Balada Al, El, dan Dul (8)

Balada Al, El, dan Dul (8)

POV Bunda

Seperti biasa pada pukul 03.30 WIB alarm HP-ku berbunyi.

Aku beranjak bangun setelah mengumpulkan segenap nyawa yang tercerai berai.

Kubuka pintu kamar, tak seperti biasa tak kudengar suara meemanggilku,” Maaak … Maaaak!”

Tak kutemui seekor makhluk kecil berbulu yang biasanya akan menggelendot manja di kakiku.

Ya, kucingku, El, belum bisa mengeong meski usianya sudah 6 bulan. Mungkin karena umur dua bulan ia sudah ditinggal mati emaknya.

Ini hari kedua El tidak pulang. Ah, mungkin tidur di rumah tetangga, pikirku.

Pagi itu aku tergesa berangkat bekerja, tak sempat mencari si El. Aku pun menjalani hari-hari seperti biasa.

Sore hari menjelang magrib, kudengar kabar kalau seekor kucing dengan ciri-ciri seperti El telah dikubur oleh anak-anak tetangga. El ditemukan mati di selokan. Sepertinya sudah semalaman ia terbujur kaku di luar sana.

Air mataku deras mengucur. Akhirnya, kau menyusul emakmu juga ….

Selamat jalan, El.

Terima kasih sering menemaniku saat mengejar deadline di malam-malam kelam

Terima kasih sudah menemani kesepianku di sepertiga malam.

Berkumpul dan berbahagialah dengan Emak di sana.

Elena kecil dalam kenangan

Cilacap, 8 Juli 2020

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.