yang tak berhenti mengalir. Sementara Aulia yang menangis dalam diam, hanya memperhatikan curahan saudara kembarnya.

“Aku malah merasa sebaliknya, kau mendapat perlakuan berbeda dari Mami. Selama ini aku merasa iri denganmu yang memiliki banyak teman, sementara aku, diharuskan pulang tepat waktu oleh Mami dan tak diizinkan untuk keluar rumah setelah pulang sekolah. Aku tak punya kebebasan seperti dirimu. Aku merasa kesepian.”

Hening tercipta beberapa saat. Mereka larut dalam tangisan masing-masing. Aura meremas kedua tangan di atas pangkuannya.

“Maafkan aku, Aura. Maaf jika selama ini aku menjadi orang yang sudah merebut perhatian Mami dan Papi. Maaf jika aku sudah menghalangi kebahagiaanmu.”

Aulia tersedu dengan kepala yang tertunduk. Rasa sesal menyergap jiwanya. Jika saja ia tak terlambat menyadari, mungkin saat ini Aura masih menjadi pelindungnya.

“Aku mohon, maafkan aku, Aura.”

“Sudahlah, Aulia, kau tak usah merasa bersalah seperti itu. Aku sudah terbiasa dengan kehidupanku saat ini. Jadi, nikmati saja hidupmu sekarang.”

“Bagaimana aku bisa menikmati kehidupanku kalau kamu tersakiti. Aku lebih baik menghilang saja jika kamu merasa terluka karenaku.”

“Jangan bicara seperti itu, aku sudah membiasakan diri untuk hidup mandiri. Aku hanya marah karena kau lebih istimewa dibanding aku.”

“Maukah kamu memperbaiki hubungan kita?”

“Maksudmu?”

“Mungkin kita masih bisa bersama seperti saat kita masih di taman kanak-kanak. Bisa berjalan bersama, melakukan kegiatan juga bersama. Maukah kamu melakukan itu, Aura?”

Aura terdiam. Sesaat lalu ia masih membenci gadis itu, tapi entah kenapa saat ini ada yang menghangat di hatinya. Ia merasa iba pada Aulia. Ia menyadari jika selama ini Aulia pun merasa diperlakukan berbeda oleh Mami.

“Baiklah, kita bisa memperbaiki hubungan kita mulai sekarang,” ucap Aura memberi harapan.

Aulia tampak sumringah. Ada rona bahagia terpancar dari wajah itu.

“Bagaimana kalau besok kita pergi ke toko buku?”

“Akankah Mami mengizinkanmu pergi?” tanya Aura ragu.

“Aku akan membujuk Mami. Kamu tenang saja, untuk hal itu serahkan saja padaku.”

Aura tersenyum tipis. Ia melihat dengan jelas rasa bahagia itu dalam wajah saudara kembarnya. Sesenang itukah perasaannya?

**

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.